SuaraKawan.com
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 15

Detak jantung Agung Sedayu meningkat tajam. Bibirnya mengatup rapat dengan rahang terlihat mengeras. Meski demikian, belum ada keinginan darinya untuk membantah.

“Benarkah ucapan itu, Ngger?” Ki Patih Mandaraka masih bersikap tenang., walau kawan Ki Tunggul Pitu bersuara sangat meyakinkan. Bahkan ia meneruskan kalimatnya, “Andaikata yang dikatakannya memang benar dan sungguh terjadi, aku harap semua itu dilambari dengan keyakinan yang benar. Kepercayaan kami padamu belum bergeser sejengkal dari sebelumnya.”

Kata-kata Ki Patih Mandaraka melontarkan murid Kiai Gringsing ke masa lalu. Sewaktu Kiai Gringsing mengenalkannya pertama kali pada urusan pembukaan wilaya, sewaktu Raden Ngabehi Loring Pasar memulai usaha membuka Alas Mentaok, sewaktu Agung Sedayu memeras keringat dan darah ketika merintis pendirian barak pasukan khusus, serta peristiwa-peristiwa yang menggetarkan dada lainnya.

Agung Sedayu memberi perhatian penuh pada ucapan Ki Patih Mandaraka, kemudian katanya,  “Benar, Ki Patih. Saya hanya bersikap dan berbuat apabila sepenuhnya saya meyakini kebenaran. Sejumlah siasat dan cara pun saya tempuh untuk membuktikan keyakinan. Tentang ucapan orang itu, saya yakin Ki Patih mempunyai pertimbangan tersendiri.”

“Apakah engkau takut mengakuinya di depan Ki Juru Martani, Agung Sedayu? Sebaiknya engkau mengerti bahwa tidak ada orang yang melihatmu di sisi yang berlawanan dengan kesaksian dari kami. Ada? Jika ada, siapa?” kata kawan Ki Tunggul Pitu. “Engkau tidak akan sanggup mendatangkan orang itu bila ada. Swandaru? Sudah seharusnya kau hapus nama itu dari kehidupanmu. Ia tidak layak menyandang martabat sebagai murid Kiai Gringsing. Walau demikian, aku harus mengakui Swandaru mempunyai kecakapan lebih pada tata kelola wilayah. Bahkan, Swandaru lebih baik darimu.”

“Ki Sanak,” kata Ki Patih Mandaraka, “mungkin engkau berkata benar dan sesuai dengan kenyataan bahwa Agung Sedayu memang berkhianat. Dan tentu saja engkau berharap bahwa kami akan menerima kesaksian itu. Tetapi, siapakah Ki Sanak dan siapa pula teman Ki Sanak yang bernama Ki Tunggul Pitu? Kalian berdua bersikap seperti lalat hijau yang terbang mendekat lalu mengelilingi bangkai kelinci. Mungkin benar pula yang dikatakan Agung Sedayu bahwa kalian adalah sampah. Apakah kalian adalah sampah atau lalat, sudah pasti itu bukan wewenang kami untuk menjawab. Kalian berada pada dua sisi, sebagai penipu dan pewarta. Sebaiknya Ki Sanak berterus terang, siapakah Ki Sanak berdua?”

Keberadaan Kiai Plered di tangan orang yang berdiri di samping Ki Tunggul Pitu memunculkan rasa khawatir dalam hatinya. Kematangan Ki Patih Mandaraka benar-benar teruji pada pertemuan di Slumpring. Patih yang disegani oleh mendiang Panembahan Senapati itu terlihat masih menguasai keadaan walau belum dapat disebut mengendalikan. Perkembangan akan menjadi liar dan tidak menentu bila salah satu dari mereka atau Agung Sedayu mengambil jalan lain, pikir Ki Patih. Ia menjadi saksi kehebatan tombak keramat ketika berada di tangan Danang Sutawijaya sewaktu di Jipang. Walau Kiai Plered belum terlambari kekuatan cadangan dari pengikut Raden Atmandaru, tetapi daya yang memancar darinya telah menjangkau empat orang di sekitarnya. Ki Patih Mandaraka mengetahui perkembangan itu.

Kemudian Agung Sedayu berkata lirih, “Apabila kalian menginginkan aku agar mengakui semua yang kalian nyatakan, tentu aku dapat melakukannya di depan Ki Patih Mandaraka. Sebagian ucapanmu menggambarkan keinginan bahwa kalian ingin menyingkirkan aku. Kalian dapat menyangkal bila kalian mau.” Sekilas Agung Sedayu melirik pada tangan lawan bicaranya yang menggenggam Kiai Plered. Sesuatu yang istimewa menarik hatinya.

“Kami dapat menyangkal sebagaimana engkau mengingkari kenyataan. Agung Sedayu, dengarkan baik-baik,” kata Ki Tunggul Pitu, “sudah pasti engkau merasa puas dengan pencapaian yang kau raih sepanjang hidupmu. Namun engkau harus menyadari satu hal, kelak Raden Mas Jolang akan menyingkirkanmu dengan satu alasan, yaitu usia. Lalu engkau memilih tempat yang jauh dari hingar bingar senjata dan riuh suara orang berbisik di balik tirai-tirai yang tipis. Hari-harimu akan dipenuhi dengan berita-berita yang tidak semestinya didengar oleh pahlawan sepertimu. Dalam hal ini, aku memberimu jaminan bahwa Raden Atmandaru akan membuatmu tetap berharga dan terhormat walau engkau telah beranjak usia. Lihat orang tua yang berada di sampingmu, mengapa orang dungu itu menyuruh lelaki tua untuk menempuh perjalanan jauh? Apakah Mataram telah kehabisan orang yang dapat dipercaya? Mengapa Ki Juru Martani yang harus berjalan menemuimu? Mengapa bukan engkau yang diperintahkan menghadap lelaki dungu itu di Mataram?”

Kebesaran wibawa dan pengaruh dari orang yang memerintah mereka dapat dirasakan hanya dengan melihat barisan para dayang. Aku pikir – atas landasan yang dikemukakan Dewi Rengganis – mereka sama sekali tidak memperlihatkan kelemahan Rakai Panangkaran. 

Sang Maharani - Nir Wuk Tanpa Jalu

“Ki Patih, aku tahu engkau dapat membicarakan masa depan Agung Sedayu dengan Raden Mas Jolang. Bagaimana seseorang yang berkuasa tinggi dapat menepikan lelaki muda linuwih seperti Agung Sedayu dengan kedudukan rangga di daerah perbukitan? Apakah Mas Jolang begitu gentar pada kemampuan hebat Agung Sedayu, lalu menjauhkannya dari lingkar kekuasaan? Sebelum engkau memberi jawaban, aku ingin mengulang agar engkau teringat bagaimana Kiai Plered tiba-tiba menghilang dari bangsal pusaka,” tukas kawan Ki Tunggul Pitu. Selesai mengungkapkan maksudnya, kawan Ki Tunggul Pitu memperlihatkan raut wajah yang tegas menggambarkan tekadnya untuk tidak mendengar bantahan.  Tidak perlu mendengar baginya bila dua orang Mataram membantah. Ia merasa kedudukannya adalah tempat memohon yang terbaik bagi Agung Sedayu, selain mengincar dua lutut Ki Patih Mandaraka agar bersimpuh di depannya.

Kata-kata yang dilepaskan oleh pengikut Raden Atmandaru adalah serangan bertubi-tubi yang tidak memberi kelonggaran untuk bernapas. Agung Sedayu tidak dapat menentang semua ucapan mereka dengan mentah-mentah. “Aku membutuhkan bukti agar waktu tidak berlaku kejam padaku,” kata hati Agung Sedayu. Yang menjadi pusat pikirannya bukan tentang membantah lisan dua orang penghadang, melainkan kekuatan sesungguhnya dari Kiai Plered. Meski ia belum pernah mendengar, tetapi jika tombak pendek beralih pada orang yang tidak berhak maka itu pertanda sangat buruk. Menurut perhitungannya, hidup Ki Patih Mandaraka benar-benar berada di ujung tangkai berduri.

Ki Patih Mandaraka tajam menatap wajah Agung Sedayu. “Terserah padamu, Ngger. Aku tidak ingin memaksamu mengaku atau berbohong.”

“Mereka berhasil menyudutkan kita, Ki Patih. Saya adalah sasaran terbaik sebelum benar-benar menghentikan Ki Patih. Saya adalah seorang senapati. Saya masih dapat menahan diri selagi mereka menebar kebohongan di depan kaki Ki Patih. Namun, merendahkan dan mengatakan yang buruk tentang Panembahan Hanykrawati adalah persoalan yang berbeda. Ini bukan lagi persoalan mengakui atau mengingkari.”

Related posts

Merebut Mataram 3

Ki Banjar Asman

Merebut Mataram 11

Ki Banjar Asman

Merebut Mataram 2

Ki Banjar Asman