SuaraKawan.com
Bab 3 Membidik

Membidik 51

“Masuklah kalian ke dalam bilik!” perlahan Agung Sedayu memberi perintah. Jejak kaki Agung Sedayu ketika menghampiri pintu begitu ringan. Sebuah tanda bahwa ia tengah mengetrapkan ilmu menyerap bunyi-bunyian. Dari celah daun pintu, Agung Sedayu dapat melihat wajah pengetuk pintu secara penuh. “Aku belum sepenuhnya mengingat wajah orang itu sebelumnya,” pikir Agung Sedayu.

Perlahan senapati pasukan khusus itu membuka pintu, kemudian katanya, “Siapakah Ki Sanak?”

“Saya seorang pedagang dan wajar jika Ki Rangga kurang mengenali saya. Saya baru beberapa bulan ditunjuk Ki Swandaru sebagai bebahu di kademangan ini. Orang memanggil saya dengan sebutan Ki Wasana,” jawab Ki Wasana dengan wajah sungguh-sungguh.

Sejenak Agung Sedayu melihat kedalaman pandang mata lawan bicaranya. Ketajaman daya ingat Agung Sedayu segera menguak tabir yang menangkup orang yang bernama Ki Wasana. “Ya. Aku ingat. Aku memang jarang melihatnya di sekitar pedukuhan induk, tetapi aku ingat Sekar Mirah pernah menyebut nama itu sebagai pedagang yang banyak mengedari wilayah-wilayah yang sangat jauh. Ia tidak terlihat sedang berpura-pura,” demikian pikir Agung Sedayu.

“Baiklah,” katanya kemudian, “tetapi maaf, Ki Sanak. Saya tidak dapat memberi jalan masuk pada Ki Sanak.” Demikian Agung Sedayu berkata sambil beringsut dua langkah menyelinap pintu yang tidak dibukanya lebar.

“Apakah tidak ada bahaya di tempat ini?”

Setelah daun pintu kembali terkatup, Agung Sedayu menarik lengan Ki Wasana dan mereka bergeser ke tempat sedikit lebih gelap.

“Saya sama sekali tidak mengerti maksud kata Ki Sanak tentang bahaya. Dapatkah Ki Sanak mengatakan itu?”

“Apa yang terjadi di kademangan ini?”

Agung Sedayu menatap heran, setelah termangu sejenak, ia berkata, “Ki Sanak. Saya tidak mengerti maksud Ki Sanak yang datang ke rumah Ki Demang di awal malam ini. Dan saya semakin tidak mengerti arah pembicaraan ini ketika Ki Sanak bertanya apa yang terjadi. Ki Wasana, kita tidak sedang bermain-main.”

Ki Wasana mundur setapak. Ia menatap lekat wajah dan sorot mata Agung Sedayu. “Baiklah, Ki Rangga. Saya mungkin sedang bingung atau apa… Hanya saja, saya seolah kehilangan pikiran saat melihat Ki Rangga dari balik pintu. Saya mohon maaf.”

“Lupakan,” Agung Sedayu memberi tekanan pada suaranya, “Ki Sanak. Tentu saja bukan mengenai persoalan remeh saat Ki Sanak melewati regol, menaiki beranda lalu mengetuk pintu. Katakan!”

“Ki Rangga. Menjelang senja saya mendengar pembicaraan sejumlah orang yang melintasi pategalan milik saya yang berada di ujung utara pedukuhan induk.”

Agung Sedayu tidak lekas memberi tanggapan, tetapi ia dapat memperkirakan letak pategalan Ki Wasana, yaitu berada sebelah menyebelah dengan jalur yang dilewatinya ketika menuju Sangkal Putung.

“Saya mendengarkan.” Pendek Agung Sedayu mengucap kata.

“Sekilas saya mendengar tentang pembagian sawah dan pategalan. Walau tidak terjadi kericuhan, tetapi saya mempunyai perasaan buruk mengenai orang-orang itu.”

“Tidak terjadi kericuhan? Sebentar, apakah mereka sedang beradu pendapat atau bagaimana? Ki Wasana, dapatkah saya membuat gambaran dari penjelasan Ki Sanak?”

“Ya, mereka berbantahan tetapi tidak dengan suara keras.”

“Bagaimana Ki Wasana tahu lalu menyimpulkan tidak ricuh?”

“Ki Rangga, saya mendengarnya begitu jelas. Kami hanya berjarak belasan langkah. Bahkan saya dapat mendekati mereka dan melihat saling dorong di antara mereka. Tetapi, saya mengatakan sebenarnya bahwa mereka tidak berbicara dengan keras.”

Agung Sedayu merenungkan kata-kata Ki Wasana sambil bersandar pada dinding papan. Kabut mulai merambati udara Sangkal Putung. Suasana serasa mencekam ketika hujan rintik begitu halus menimpa permukaan tanah.

“Ki Rangga,” suara Ki Wasana tiba-tiba memecah udara sewaktu keadaan menjadi hening beberapa saat, “mungkinkah mereka adalah orang-orang yang banyak disebut-sebut pedagang sebagai ancaman bagi Sangkal Putung?”

Agung Sedayu memandang wajah Ki Wasana, lalu bertanya, “Kapankan para pedagang bertanya tentang itu pada Ki Sanak?”

“Tidak begitu lama dari malam ini.”

“Aku akan mengatakan sebenarnya,” kata Agung Sedayu setelah menghela napas panjang, “mereka berkata benar. Dan kita tidak memiliki waktu untuk membuat persiapan atau mencegah kawanan itu memasuki kademangan ini.”

Rona pucat Ki Wasana segera menghias wajahnya, lalu dengan nada bergetar, ia berkata, “Seberapa sempit yang tersisa?”

Agung Sedayu menjawabnya dengan isyarat tangan.

“Aku harus menghubungi pemimpin pengawal,” sahut Ki Wasana, “Ki Rangga harus melakukan sesuatu untuk mengatasi bahaya ini. Jika Ki Rangga terlambat, tentu korban akan berjatuhan. Orang-orang akan banyak meregang nyawa.” Ia menundukkan wajah kemudian bergumam, “Masa lalu akan menghampiri Sangkal Putung. Seperti laskar Jipang belasan tahun lalu, seperti itu pula sekelompok orang itu akan menghadapkan taring ke Sangkal Putung.”

Related posts

Membidik 34

Ki Banjar Asman

Membidik 60

Ki Banjar Asman

Membidik 41

Ki Banjar Asman