SuaraKawan.com
Bab 3 Membidik

Membidik 50

“Aku mencemaskan dua orang tua kita, Kakang. Begitu pula keadaan Sekar Mirah yang kelihatannya sedikit mengalami kepayahan sejak tiba di pedukuhan ini.”

Mendengar ucapan Pandan Wangi, Sekar Mirah pun berkata, “Tidak ada yang perlu Mbokayu khawatirkan tentang kami berdua. Kami akan baik-baik saja. Semoga selalu begitu.”

Ki Rangga Agung Sedayu menarik napas panjang. Katanya, “Kita semua tidak dapat mengelak dari kenyataan dan segala sesuatu yang terkait dengannya. Aku pun mengalami suasana hati yang sama dengan kalian. Semoga Yang Maha Agung tidak sekalipun melepas tangan-Nya dari kita.”

Pandan Wangi membenamkan wajah ke dalam tangkup tangannya. Sesekali terdengar ia menarik napas dalam-dalam. “Kakang. Apakah kita dapat menghindari ancaman yang Kakang katakan sedang mengarahkan taringnya ke tempat ini?”

“Wangi, pedukuhan ini adalah tanah yang menjadi tempat anakmu menumpahkan darah pertama kali. Di tempat ini pula, kita semua meletakkan harapan di masa depan. Jika engkau bertanya tentang pengelakkan, mungkin yang menjadi satu-satunya jalan adalah menyerahkan pedukuhan pada mereka. Kemudian melihat orang-orang itu berbondong-bondong mendatangi Mataram lalu merusak segala tatanan yang telah terbina. Ketika masa itu tiba dan kita menjadi orang yang hidup di dalamnya, lalu bagaimana dengan mimpi yang telah diwujudkan melalui harapan? Wangi, kita semua telah bekerja keras untuk itu.”

“Apakah itu dapat diartikan sebagai pengkhianatan?”

“Tentu saja Swandaru tidak akan dapat menerima keputusan itu, meski dengan berbalik arah, dapat menyelamatkan ratusan nyawa.”

Pandan Wangi mendesah pelan sambil menyebut nama suaminya. “Mungkinkah itu juga akan menjadi contoh bagi anak kami?”

“Bukan tidak mungkin, Wangi. Dan mungkin juga keturunan Swandaru di masa depan akan menganggap buruk keputusan itu.” Agung Sedayu lurus memandang wajah Pandan Wangi, lalu katanya, “Kita tidak dapat menguasai hati orang lain dan cabang-cabang pemikirannya. Yang aku takutkan adalah mereka menganggap kita sebagai orang-orang yang rela menjual tanah leluhur dengan harga murah.”

“Kakang benar,” ucap Sekar Mirah sambil meraih lengan Pandan Wangi.

“Waktu kita sangat sempit,” sahut Pandan Wangi dengan nada cemas.

“Masih ada waktu tersisa meski kita katakan sempit,” kata Agung Sedayu penuh ketegasan. “Kita mempunyai banyak segi yang dapat memberikan keuntungan.”

“Dan kita pun tidak dapat menutup segala kelemahan,” ucap Pandan Wangi.

“Kelemahan yang dapat kita tukar dengan kemenangan.” Semangat Agung Sedayu secara nyata terlontar melalui kalimat pendeknya. Kemudian ia mengungkapkan niatnya,  “Aku akan pergi ke banjar. Dalam perjalanan ke sana, aku akan mendatangi rumah kepala regu pengawal yang searah dengan kepergianku.”

Pandan Wangi mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkinkah pedukuhan ini dipenuhi dengan orang-orang yang menjadi penghubung?”

“Tentu saja. Mereka tidak mungkin melepaskan pengawasan sedikit pun. Untuk itulah, aku membutuhkan bantuan kalian.”

“Apapun itu, kami telah siap.” Sekar Mirah mengepalkan tangan dan diikuti anggukkan kepala Pandan Wangi. Sekar Mirah melanjutkan kata-katanya, “Bagaimanapun Sangkal Putung tidak berada dalam keadaan yang sama dengan Tanah Perdikan. Di sini, kita tidak mempunyai orang-orang berkemampuan tinggi sebagaimana halnya Tanah Perdikan. Di tempat ini pun, kita tidak berbagi udara yang sama dengan prajurit Mataram.”

“Bukankah ada barak prajurit di Jati Anom?” sergah Pandan Wangi.

“Kecepatan mereka untuk datang ke tempat ini tidak akan sama dengan pasukan khusus ke pedukuhan induk di Tanah Perdikan, Mbokayu,” sahut pelan Sekar Mirah.

Pandan Wangi adalah seorang wanita yang mempuyai kekerasan hati dan keinginan kuat untuk membela pendapatnya. Maka yang terjadi kemudian adalah kedua perempuan yang duduk di hadapan Agung Sedayu semakin menghangatkan ruangan dengan pikiran-pikiran yang saling bersilang. Pemimpin pasukan khusus itu hanya memandang sedikit perdebatan yang terjadi antara istrinya dan Pandan Wangi. Sedikit yang ia pikirkan tentang perdebatan itu dan Agung Sedayu sengaja membiarkan mereka agar mendapatkan waktu untuk menyusun rencana.

“Baiklah, senja telah lewat dan aku pikir sebaiknya kita letakkan pokok persoalan agar dapat melihatnya secara menyeluruh,” Agung Sedayu berkata dengan tiba-tiba.

Demikianlah, Sekar Mirah dan Pandan Wangi pun menghentikan saling silang pendapat di antara mereka. Sebelum Agung Sedayu memasuki pembicaraan mengenai rancang bangun pertahanan yang telah dipikirkan, ketukan perlahan terdengar dari bagian depan rumah Ki Demang.

“Belum larut. Tetapi tidak semestinya ada orang datang ke rumah ini selagi kakang Swandaru tidak berada di tempat,” bisik Pandan Wangi.

Related posts

Membidik 37

Ki Banjar Asman

Membidik 40

Ki Banjar Asman

Membidik 30

Ki Banjar Asman