SuaraKawan.com
Bab 3 Membidik

Membidik 49

Semoga memang seperti yang ia katakan tentang perasaannya, meski masih ada kejanggaan di baik sorot matanya, demikian pikiran Ki Demang Sangkal Putung. Lalu dengan suara bergetar, ia berkata, “Agung Sedayu. Aku tidak menjadi saksi, dan tidak ada seorang pun di ruang ini yang menyaksikan perkelahian kalian dengan orang-orang yang aku sebut sebagai penyerang. Meskipun begitu, kepercayaan kami padamu tidaklah berkurang. Sebagai seorang demang, dan sepanjang Swandaru belum kembali ke Sangkal Putung, apakah engkau mempunyai keberatan jika mengambil alih tanggung jawab keamanan pedukuhan ini?”

“Apakah itu berarti sebuah perintah, Ki Demang?” Agung Sedayu mengerutkan kening. ia tidak begitu saja menerima tongkat peralihan dari Ki Demang.

Ki Demang memandang Pandan Wangi sekilas, seolah meminta persetujuan dari menantunya. Sinar mata yang sama pun ia sampaikan pada Sekar Mirah.

Raut wajah Pandan Wangi seketika menjadi tegang. Ia membayangkan benturan keras yang segera datang menerjang Sangkal Putung. Sementara itu Sekar Mirah menyembunyikan muka sambil membelai bagian perut. Di atas pembaringannya, sedikitpun Sekar Mirah tidak mempunyai keberatan terhadap permintaan ayahnya. Walaupun demikian, ia memandang Pandan Wangi adalah orang yang berhak menentukan orang yang dianggap dapat bertanggung jawab.

“Wangi,” bertanya Ki Demang, “apakah engkau mempunyai keberatan?”

Kemudian, “Kakang Agung Sedayu,” kata Pandan Wangi, “kita adalah pendatang di tanah ini. Untuk masa yang cukup lama, kita berdua beralih menjadi penghuni wilayah subur yang dikelilingi bentangan pegunungan. Sawah yang membujur dari timur ke barat maupun pategalan yang melintang utara ke selatan, itu semua tidak tumbuh dengan sendirinya. Pedukuhan ini dikelilingi sumber-sumber makanan yang tidak ada habisnya. Begitu pun kantong-kantong air yang tidak mengering. Itu yang kita dengar dari mereka yang lahir di sini, itu pula yang menahan kita untuk pergi dari tempat ini.”

“Wangi,” desis Agung Sedayu. Ia mengatupkan bibir ketika melihat gerak tangan Sekar Mirah yang memintanya untuk meneruskan kata-kata.

“Atas alasan itu pula, saya ingin Kakang menerima sepenuh hati kuasa yang diberikan Ki Demang,” Pandan Wangi mengatakan itu dengan mata berkaca-kaca. Jauh di dalam hatinya, ia sudah merasa Swandaru tidak akan kembali pulang selamanya. Sedikit penolakan ia lakukan pada bisik hati yang mengatakan demikian, tetapi Pandan Wangi tidak ingin Agung Sedayu memimpin Sangkal Putung dengan setengah hati.

“Lakukan, Kakang. Lakukan yang sudah semestinya Kakang lakukan.” Dorongan Sekar Mirah turut memengaruhi kekuatan hati Agung Sedayu.

Agung Sedayu memandang wajah istrinya dengan sepenuh rasa. Sejenak kemudian ia merenungkan rencana setelah meminta keterangan Ki Demang mengenai keadaan para pengawal pedukuhan.

“Apakah para pengawal masih tegar berlatih, Ki Demang?” tanya Agung Sedayu sesaat setelah Nyi Demang undur diri untuk memasuki biliknya.

“Walaupun ada kemunduran setelah Swandaru menuju Tanah Perdikan, tetapi untuk semua lini, aku kira mereka masih menjaga kemampuan.”

“Berapa waktu yang kita miliki hingga para pengawal dapat membangun kesiapan diri?” Pandan Wangi sedikit bergeser lebih mendekati senapati Mataram.

“Tidak banyak sisa yang dapat kita gunakan,” jawab Agung Sedayu, “mungkin sehari atau dua hari lagi sebelum bahaya itu datang.”

“Angger Sedayu, apakah bahaya itu lebih mencekam dibandingkan dengan laskar Pajang di masa lalu?”

“Ki Demang. Boleh jadi mereka mempunyai persamaan. Laskar Pajang memandang Sangkal Putung sebagai lumbung pangan yang terbaik di seluruh hamparan Merapi. Di masa lalu, laskar Macan Kepatihan tidak mempunyai keinginan untuk mengambil alih kekuasaan Pajang. Menurut pemikiran saya saat ini, laskar Jipang tidak lebih dari sekumpulan orang ingin mempunyai tempat tinggal. Namun dalam keadan sekarang, saya tidak mempunyai keterangan lebih jauh dari sekedar dugaan, bahwa orang-orang ini pun akan menduduki Sangkal Putung dengan alasan pasokan makanan. Mereka mempunyai cita-cita yang melebihi jangkauan Macan Kepatihan.”

“Seperti apakah itu?”

“Ki Demang sering mendengar bahwa banyak usaha sebagian orang untuk merebut kekuasaan di Mataram. Maka, mereka pun tak lebih dari orang-orang yang berhasrat kuat menggantikan kedudukan Panembahan hanykrawati.”

“Oh!” Ki Demang menghela napas panjang. Sedikit bergumam, ia mengatakan secara singkat mengenai perputaran arus kekuasaan. “Selamanya. Mereka yang ingin menjadi raja, mereka yang telah ditetapkan garis kehidupan sebagai raja dan yang menjauhi kedudukan sebagai raja akan terus menerus bermunculan.”

Masa senja ragawi Ki Demang telah tiba dan itu menjadi lebih parah ketika ia mengetahui keadaan Swandaru. Yang terjadi kemudian adalah Ki Demang menyerahkan rencana dan keputusan sepenuhnya pada Agung Sedayu. Lalu Ki Demang pun menyusul istrinya yang terlebih dulu mengambil masa untuk istirahat.

“Tidak seharusnya beliau berdua mendapatkan ancaman besar pada masa-masa seperti ini. Kesehatan dan ketahanan keduanya telah jauh menurun,” desah Pandan Wangi dengan kelopak mata yang telah basah.

Sementara itu, Agung Sedayu hanya mampu menatap punggung Ki Demang yang semakin jauh darinya.

Related posts

Membidik 36

Ki Banjar Asman

Membidik 58

Ki Banjar Asman

Membidik 48

Ki Banjar Asman