SuaraKawan.com
Bab 1 Senja Langit Mataram

Senja Langit Mataram 5

Gerakan demi gerakan dari unsur perguruan Sekar Jagad terlihat mantap dan mengagumkan, seiring teriakan-teriakan serempak pada setiap perubahan gerakan yang mereka lakukan.

Namun kegiatan itu tiba-tiba terhenti ketika orang yang menjadi pembimbing mereka mengangkat  tangannya tinggi-tinggi. Suasana pun lengang. Pembimbing itu pun menatap kedatangan keenam orang itu seperti termangu-mangu.  “Siapa keempat orang itu?” desisnya dalam hati. Kemudian pembimbing itu tergopoh-gopoh menghampiri keenam pemuda yang sebentar telah memasuki halaman padepokan.

Wirantaka kemudian meloncat dari punggung kudanya, ucapnya,  “Paman Resa Demung.”

“Wirantaka, apakah kau sudah menemukan Jaka Tole?” sahut Ki Resa Demung.

“Sudah, Paman. Anak itu sedang berjalan menggiring domba-dombanya menuju ke sini.”

Ki Resa Demung mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu memandang satu per satu keempat pemuda yang belum dikenalinya itu. “Siapa mereka ini?”

“Mereka adalah anak-anak Perguruan Randu Wangi dari Alas Roban.”

“Randu Wangi?” desis Ki Resa Demung

“Sebenarlah demikian, Paman,” sahut Jaladara yang serta merta maju mendekat, “kami anak murid Kiai Rangsang Wangi. Namaku Jaladara dan ketiga orang saudaraku ini Galih Soca, Anggada dan Sancaka”

“O, jadi kalian murid-murid Randu Wangi.” Ki Resa Demung kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu katanya pula, “Adakah kedatangan kalian membawa pesan Kiai Rangsang Wangi untuk Ki Gede Sekar Jagad?”

“Pesan yang tidak terlalu penting, Paman, kecuali kami hanya diperintah guru untuk menghadap Ki Gede.”

“Tapi sayang, Ngger, sejak lepas wayah surup kemarin Ki Gede berada dalam sanggar pribadinya dan sampai sekarang belum keluar. Karena itu jika kalian ingin menghadap tentu harus menunggu dalam waktu yang aku sendiri tidak tahu kapan Ki Gede keluar dari sanggar.”

“Tidak apa-apa, Paman, kami akan menunggunya,” tegas Jaladara.

“Baiklah, biarlah Wirantaka yang akan mengantar kalian ke pringgitan,”  lanjut Ki Resa Demung.

Demikianlah keempat murid perguruan Randu Wangi berjalan mengikuti langkah Wirantaka menuju satu bangunan sisi sebelah barat padepokan.Yang mana bangunan itu memang sengaja diperuntukkan untuk tamu-tamu yang mungkin singgah.

“Silahkan Kakang Jaladara, kalian bisa menunggu di gandhok ini,  Namun seperti apa yang dikatakan paman Demung, kapan guru akan keluar sanggar aku juga tidak tahu/”

“Tidak apa-apa adi Wirantaka kami akan sabar menunggu Ki Gede sampai waktunya keluar sanggar.”

“Baiklah jika demikian aku mohon diri, biarlah nanti aku mengutus beberapa cantrik untuk melayani keperluan kalian di sini”.

Waktu semakin menggelincir. Tak terasa matahari semakin mendekati masa tenggelam. Namun sampai pada wayah surup kembali tiba, Ki Gede Sekar Jagad pun belum menampakkan dirinya. Guru besar Padepokan Sekar Jagad itu nampaknya masih melakukan satu kegiatan di dalam sanggar. Namun keempat murid perguruan Randu Wangi itu masih terlihat menunggu di pringgitan itu. Meski masih terlihat sabar lambat laun mereka merasa jengah pula menunggu dalam waktu yang tidak dapat diperkirakannya itu.

Namun semua harus dijalaninya seperti pesan Kyai Rangsang Wangi – guru mereka. Bahwasanya mereka harus menghadap Ki Gede Sekar Jagad berkaitan dengan maksud kepergian mereka.

Sampai pada suatu saat keempat murid perguruan Randu Wangi itu merasa lega ketika seseorang terlihat berjalan mendekati pringgitan di mana kini mereka berada.  Langit yang mulai remang-remang membuat keempatnya menjadi tidak begitu jelas siapa sosok yang datang itu. Baru pada saat semakin dekat keempat murid Padepokan Randu Wangi itu dapat melihat dengan jelas wajah orang yang mendatanginya tersebut.

Jaladara mengerutkan wajahnya demi melihat wajah orang itu. Raut wajah yang terlihat polos dengan tatapan mata yang lembut meskipun wajah itu begitu berat untuk menguntai senyum. Suaranya yang halus dan datar menyiratkan kerendahan hatinya. Akan tetapi bukan itu yang kemudian membuat Jaladara dan ketiga saudaranya itu termangu-mangu. Sosoknya yang masih terlihat baru menginjak remaja itulah yang menjadi perhatiannya. Dan orang itu tidak lain adalah seorang anak gembala yang dijumpainya di jalan bulak panjang beberapa saat sebelum anak murid perguruan Randu Wangiitu sampai di tempat itu.

“Kau?” desis Jaladara.

“Ya, Tuan. Aku anak penggembala itu.”

“Jadi kau juga murid perguruan ini?”

“Aku hanyalah cantrik di sini tuan, tugasku membantu segala keperluan padepokan sebatas yang aku bisa, termasuk mengiring ternak terutama domba-domba untuk merumput.”

“Lalu siapa namamu?” lanjut Jaladara.

“Aku sendiri tidak tahu nama asliku siapa tuan, namun orang-orang kademangan ini, juga di padepokan   memanggilku Jaka Thole”

“Ah, kau ini aneh, Le.. baru sekarang aku melihat ada orang yang tidak tau namanya sendiri,”  tukas Jaladara.

“Tidak apa-apan, aku pun tidak terlalu perduli dengan nama. Dipanggil dengan nama Jaka Thole pun aku senang, karena bagiku nama hanyalah tetenger,”-jawab Jaka Thole. Lalu sambungnya, “Kedatanganku  kemari hendak mempersilahkan Tuan-tuan sekalian ke pakiwan jika ingin membersihkan badan. Aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya.”

Related posts

Senja Langit Mataram 2

Ki Ras Haris Ph

Senja Langit Mataram 4

Redaksi Surabaya

Senja Langit Mataram 6

Redaksi Surabaya