SuaraKawan.com
Opini - Politik

Pergantian Panglima TNI

Setelah sekian lama bertanya tanya tentang situasi politik dalam negeri. Akhirnya terjawab sudah. “ Andika Perkasa, itu menantu dari Hendropriyono. Semua tahulah, Pak Hendro itu orangnya Megawati. Loyalis teruji. Tapi memang kompetensinya tidak perlu dipertanyakan. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat TNI. Ia merupakan lulusan George Washingto nUniversity dan National Defense University. Ia juga pernah memimpin sejumlah lembaga di bawah TNI AD sebelum menjadi jenderal penuh pada tahun 2018,“ kata teman mengomentari terpilihnya Andika sebagai Panglima TNI.
Tetapi itu hanya berlangsung 1 tahun. Karena faktor usia pensiun. Dalam setahun itu persiapan sudah dibuat untuk mendukung agenda 2024. Desember 2022, akan diganti. Kemungkinan besar penggantinya adalah Dudung, yang kemungkinan besar juga akan terpilih sebagai KASAD menggantikan Andika Perkasa. Kalau akhirnya Dudung jadi Panglima ABRI setelah Andika, maka jelas sudah peta politik : bahwa PDIP masih sangat lead dalam konstelasi politik di negeri ini. Mengapa? Semua tahu kalau Dudung adalah jenderal yang sangat nasionalis, yang pasti diback up oleh PDIP.
Saya berasumsi liar mencoba membaca jalan pikiran Megawati. Kemungkinan Andika akan jadi pilihan PDIP untuk sebagai wakil presiden. Mengapa? Megawati berani pilih ulama untuk mendampingi Jokowi dalam Pilpres 2019, tetapi tidak efektif membendung politk identitas. Kalau akhirnya pilihan kepada TNI, itu juga dengan tujuan sama, yaitu membendung politik Identitas. Andika populer di kalangan Ulama. Dia dekat dengan semua tokoh agama.
Tinggal sekarang siapa Presidennya? Walau sudah ada wacana mengusung Puan atau Ganjar, saya belum bisa pastikan Ganjar atau Puan. Karena faktor pertimbangan politik mengusung Presiden itu bukan hanya soal elektabilitas, tetapi juga acceptabilitas dan kompromi dengan partai koalisi. Megawati akan sangat hati hati bersikap. Makanya sampai sekarang Megawati masih diam.
Polemik soal Puan atau Ganjar, keliatannya merugikan PDIP,  tetapi sebenarnya Mega punya pertimbangan tersendiri membiarkan polemik itu. Kita lihat nanti tahun 2022. Apakah Anies dilanjutkan sebagai Pjs Gubernur setelah habis masa jabatannya atau digantikan orang lain? Ini Indikasi untuk kita bisa berasumsi siapa capres pilihan PDIP setelah Jokowi habis masa jabatannya.
#dari EJB

Related posts

Bisnis Kreatif versus Bisnis Rente

Redaksi Surabaya

Fokuskan Kampus pada Tujuan Ini!

Redaksi Surabaya

Pernyataan MUI Soal Latar Belakang Keorganisasian Zain An-Najah Dipertanyakan

Redaksi Surabaya