SuaraKawan.com
Opini - Politik

GIGO….garbage in garbage out.

GIGO….garbage in garbage out.

Merdeka!

Relawan Indonesia Bersatu, resmi melaporkan seorang akademisi dan temannya ke Polda Metro Jaya pada Senin (31/7), atas dugaan menghina Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan kata-kata kasar.
Seperti biasa presiden Jokowi tidak pernah menanggapi penghinaan ataupun umpatan yang ditujukan kepada dirinya.
Anjing menggonggong, kafilah berlalu: membiarkan orang lain berbicara, mencemooh atau mempergunjingkan. Tetapi tidak menghiraukanya sama sekali.

Umpatan adalah penggunaan kata yang seringkali dianggap kasar, cabul, atau melanggar budaya, menurut beberapa agama, hal itu merupakan dosa.
Umpatan bisa dianggap sebagai ekspresi perasaan yang kuat terhadap sesuatu.

Penggunaan kata kasar atau tabu, atau yang lebih dikenal sebagai umpatan, sering dilihat sebagai tanda bahwa pembicara memiliki sedikit kosa kata, dan tidak dapat mengekspresikan diri dengan cara yang sopan.
Penelitian telah menunjukkan, bahwa mengumpat sebenarnya menunjukkan ke tidak mampuan pelaku menggunakan bahasa dengan cerdas dan tepat.

Mengumpat sering digunakan untuk menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap sosok yang dianggap “besar”, atau yang menyiratkan sesuatu yang pantas dihormati.

Dalam kelompok yang berbudaya, mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar yang merendahkan orang lain menunjukkan bahwa telah terjadi pelanggaran norma etiket oleh pengumpat. Bahkan bila pelaku terbukti sangat sering mengeluarkan umpatan , maka hal ini menunjukkan kepribadian yang gagal dalam menginternalisasi keberadaban sehingga pelaku secara psikologis tetap tinggal dalam dunia kebiadaban.

Dalam agama Islam, penggunaan kata-kata kotor adalah haram. Selain itu, ketidaksopanan dan fitnah dianggap tindakan tidak bermoral.

Dalam agama Kristen, penggunaan bahasa kotor dikutuk sebagai dosa.
Alkitab memerintahkan “Jangan menggunakan bahasa kotor atau kasar. Biarkan semua yang Anda katakan menjadi baik dan bermanfaat, sehingga kata-kata Anda menjadi penyemangat bagi mereka yang mendengarnya”.

Studi yang dipublikasikan di Lingua, menunjukkan bahwa penggunaan kata-kata tabu dan kasar dapat sangat memengaruhi cara kita berpikir, bertindak, dan berhubungan satu sama lain.
Orang sering mengasosiasikan mengumpat dengan katarsis yaitu pelepasan emosi yang kuat.

Penelitian ilmu saraf menunjukkan bahwa mengumpat mungkin terletak di bagian otak yang berbeda dari daerah bicara lainnya. Secara khusus, mengumpat kemungkinan mengaktifkan bagian dari “sistem limbik” (termasuk fitur yang dikenal sebagai ganglia basal dan amigdala), yang menyangkut aspek ingatan dan pemrosesan emosi yang bersifat naluriah dan sulit untuk dihambat.
Hal ini menjelaskan mengapa orang yang menderita kerusakan otak dan sulit berbicara masih mampu mengumpat.

Kata-kata umpatan dapat digunakan untuk berbagai alasan, termasuk untuk mendapatkan reaksi tertentu dari orang lain.
Biasanya umpatan dipakai untuk mengungkapkan kondisi frustrasi, kemarahan, atau keterkejutan

Sumpah serapah yang bersifat menghina bisa merupakan keinginan untuk menyakiti seseorang, sehingga tidak heran jika kata-kata itu sering menjadi ciri utama dan penting dari ujaran kebencian, pelecehan verbal, dan pelecehan seksual.

Umpatan memiliki efek yang negatif, lalu timbul pertanyaan : “ Dari mana umpatan itu mendapatkan kekuatannya?”
Hal yang menarik, ketika kita mendengar kata umpatan dalam bahasa asing, kata itu tampak seperti kata lain yang tidak memiliki arti dan tidak akan menghasilkan emosi apapun, tidak ada arti khusus tentang kata itu sendiri yang secara universal menyinggung perasaan.

Apakah mengumpat selalu membawa konsekuensi yang tidak menyenangkan, seperti hukuman, atau ada manfaatnya juga?
Penelitian menunjukkan bahwa mengumpat terkadang dapat membantu orang untuk menguatkan ikatan emosional, bila dilakukan oleh individu yang telah mengenal akrab satu sama lain untuk mengekspresikan kegembiraan bukan kebencian.

Berdasarkan data yang ada, orang dewasa sebelumnya telah mempelajari kata-kata umpatan dari orang tua, teman sebaya, dan saudara kandung, bukan dari media massa.
GIGO… “garbage in, garbage out”
Jika sampah yang masuk, maka sampah yang keluar.
Itulah yang terjadi pada akademisi yang senang mengeluarkan “sampah” simpanan kata kasar yang dimilikinya kepada presiden Jokowi karena frustrasi tidak pernah ditanggapi.

“Mulutmu adalah harimaumu.
Segala perkataan yang diucapkan apabila tidak dipikirkan dahulu akan dapat merugikan diri sendiri”.

 

Retno Triani Soekonjono
Psikolog

Related posts

Rapat Pleno Golkar, Membahas Pengganti Azis Syamsuddin?

Redaksi Surabaya

Popularitas Ganjar Pranowo Melesat Membuat Megawati Khawatir?

Redaksi Surabaya

ProGib Dukung Prabowo-Ganjar Jadi Capres dan Cawapres

redaksi