SuaraKawan.com
Bab 9 Pertempuran Panarukan

Panarukan 10

Hyang Menak Gudra pun mengangguk kemudian berkata pelan, ”Ki Tambak Langon telah menyediakan dirinya untuk menjadi orang yang pertama. Ia akan didampingi oleh Banyak Kitri dan Semambung.”

Dua alis Gagak Panji bertemu saat mendengar nama Semambung disebut oleh penguasa Blambangan.  ”Sejak kapan Semambung berada di Panarukan?”

“Ia datang bersama pasukan Demak,” jawab Hyang Menak.

“Aku ingin bertemu dengannya,” kata Gagak Panji.

“Apakah kau ingin tahu bagaimana cara ia menembus rapat barisan kapal Demak?” Mpu Badandan tersenyum.

Gagak Panji tertawa kecil lalu menjawab, ”Tentu saja, Guru. Semambung selalu mempunyai cara yang menarik.” Mpu Badandan bernapas lega melihat Gagak Panji masih dapat mengembangkan senyum meski ia tahu bahwa sorot mata Gagak Panji masih menyisakan kemuraman.

Gagak Panji pun kemudian menceritakan isi pertemuannya dengan Raden Trenggana. Ia tidak melewatkan satu bagian pun termasuk keadaan di dalam bilik khusus yang ditempati Raden Trenggana. Hyang Menak Gudra bertukar pandang dengan Mpu Badandan ketika Gagak Panji mengatakan pesan khusus Raden Trenggana.

“Ia berdiri sekokoh karang dalam pendapatnya,” desah Hyang Menak Gudra.

Air muka Mpu Badandan terlihat tenang ketika mengucap perintah, ”Katakan pada kawan-kawanmu untuk segera bersiap, Ngger.”

Tanpa melihat gurunya, Gagak Panji bangkit dari duduk lantas melangkah lebar keluar ruang pertemuan khusus para senopati. Ia berkata pada dua prajurit jaga, ”Kumandangkan perintah untuk bersiap!” Mereka pun bergegas keluar dari gardu lalu meniup terompet panjang.

Pangeran Benawa menarik napas sambil memejamkan mata. Ia sedikit menggerakkan kepala lalu berkata, “Apakah mungkin itu semua akan menjadi penerang bagi saya?”

 

Pangeran Benawa

Gagak Panji berpapasan dengan empat orang senopati yang dipimpin Ra Kayumas saat ia melangkah melewati gardu jaga. Ra Kayumas berhenti sejenak sambil memandang wajah Gagak Panji lalu tersenyum kemudian melanjutkan langkah menemui Hyang Menak beserta tiga orang temannya. Gagak Panji tidak ingin menduga mengenai yang akan dilakukan oleh Ra Kayumas, ia memilih untuk berada dalam lingkar para prajurit Blambangan yang berlarian memenuhi hamparan pasir sepanjang pantai Panarukan.

Hyang Menak memandang Ra Kayumas dengan penuh pertanyaan setelah Ra Kayumas menghadap padanya dan menyatakan kehendaknya. “Apakah benar ini merupakan keinginan para prajurit, Kayumas?”

“Begitulah, Hyang Menak. Keinginan ini tiba-tiba disampaikan pada saya beberapa saat setelah Gagak Panji memasuki bilik ini.”

“Apa yang menjadi sebab yang begitu kuat hingga mereka percaya pada Gagak Panji?”

Ra Kayumas mengerling pada senopati yang berada disampingnya. Ia hanya melihat mereka bertiga mengangguk. Ra Kayumas menarik napas panjang. Kemudian ia berkata, ”Selain karena mereka terpukau dengan cara Gagak Panji mendatangi kapal Raden Trenggana, mereka juga telah mendengar perbuatan Gagak Panji ketika masih bersama Demak saat menundukkan beberapa kadipaten.”

“Ra Kayumas, apakah tidak ada khawatir dalam diri kalian bahwa Gagak Panji dapat saja berbalik arah  lalu meratakan Panarukan? Ada alasan baginya untuk berbuat seperti itu, karena ia adalah prajurit Demak. Kalian wajib mengingat bahwa seorang pengkhianat selalu menyimpan kemungkinan untuk mengkhianati majikan yang baru.”

“Kita bukan majikan bagi Gagak Panji, Hyang Menak,” berkata Ra Kayumas sambil melirik Mpu Badandan. Lalu ia menambahkan, ”Keberadaan Mpu Badandan di Blambangan adalah sebuah jawaban bagi kami,  Blambangan bukanlah majikan bagi Ki Rangga. Saya kira beliau memihak Blambangan disertai satu alasan yang sangat kuat. Hingga beliau rela menghadapi kemungkinan dihukum mati oleh penguasa Demak.”

Pada saat itu, Mpu Badandan lebih banyak mengambil sikap sebagai pendengar. Ia tidak membenarkan ataupun mengingatkan pendapat Ra Kayumas maupun Hyang Menak. Mpu Badandan tahu bahwa keputusan mengangkat Gagak Panji sebagai panglima utama dalam menghadapi Demak adalah wewenang penuh Hyang Menak.

“Mpu, apakah Mpu mempunyai keberatan atau sebuah gambaran mengenai penetapan Gagak Panji sebagai panglima?” Hyang Menak menatap lurus Mpu Badandan.

“Tidak ada seorang pun yang akan menentang keputusan seorang pemimpin Blambangan,” lirih berkata Mpu Badandan.

Hyang Menak berganti pandang dengan sorot mata menusuk ke dalam jantung Ra Kyumas dan tiga senopati lainnya. Ia membutuhkan waktu untuk membuat keputusan yang sangat penting. ”Baiklah. Bersegeralah kalian kembali ke pasukan. Kami akan berada di sana sesaat lagi.”

Related posts

Panarukan 8

Ki Banjar Asman

Panarukan – 2

Ki Banjar Asman

Panarukan 27

Redaksi Surabaya