SuaraKawan.com
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 55

Dan Ki Demang Brumbung, kurang dari sekejap, menyerbu tiga orang yang berada di depan Sukra dengan serangan seperti seekor ayam jantan mengadu jalu. Menggebrak dengan sepasang lengan mengembang, bergantian menghantam bagian kepala tiga lawan. Tidak ada umpatan dari mulut mereka karena tertutup oleh teriakan Sukra yang mengobarkan semangat perang dalam dirinya sendiri. Nyaris segenap orang – yang berada di belakang tiga orang tadi – terpaku menyaksikan kelebat bayangan Sukra. Masing-masing tangan Sukra menggenggam anak panah yang mendesing, menyambar silang, menghantam lurus dari atas ke bawah dan bibirnya tetap menggaungkan gejolak di dalam tubuhnya.

Barisan rapat yang terbentuk mula-mula pun terkoyak oleh serangan kilat yang dilakukan Sukra. Gebrakan Sukra seperti seekor elang yang meluncur dari ketinggian. Dua batang anak panah pun seolah berubah menjadi kuku tajam yang mencabik mangsa. Dalam waktu itu, unsur-unsur gerak yang diajarkan Glagah Putih dan dimatangkan di bawah petunjuk Agung Sedayu teralirkan sangat baik. Keadaan itu meningkat hebat ketika tenaga cadangan limpahan Ki Patih Mandaraka mulai bergelombang memenuhi urat halus pengawal Tanah Perdikan itu. Maka, yang terjadi kemudian adalah tiap orang dari barisan pengepung kelabakan membendung Sukra yang bertarung sangat garang dan trengginas. Mereka seolah kehilangan akal dan pendengaran tak lagi berjalan wajar. Pekik Ki Panji Secamerti yang memberi aba-aba agar mereka kembali dalam gelar pun tak kunjung sampai pada ambang telinga anak buahnya.

Apa yang sedang terjadi dalam kerumunan itu?

Sambil mengerahkan kemampuan yang nyaris tiada banding, Ki Patih juga menghalangi gelombang suara Ki Panji Secamerti. Bibir Ki Patih bergerak-gerak seolah sedang bicara sendiri, padahal tidak! Patih Mataram itu sedang menuntun Sukra melalui suara yang hanya dapat didengar anak muda Menoreh sendiri. Sukra – meski terkejut dan cemas ketika pertama kali mendengar bisikan Ki Patih – kembali tenang setelah Ki Patih memastikan tidak ada orang lain yang dapat mendengar ucapannya. Bagaimana  mengalirkan tenaga cadangan dan meringankan tubuh? Inilah Ki Patih Mandaraka dengan cara luar biasa, tiba-tiba memotong lintasan udara yang menjadi rambatan suara Ki Panji Secamerti, sekaligus menempatkan Sukra ke dalam golongan orang-orang yang dapat dianggap mumpuni.  

Maka jalan pikiran anak buah Ki Panji Secamerti pun menemui lorong buntu. Meski terus bergerak, tetapi itu hanya untuk menghindari serangan Sukra yang rumit diterka dan sangat berkelas! Belum ada perintah yang dapat menyelamatkan para pengepung dari amukan Sukra, karena dalam waktu bersamaan, Ki Lurah Plaosan menyerang Ki Panji Secamerti dengan gagah berani.

“Prajurit!” bentak Ki Panji Secamerti, “aku adalah seorang panji!”

“Maaf, aku sedang mengalami gagal pendengaran,” sahut Ki Lurah Plaosan dengan tenang.

Terang saja, bagi Ki Secamerti,  kata-kata itu seperti jerami yang disiram minyak lalu terjilat nyala api.

Tak lama kemudian dua prajurit kawakan Mataram pun saling menyerang dan berusaha saling menjatuhkan lawan dalam perkelahian sengit. Lingkaran dua orang yang pernah sama-sama berada dalam satu ikatan di bawah Kepatihan menjadi pemandangan yang berbeda.

Salah seorang dari anak buah Ki Secamerti yang berusia sepantaran Glagah Putih berusaha mengambil alih kendali. Ia meneriakkan sebuah nama gelar yang berlainan, tetapi kebanyakan mereka telah paham dan mengerti maksudnya. Tak lama kemudian susunan gelar pun berubah. Perlahan dan pasti mereka dapat menata barisan, mengarahkan Sukra pada ruang lebih sempit dengan siasat yang cukup jitu.

“Aku tidak datang ke Mataram untuk menjadi goblok seperti kalian,” kata Sukra dengan raut wajah penuh arti. Ia sengaja tidak mengeraskan suara agar petunjuk-petunjuk Ki Patih yang masih berlangsung tidak luput dari pendengarannya karena kalah dengan suaranya sendiri.

“Sebaliknya, aku bergabung dengan mereka agar dapat memperbudak orang goblok sepertimu! Lihatlah keadaanmu, bukankah itu kedangkalan cara berpikir dengan bersedia menjadi pengganti Ki Juru Martani? Sebesar apa isi otakmu?” sahut salah seorang anak buah Ki Panji Secamerti. Dan seperti itulah yang ditanamkan oleh Raden Atmandaru bahwa bergabung dalam gerakannya adalah sikap cemerlang. Maka, oleh sebab itu, setiap pengeroyok tiga utusan Ki Patih Mandaraka memandang rendah pada lawan mereka. Menganggap orang lain tidak akan mampu menerima jangkauan panjang penglihatan Raden Atmandaru, dan mereka sepertinya akan habis-habisan berjuang demi kejayaan yang dicita-citakan orang yang bergelar Panembahan Tanpa Bayangan.

Sementara di tempat tidak jauh dari perkelahian Sukra, hampir sepanjang waktu pertempuran, sejak pertama mereka membenturkan kekuatan, Ki Manikmaya dan Nyi Ageng Banyak Patra sama-sama belum mengetahui letak kelemahan di antara mereka. Sulit, sangat sulit mengukur ketinggian ilmu Nyi Ageng Banyak Patra yang kini bergelung dengan lingkaran tenaga cadangan yang seolah mempunyai wujud seperti gelombang lautan, pikir Ki Manikmaya. Setiap kali ia menghentakkan tenaga untuk menghantam Nyi Banyak Patra, maka dinding tak terlihat akan memantulkannya. Begitu pula yang dialami oleh adik Panembahan Senapati, setiap kali lawannya melepaskan serangan tak kasat mata, kulit dan tubuhnya bergetar ketika kekuatan mereka bertabrakan.

Tiba-tiba tubuh Nyi Ageng Banyak Patra lenyap! Lenggang gemulai seorang penari mendadak berubah menjadi bayangan hijau, sesuai warna pakaiannya, yang bertempur pada garis yang sama! Nyi Banyak Patra berloncatan sambil menendang dan memukul lawan dari jarak jauh. Ketika itu, debu melayang searah dengan garis pukulan perempuan yang pernah berguru di Banyubiru. Mengepul dan mengepul, membumbung tinggi lalu menutup lingkar perkelahiannya dari pandang mata biasa!

Perubahan tata gerak Nyi Ageng Banyak Patra segera diikuti oleh musuhnya, Ki Manikmaya. Terjadi kemudian pertarungan kanuragan dalam jarak jauh. Ki Manikmaya, dengan pengetahuan yang disadap tanpa sepengetahuan Ki Kebo Amiluhur, sanggup memadatkan udara yang beredar di sekitarnya, lalu mengubahnya menjadi bola-bola udara yang pejal sebelum dilontarkan pada Nyi Ageng Banyak Patra. Atas penguasaan ilmu itu, Padepokan Banyubiru mengusirnya lalu membuang namanya dari susunan cantrik yang pernah berguru pada Ki Gede Umbul Wardaya.

Meski demikian, Ki Manikmaya justru tertantang untuk menunjukkan kesalahan pada keputusan padepokan. Hasratnya semakin menggebu untuk menjadi yang terbaik di tlatah Jawa, terutama Mataram. Demi tujuan itu, demi menjadi yang terbaik dari seluruh cantrik padepokan, sebagai pijakan pertama, Ki Manikmaya harus dapat menjadikan Nyi Ageng Banyak Patra sebagai pecundang.  Bila guru Kinasih telah rata dengan tanah, maka Panembahan Hanykrawati dan Ki Patih Mandaraka akan ringan terhempas oleh kemampuannya. Oleh karenanya, ia tidak segan menghentak ilmunya. Bola-bola udara yang pejal, yang menjadi serangan pertamanya akan menjadi bukti lain bahwa ia tidak lagi mempunyai perasaan pada murid utama Ki Umbul Wardaya.

Ketegangan meningkat tajam, bahkan lebih tepat disebut berubah menjadi mengerikan ketika permukaan jalan dipenuhi retakan-retakan memanjang atau semacam parit selebar jari telunjuk. Kekuatan gesekan udara atau tekanan yang terjadi dari benturan-benturan tenaga cadangan tergambar jelas di sekitar mereka. Dalam waktu beberapa kejapan mata, dentuman suara menggelegar dari gelanggang pertarungan dua orang yang pernah menjadi saudara seperguruan. Bunyi ledakan mendentum berulang-ulang setiap kali tenaga mereka bertubrukan di udara.

Debu semakin rapat dan jarak pandang semakin terbatas. Dalam keadaan biasa, seseorang akan sulit melihat telapak tangannya sendiri kecuali disertai pengerahan ilmu atau seberkas penerangan. Seseorang dapat kehilangan nyawa karena sesak napas bila berada di dalam lingkaran perang tanding yang sangat hebat itu. Kulitnya dapat terkelupas karena kerikil dan debu akan mengelilinginya lalu menggores dengan kecepatan tinggi! 

Kuda-kuda penarik kereta meringkik, mengangkat kaki-kaki depan tetapi tak berdaya untuk kabur. Binatang berotot kuat itu memperlihatkan kegelisahan yang sangat kuat. Bisa jadi, kuda-kuda itu telah mempunyai bayangan bahwa mereka akan menjadi korban dari pertarungan yang sengit dan garang. Namun, Nyi Ageng Banyak Patra seperti dapat mengerti kegelisahan kuda-kuda yang berasal dari Kepatihan. Sekejap ia melenting sangat tinggi dengan kelebat bayangan yang sulit dicapai penglihatan Ki Manikmaya, serangkum angin membentuk dinding, melindungi kuda-kuda dari terjangan-terjangan tenaga yang berhamburan liar. Melalui satu tepukan lembut dari ketinggian, Nyi Banyak Patra mendorong kuda-kuda itu hingga keluar dari batas lingkaran perang tanding. “Satu beban terselesaikan,” desis lega keluar dari hati Nyi Ageng Banyak Patra.

Pertunjukan ilmu yang menggelepar tak tertahan. Menggetarkan tetapi tidak membuat mereka beralih kedudukan. Mengerikan. Seolah semua benda sedang menghamburkan diri bersama daun-daun kering yang tertiup angin jalanan.

Related posts

Jati Anom Obong 44

Ki Banjar Asman

Wedhus Gembel 2

Ki Banjar Asman

Ini Kemauanku

Ki Banjar Asman