SuaraKawan.com
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 23

Agung Sedayu meloncat mundur, keningnya berkerut, sejenak ia terlihat seperti kebingungan karena tiba-tiba begitu mudah ditembus senjata lawan. Terpesona, barangkali Agung Sedayu terbius oleh kekuatan yang meledak-ledak dari ujung Kiai Plered. Jarak masih sehasta tetapi lapisan ilmu kebalnya tersayat. Pertarungan belum selesai! Ia menghela napas pendek, kemudian menghimpun kekuatan dahsyat yang bergolak namun belum menemukan jalan keluar.

Dengan segenap kekuatan jiwani yang terserak, Agung Sedayu berusaha mengangkat semangatnya yang sempat rebah.

“Agung Sedayu,” bertanya Ki Sekar Tawang, “apakah engkau benar-benar bosan hidup?” Senyum tipis merekah di bibir lelaki itu. Kemudian lanjutnya, “Dan sebaiknya engkau tetap hidup sambil menyaksikan penderitaan yang akan menimpa keluargamu.”

Tubuh senapati pasukan khusus Mataram telah basah dengan keringat dan sedikit cairan merah mewarnai pakaiannya. Udara di Slumpring serasa dipenuhi bau amis meski hanya sepercik yang keluar dari salah satu dari mereka.

Dua lingkaran itu bukan perkelahian biasa.

Ketika Ki Sekar Tawang akan menggerakkan bibir untuk bicara lagi, tiba-tiba ia sadar bahwa lawannya tengah melakukan sesuatu di luar kebiasaan. Agung Sedayu memaku tubuh sambil menghunjamkan pandangan pada sepasang kaki Ki Sekar Tawang. “Apakah seperti ini kemampuannya?” bertanya Ki Sekar Tawang pada hatinya. Pada waktu itu, walaupun Agung Sedayu telah merendahkan tubuh namun belum memperlihatkan tanda akan menyerang, Ki Sekar Tawang justru menjadi goyah. Dalam pandangannya, dari tubuh Agung Sedayu seolah memancar kekuatan yang mengerikan dan sedang menyerangnya dengan cara luar biasa. Sebuah kekuatan yang sanggup meremukkan dinding cadas Merapi. Ini bukan mimpi! pikir Ki Sekar Tawang. Kekuatan aneh itu merambat dari bagian telapak kaki, lalu cepat menuju ke pangkal dua kakinya.

Baca juga : Sepenggal Kisah Kita

Ki Sekar Tawang sedang menerima serangan dari sepasang mata Agung Sedayu dengan kekuatan penuh. Namun ia segera dapat membebaskan diri lalu melompat surut, mengambil jarak sejauh empat langkah dari pusat lingkaran. Sorot gentar sekilas berhamburan keluar dari dua bola matanya. Teringatlah olehnya tentang kekuatan yang berasal dari pandangan Agung Sedayu. “Ilmu iblis!” katanya dengan geram di dalam hati

Ketika lawannya menjauh, Agung Sedayu meningkatkan lapisan ilmu kebalnya. Udara yang mengelilingi tubuhnya terasa panas. Ia mencengkeram pangkal cambuk semakin erat, segenap tenaga teralirkan pada bagian itu, tata gerak Agung Sedayu telah menunjukkan bahwa ia mengambil sikap menyerang. Seperti burung elang, ia melesat dengan kecepatan mengagumkan!

Ia menyambut serangan Agung Sedayu dengan lengkingan tinggi dan seram ketika Kiai Plered mulai diputar dan terayun, menantang terjangan Agung Sedayu dengan terbuka.

Sorak kemenangan Ki Sekar Tawang tertunda.

Pertempuran kembali membara, tapi Agung Sedayu bergerak penuh perhitungan. Ia harus bertarung lebih berhati-hati agar kesalahan sebelumnya tidak terulang. Ki Sekar Tawang pun tetap mempertahankan caranya. Masih melontarkan kata-kata buruk yang diulang-ulang. Namun Agung Sedayu telah menyesuaikan diri dan berusaha mengabaikan seluruh gejolak perasaannya. Pikirnya, jika ia larut dalam aliran serang berupa ucapan keji yang dilontarkan musuhnya, maka itu seperti membiarkan dirinya terbunuh tanpa perlawanan. Oleh karena itu, nyaris tidak ada lagi gelisah dalam hati Agung Sedayu. Keraguan yang mengungkung jiwanya pun terangkat dan menjadi setipis kabut pagi ketika cahaya matahari datang.

Pemimpin pasukan khusus itu mengayun cambuk, memutar senjatanya menjadi perisai yang sanggup melindunginya dari kejaran Kiai Plered di tangan Ki Sekar Tawang. Dua senjata itu terlihat begulung-gulung, saling melibat dan membelit dengan cara-cara yang sulit dinalar. Tak jarang keluar bunyi ledakan dari lingkar perkelahian mereka. Meski jarang terlihat, tetapi bunga-bunga api sekali-kali terpercik ketika dua senjata berbeda sifat itu saling berbenturan. Angin yang keluar dari kibasan-kibasan dua senjata menyambar ke segala arah. Bila membentur permukaan tanah atau jalan, maka sebuah lubang pasti terlihat. Semakin banyak lubang di sekitar mereka, di bawah kaki-kaki mereka, pertarungan semakin kuat dan meningkat hebat.

Kiai Plered, walau jarang, memendarkan warna tertentu dari batangnya. Sedangkan ujung cambuk Agung Sedayu pun terlihat sinar yang mencuat. Dari kejauhan, sinar dari dua senjata terlihat seperti ribuan bintang yang terbang melingkar karena kecepatan lengan  yang saling menyambar.

Benteng kokoh telah terbentuk dan mengitari Agung Sedayu, maka dari itu, tidak mudah bagi Ki Sekar Tawang dapat mengulang sayatan pada kulit musuhnya. Agung Sedayu begitu hebat memadukan dua jalur ilmu yang dikuasainya. Setiap gerakannya selalu membuka kemungkinan untuk mengalirkan serangan yang tidak dapat diduga. Dalam waktu itu, Ki Sekar Tawang masih dapat menjaga keseimbangan. Bahkan kadang-kadang ia mampu membalikkan serangan, mengejar lalu menutup arah cambuk Agung Sedayu. Meski begitu, berulang-ulang Agung Sedayu — dengan kemampuannya membaca pergerakan lawan – hampir dapat membelit pergelangan tangan Ki Sekar Tawang. Cambuk Agung Sedayu kerap mematuk dengan lambaran tenaga mendekati puncak.

Sama hal dengan Agung Sedayu, Ki Sekar Tawang menjadi lebih waspada karena lawannya kerap memperlihatkan perkembangan gerak yang sulit diterka. Berulang kali ujung cambuk musuhnya nyaris dapat merampas Kiai Plered dari tangannya.

Related posts

Merebut Mataram 25

Redaksi Surabaya

Merebut Mataram 19

Ki Banjar Asman

Merebut Mataram 10

Ki Banjar Asman