SuaraKawan.com
Bab 4 Kiai Plered

Kiai Plered 49 – Gondang Wates

Sayoga menjauhi Ki Panuju dengan loncatan panjang. Penuh keyakinan ia berusaha mengikat Ki Dirgasana. Nyi Wijil telah membekali Sayoga dengan ilmu kanuragan yang bersumber pada gerak burung srigunting, maka tubuh Sayoga pun tiba-tiba berkelebat ke segala arah sangat ringan. Bahkan, mungkin lebih ringan dari sebelumnya ketika masih berpasangan dengan Ki Panuju.  Ki Dirgasana sedikit bingung menghadapi perubahan yang sangat menyentak akal sehatnya. Meskipun pengalamannya telah meninggalkan Sayoga sangat jauh, tetapi daya terjang Sayoga tidak dapat diremehkan sama sekali. Lelaki itu banyak mengamati olah gerak lawannya yang berusia muda untuk mencari titik lemah gerak burung srigunting. Maka Ki Dirgasana lebih banyak menghindari terkaman demi terkaman Sayoga.

Ki Panuju menggeleng dengan perasaan takjub. Betapa ia melihat Sayoga menggebrak lawan dengan gerakan yang asing baginya. “Bila saja aku mempunyai waktu untuk berlatih bersamanya, mungkin tidak akan lama aku dapat bertahan,” bisik hati Ki Panuju. Kemudian ia mamalingkan tatap matanya pada lingkaran yang lain. Ia  ingin mendatangkan kerusakan sehebat angin ribut dengan bencana yang tak kalah hebat.  Ki Panuju segera menghantam tiga lawan yang berjajar, tetapi ia tidak ingin menyerang dari belakang. Ki Panuju tetaplah seorang pejantan yang gagah, maka ia membuat gerakan indah berdasarkan garis lengkung, menyerang dari samping dengan juluran cambuk yang dapat menjangkau oirang kedua dari baris tiga orang tersebut.

Teriakan Ki Sudira dapat menyelamatkan tiga anak buahnya dari lecut cambuk Ki Panuju. Bertiga segera semburat menghindar, lalu melancarkan serangan balik yang tak kalah kuat. Seorang dari mereka menghunjamkan tombak setelah tubuhnya melejit naik lalu menukik tajam. Dua orang lainnya bergeser ke samping lalu menebaskan pedang bersilang dan berlawanan.

Ki Panuju berada di tengah sebagai sasaran lunak. Sekilas Ki Panuju seperti boneka kayu di tengah sawah.

Dua kaki Ki Panuju bergerak, tubuhnya berputar ke belakang lalu bertumpu pada satu lengan, ujung cambuknya menyambut serangan yang datang dari atas kepalanya, sepasang kakinya bergerak dari samping tubuh dua musuhnya dengan gerakan yang tidak teratur. Pendek kata, Ki Panuju berputar dengan gerak sepasang kaki yang serupa baling-baling.

Dua lawannya membatalkan serangan karena Ki Panuju menyerang dengan cara mengejutkan sekali. Sedangkan mata tombak berhasil dilibat oleh ujung cambuk, lalu diputarnya, tetapi Ki Panuju gagal merampas tombak itu. Penyerangnya begitu lihai mengubah tata gerak, sehingga sepasang kakinya telah berada di bawah, mengancam dada Ki Panuju yang terbuka. Pergulatan sementara mereda. Mereka bertiga saling menjaga jarak.

Keadaan dua pasukan itu kembali seimbang ketika Ki Panuju berhasil menarik tiga orang agar mengerubutnya seperti lebah berkerumun di depan sarang.

Dharmana yang selalu menempatkan diri di balik dua atau tiga punggung pengawal  dapat menilai kedaan. “Pengawal telah tertolong untuk sementara waktu. Namun bila musuh mendapatkan bantuan, kami semua akan terbunuh di tempat ini,” Dharmana berkata dalam hati.

Tiba-tiba Sayoga melengking tinggi dan dari bibirnya keluar suara mencicit. Apakah itu mirip cicit suara anak ayam atau burung? Tidak seorang pun dapat memastikan. Yang mereka lihat adalah Sayoga mengayun pedangnya memutar, menebas silang, menusuk dan kadang-kadang menjangkau panjang. Yang mereka saksikan adalah Ki Dirgasana tidak dapat dilihat secara jelas. Hanya bayangan yang sulit diikuti pandang telanjang. Begitu hebat lelaki itu bergerak dan berkelebat di antara gulungan pedang Sayoga. Dan dua pasukan yang berseteru itu benar-benar terganggu dengan bunyi-bunyian yang terbit dari bibir Sayoga.

Pergumulan pasukan itu mengendur.

Mereka lebih sibuk menutup pendengaran daripada melanjutkan pertempuran. Ki Panuju mungkin satu-satunya orang yang dapat melonggarkan diri dari tekanan tanpa sengaja dari Sayoga. Ia berkelebat dengan putaran cambuk yang meledak-ledak dahsyat. Itu membuat keadaan dua pasukan itu semakin tersiksa. Walaupun sebenarnya Ki Panuju diuntungkan, tetapi bukan pekerjaan mudah untuk membekuk pasukan lawan.

Ki Sudira merangsek Ki Panuju dengan hunjam senjata yang ganas. Ia telah merasa resah ketika perhitungan para pemimpin mereka meleset dari harapan. Ki Sudira menjadi marah karena kehadiran Sayoga membuat rencana dan siasat mereka semburat, berantakan dan ambyar sama sekali. Memandang ulit untuk menjangkau kepandaian Sayoga, Ki Sudira menubruk Ki Panuju sebagai sasaran yang utama.

Kaki Ki Sudira terangkat tinggi, tumit berayun, mengarah pelipis Ki Panuju sedangkan pedangnya deras menyilang, menebas pinggang lawannya. Gerakan yang dilakukannya berturut-turut dengan sangat cepat itu menjadi tekanan yang sangat berat. Ki Panuju membentak, lalu menyusun pertahanan dari putaran cambuk yang sambung-menyambung. Sekejap kemudian, tampaklah dua gulungan sinar yang saling dorong dan membelit disertai bebunyian yang tak kalah menyakitkan dari Sayoga dan Ki Dirgasana.

Tiba-tiba Dharmana berteriak, memberi perintah yang mengejutkan. “Orang-orang Sangkal Putung! Mundur!”

Perintah itu memang seolah ditujukan bagi orang-orang Sangkal Putung, tetapi Sayoga pun berpikir bahwa itu berlaku juga padanya. Ia datang untuk membantu Ki Rangga dan kademangan, maka wajar bila Sayoga merasa sebagai bagian dari kademangan. Maka dari dalam hatinya, Sayoga menanggapi, “Mundur? Bukankah kita tengah berada di atas angin?” Sayoga tidak ingin mengucap bantahan atau berdebat mengenai keputusan itu. Ki Dirgasana bukan lawan yang dapat dihadapi sambil bercakap-cakap!

Tak kalah terkejut juga adalah pasukan Sangkal Putung dan Ki Panuju. Terlebih Ki Panuju yang mempunyai pengalaman di banyak medan perang. “Mundur?” bisik hatinya. Namun Ki Panuju cepat menguasai diri. Ia adalah anak buah dari Dharmana atau Marmaya meskipun Ki Panuju adalah seorang lurah prajurit. Keadaan di Gondang Wates memaksanya membuat pengecualian.

Sedikt galau dan gelisah melabrak hati orang-orang Sangkal Putung. Namun mereka tidak mempunyai pilihan, apalagi ketika suara Ki Panuju menyambar dengan menggelegar. “Mundur! Ikuti pemimpin kalian!”

Related posts

Kiai Plered 67 – Gondang Wates

Ki Banjar Asman

Kiai Plered 32 – Pedukuhan Janti

Ki Banjar Asman

Kiai Plered 39 – Pedukuhan Janti

Ki Banjar Asman