SuaraKawan.com
Bab 4 Kiai Plered

Kiai Plered 44 – Pedukuhan Janti

Gebrakan hebat Sayoga menyita perhatian Ki Dirgasana. Bahkan orang ini merasa cemas karena Sayoga melanjutkan terjangan dengan pedang kayu yang berayun membadai. Seketika ia melihat Dharmana yang merunduk dan beriap menerjangnya.

“Engkau akan mengikuti kawanmu?” seringai Ki Dirgasana telah menduga niat Dharmana.

Dharmana menjawabnya dengan sentakan cambuk ke lambung lawannya lalu diikuti hantaman dari lutut kirinya. Ki Dirgasana mengelak dengan langkah mundur dua langkah, lalu membalasnya dengan serangan balik, memukul pergelangan tangan Dharmana dengan tenaga yang sanggup mematahkan tulang lengan. Dharmana menghindar, meloncat ke samping lalu menebaskan cambuk ke bagian pinggang Ki Dirgasana.

Namun kali ini Ki Dirgasana tidak menghindar dari serangan. Ia memilih untuk mengadu tenaga, tombaknya memapas ancaman, lalu diputarnya tombak itu agar dapat membelit cambuk. Dharmana berusaha menarik cambuknya yang melilit tombak. Dikerahkannya tenaga sekuat daya, namun Ki DIrgasana terkekeh dan seolah mempermainkannya dengan tarik ulur senjata.

Dua kaki Dharmana menekuk dan tubuhnya merendah. Ia menggerakkan cambuk agar lilitannya lepas, Ki Dirgasana membalasnya dengan cara memilin batang tombak. Jari tangan Ki Dirgasana bergerak sangat cepat, tombak pun berpilin secepat gasing yang dilontarkan, belitan cambuk menjadi longgar, dan tiba-tiba Ki Dirgasana mendorong tombak!

Tombak pun melesat hebat di sela belitan cambuk yang longgar. Tertutuplah peluanga Dharmana untuk mempertahankan cambuk dari rampasan musuhnya. Bahkan, Dharmana tidak memiliki waktu untuk  menghindari tombak yang meluncur secepat kilat!

Upaya terakhir Dharmana mengangkat kaki untuk menendang batang tombak agar berganti arah, tetapi itu belum cukup. Lesatan tombak terlampau deras, maka tendangannya mengenai udara kosong! Lagipula serangan berbahaya yang disertai tenaga inti terlalu kuat untuk dibelokkan dengan tenaga wadag saja. Dharmana melemparkan tubuh ke samping, dan luka baru menganga di bagian pundaknya.

Kegigihan Dharmana memang luar biasa! Meski harus menahan pedih akibat tombak yang tertancap, Dharmana terus berjuang mendekati Sayoga dan kawan-kawannya yang lain.

“Nah!” seru gembira Ki Dirgasana saat melihat pasukan musuhnya telah berkumpul. “Ini akan menjadi lebih mudah ketika sekelompok orang lemah dan penakut telah berdekatan.” Kemudian ia memerintahkan Ki Sudira dan Ki Tarkib segera mengambil kedudukan agar rencananya berjalan lancar. Selepas itu, Ki Dirgasana membuat gerakan memutar dengan cepat. Sepasang kakinya menjadi lebih ringan sehingga kelebat tubuhnya seakan lenyap dari pandangan.

Pengawal pedukuhan terlihat kebingungan dengan perubahan gelar yang terjadi pada kubu lawan. Tanpa diminta, Sayoga berteriak pada Marmaya dan seorang lagi agar melindungi Dharmana dari terkaman-terkaman yang mungkin akan datang. Sementara ia cepat menutup lubang yang ditinggalkan mereka berdua.

Kedudukan Marmaya bergeser sedikit menjorok ke bagian tengah gelar kelompoknya. Ia lebih luas melihat perubahan yang kemudian terjadi selagi Sayoga terus memutar tubuh dengan tajam mengikuti pergerakan Ki Dirgasana.

Di tempat lain, Bunija berjuang seorang diri. Setelah membalapkan kuda pada jalan setapak melampaui tiga pekarangan, ia pun tiba di jalur pintas menuju pedukuhan induk. Sejenak ia menoleh belakang untuk memastikan tidak ada orang yang mengikutinya, kuda pun dibedal kuat, mengikuti turunan yang sedikit curam. Sayang, ia tergelincir, bergulingan dan baru berhenti di bagian terendah jalan yang berlekuk. Ia cepat bangkit dengan dera ngilu dan perih dari kulit yang memar membentur bebatuan. Sejenak ia memandang tanjakan yang tidak terlalu tajam. “Dengan kemiringan yang lebih lancip dari kuda-kuda pendapa, apakah kudaku sanggup mendakinya?” Bunija bertanya dalam hatinya sambil memeriksa keadaan hewan yang menjadi tunggangannya. Setelah memperoleh keyakinan bahwa kudanya baik-baik saja, Bunija menaikinya, menyentak tali kekang lalu merayap naik menuju pedukuhan induk.

Tetapi perjalanan itu sungguh-sungguh tak mudah. Tapak kaki kuda Bunija berkali-kali menginjak batu yang tidak menghunjam tanah cukup dalam. Tiga atau empat kali mereka terseret turun. “Apakah engkau lelah? Atau kesakitan?” tanya Bunija pada kudanya. Entah mengerti atau tidak tentang bahasa manusia, kuda itu meringkik sambil mengangkat kepala.

Bunija tertawa kesal, kemudian berkata, “Baiklah, baiklah. Kita berjalan saja kalau begitu.” Ia melompat turun lalu menuntun kuda, meski tertatih-tatih, Bunija mantap melangkahkan kaki kembali mendaki.

Keadaan sekitar jalanan yang dilalui Bunija berselimut kabut yang seolah lebih tebal dari wilayah lainnya. Tidak terlihat kerjap dari pelita atau obor yang mungkin berasal dari pondok atau gubuk kecil yang bertebaran di pategalan yang mereka lalui. Bunija tahu bahwa sebetulnya ia berharap kosong bila  mendambakan cahaya walau setitik di daerah itu. Ia berpaling ke belakang, melihat ke samping kiri dan kanan, desahnya, “Begitu sunyi. Lalu bagaimana jika tiba-tiba ada yang menyerangku?’

Tiba-tiba hatinya berdesir. Wajahnya berubah pucat ketika sekelebat bayangan hitam melintas di dekatnya, dari arah belakang. Sejenak ia merenung, lalu tersnyum, katanya pelan, “Kelelawar.”

Keadaan Bunija benar-benar berbeda. Seaktu ia masih berada di punggung kuda, ia tidak banyak mendengarkan suara selain berisik angin yang berputar-putar dekat telinganya. Pandangannya pun terpusat pada ruas jalan yang dilaluinya. Namun sekarang ia seolah banyak mendengar bunyi-bunyi yang tidak begitu jelas. Apakah itu suara orang yang tengah bercakap-cakap? Atau seruling yang mengalun di tengah malam? Bahkan, sejak kelebat hewan malam melewatinya, serasa semakin banyak bayangan yang bergerak di samping kiri dan kanan, di depan ataupun belakang lalu menghilang. Seolah malam itu, di sekitarnya mempunyai banyak ruangan yang dapat dijadikan persembunyian.

Sejenak ia berhenti, tepat di tengah-tengah tanjakan. Bunija menenangkan hati lalu meyakinkan diri bahwa semua itu adalah bayangan yang muncul dari pikirannya. Dari perasaannya. Ia menarik napas agar debar jantungnya sedikit longgar.

“Bukan apa-apa dan tidak ada apa-apa,” bisik Bunija memantapkan hati.

Ia melanjutkan perjalanan sambil berpikir atau membayangkan kejadian-kejadian yang menurutnya pantas dikenang, tetapi sudut mata Bunija menangkap pergerakan bayangan. “Adakah orang yang membayangiku?” Ia menjadi cemas namun tidak menghentikan langkahnya. Bunija tetap mengayun kaki dan sekali-kali mengelus kepala kuda untuk mengalihkan perhatian. Ia bersikap seolah tidak terjadi sesuatu di balik punggungnya.

Sedikit lagi tanjakan akan berakhir. Bunija meraba hulu senjatanya, keris berbadan lurus sepanjang lengan yang lekat di pinggang belakang. Di ujung tanjakan, ada rumpun semak yang agak lebar. Menurut perkiraan Bunija, masing-masing luas rumpun semak itu cukup untuk ditempati dua gubuk seukuran yang biasa ada di pategalan. Tidak lama lagi Bunija dan kudanya akan menginjak ujung jalan. Maka keduanya berjalan perlahan. Urat dan otot Bunija meregang. Raut wajahnya sedikit tegang. Ia tidak ingin ada sesuatu yang mendahului dan mengejutkannya. Bila itu terjadi, bukan tidak mungkin kudanya akan melompat mundur, begitu pun dirinya dan itu berarti keduanya terpuruk. Lebih menyakitkan tentunya.

“Bagaimana bila di balik rimbun ternyata ada sekelompok pengikut Raden Atmandaru? Lalu?” Bunija enggan menjawab pertanyaan yang dilontarkannya sendiri.

Related posts

Kiai Plered 40 – Pedukuhan Janti

Ki Banjar Asman

Kiai Plered 52 – Gondang Wates

Ki Banjar Asman

Kiai Plered 41 – Pedukuhan Janti

Ki Banjar Asman