SuaraKawan.com
Bab 4 Kiai Plered

Kiai Plered 16 – Pedukuhan Janti

Di pedukuhan induk.

Puluhan orang membanjiri jalan-jalan dan lorong yang ada di pedukuhan induk ketika gelegar dentuman memecah udara Sangkal Putung. Sebagian orang mulai membuat dugaan-dugaan yang bersifat simpang siur. Keadaan itu merisaukan Agung Sedayu yang sedikit terhambat sewaktu berjalan menuju rumah Ki Demang. Dharmana, yang mengiringinya, harus berulang-ulang membuka jalan bagi Agung Sedayu. Di tengah hiruk pikuk orang-orang, terdengar teriak orang memanggil nama Agung Sedayu berkali-kali.

Walaupun Agung Sedayu dapat memastikan sumber suara, tetapi tidak mudah baginya untuk menemui orang yang memanggil namanya.

“Ki Rangga,” seru orang yang setiap harinya membantu urusan rumah tangga Ki Demang. Napasnya  tersengal-sengal sehingga membuatnya sulit untuk berkata-kata dengan jelas.

Namun Agung Sedayu dapat memahami bahwa sesuatu telah terjadi ,atau mungkin, belum benar-benar terjadi pada Sekar Mirah. Dari dasar hatinya, Agung Sedayu tidak ingin mengecewakannya, tetapi, secara tiba-tiba, kegaduhan yang belum mereda kembali bergolak. Bahkan lebih hebat dibandingkan dengan tiga dentuman yang berturut-turut menggelegar.

Sejumlah laporan datang dari pedukuhan yang berada di sebelah utara. Para penghubung datang silih berganti. Mereka mengatakan bahwa bentrokan telah terjadi di perbatasan Pedukuhan Manjung dengan pedukuhan induk.

“Tetapi, Ki Rangga… mereka tidak serta merta menyerang dengan jumlah orang yang cukup besar. Mereka seolah mengejek para pengawal dengan melakukan serangan-serangan pada kelompok peronda,” lapor penghubung dari Pedukuhan Manjung pada Agung Sedayu.

“Tidak dalam jumlah besar?”

“Benar, Ki Rangga. Menurut mereka yang meronda, mungkin sekitar lima atau sepuluh orang. Yang menjadi pertanyaan kami waktu itu adalah mereka menyerang tanpa menggunakan senjata tajam. Mengapa? Pemikiran kami selanjutnya adalah pasukan musuh sedang mengejek kita semua.”

“Kalian tidak dapat disalahkan dengan munculnya pendapat seperti itu.”

“Ki Rangga,” kembali orang yang bekerja sebagai perawat kuda di kediaman Ki Demang memanggil Agung Sedayu. Panegar itu tajam menyorot paras wajah menantu Ki Demang Sangkal Putung.

Hampir tidak ada ruang bagi Agung Sedayu untuk menempatkan diri dengan leluasa dalam kelonggaran. Meski begitu ia tidak kecewa atau marah atas peristiwa-peristiwa yang dialaminya sejak dari Tanah Perdikan sampai Sangkal Putung. Agung Sedayu sadar penanganan membutuhkan kehati-hatian yang bersifat lebih dan khusus karena rangkaian peristiwa itu sebenarnya penampakan luar dari niat sebenarnya.

Penghuni Sangkal Putung adalah sekelompok orang-orang yang berpikir sederhana. Mereka bukan orang yang hanya berpikir mengenai hari ini dan esok. Mereka sering mengatakan bahwa tanah, ladang dan sawah adalah hak milik keturunan mereka di masa mendatang. Sedikit dari mereka yang bicara tentang peperangan dan kekuasaan. Mereka lebih suka menghindari perselisihan meski rencana dan impian besar tetap melayang dalam harapan.

Agung Sedayu dapat melihat keadaan itu karena ia tinggal bersama mereka selama belasan tahun. Dalam waktu itu, Agung Sedayu tengah bersandar pada semangat dan harapan. Ia menepis rasa khawatir karena bantuan yang tak kunjung datang. Sementara, di bawah matanya, panegar tengah menunggu kesempatan untuk bicara sepatah kata.

“Katakan,” perintah Agung Sedayu dengan nada rendah.

Harapan membuncah dan memenuhi ruang mata panegar. Kelegaan menebar ke seluruh rongga dadanya. Kata panegar kemudian, “Apakah Ki Rangga hendak melihat keadaan Nyi Sekar Mirah?”

“Aku sedang menuju ke sana, Paman,” kata Agung Sedayu setengah berbisik.

“Oh!” seru panegar. “Baik, itu baik sekali. Ki Rangga, Nyi Mirah tengah menunggu bersama Ki Demang sekalian.”

Tiga persoalan yang tengah tarik ulur dalam benak Agung Sedayu. Pertama, istrinya akan bersalin. Kedua, perkembangan Pedukuhan Janti yang belum diketahui olehnya. Dengan begitu perkiraan liar semakin berani menantangnya di ruang pikiran. Ketiga, Pedukuhan Manjung yang menerima serangan kecil-kecilan dan tidak terbuka. Musuh tiba-tiba menyerang lalu menghilang. Walau demikian, Agung Sedayu belum menerima laporan tentang Pedukuhan Jagaprayan tetapi ia bertenang hati karena Pandan Wangi telah berada di sana.

“Apa kata dukun bayi padamu?”

“Ia mengatakan bahwa mungkin kelahiran akan tiba lebih dahulu dibandingkan fajar.”

“Lalu sekarang?”

“Sekarang mereka sedang berjaga-jaga. Semua persiapan telah tunai dilakukan oleh keluarga Ki Rangga. Mari, Ki Rangga. Kita berlekas melihat Nyi Sekar Mirah.”

Tiba-tiba, dari arah punggung Agung Sedayu, terucap kata dari suara yang dikenalnya dengan baik, “Aku tidak setabah Ki Rangga saat menerima persoalan yang datang bertubi-tubi.”

Agung Sedayu menghentikan langkah lalu memutar tubuh. Sejenak ia termangu tak percaya kala orang yang berusia sepantaran Ki Gede Menoreh mendadak muncul di depannya.

“Kiai Bagaswara.” Agung Sedayu menganggukkan kepala dalam-dalam.

Related posts

Kiai Plered 62 – Gondang Wates

Ki Banjar Asman

Kiai Plered 76 – Gondang Wates

Ki Banjar Asman

Kiai Plered 14 – Pedukuhan Janti

Ki Banjar Asman