SuaraKawan.com
Bab 4 Kiai Plered

Kiai Plered 15 – Pedukuhan Janti

Sebelumnya.

Dari simpang tiga, Sukro sekilas melihat seorang penunggang kuda yang muncul dari kegelapan yang menaungi jalan utama menuju banjar pedukuhan. Namun ia tidak dapat memastikan mengenai orang itu. Sukro tengah terlibat perkelahian hidup dan mati di tengah kepungan pengeroyok yang berjumlah enam orang.

Sementara, dalam jarak sekitar delapan langkah, Sayoga pun berusaha keras untuk melepaskan diri dari serangan yang tak mengenal lelah dari pengikut Raden Atmandaru. Namun keadaan Sayoga berbeda dari yang dihadapi Sukro. Sayoga memainkan pedang kayunya dengan sangat baik. Ayunan pedangnya begitu bertenaga dan mampu mengeluarkan angin pukulan yang berasal dari tenaga inti Serat Waja. Malam tak begitu terang oleh sinar rembulan, maka gulungan pedang kayu Sayoga pun tersamar oleh gelap. Meski pun pengeroyoknya mempunyai kepandaian olah kanuragan setara dengan lima atau sepuluh prajurit Mataram, tetapi Sayoga berbekal pengalaman langka. Sayoga nyaris tewas dalam perkelahiannya melawan Ki Sarjuma dan Ki Malawi di perbatasan Tanah Perdikan.

Pedang kayu Sayoga membawa kelebihan tersendiri. Benda ini berwarna sedikit gelap maka gulungan sinarnya ketika berputar pun tak begitu tampak oleh mata biasa. Empat pengeroyoknya pun merasa jerih setiap kali Sayoga menggerakkan senjata tumpul itu. Berkali-kali pengeroyok Sayoga mencoba membabat batang pedang kayu itu, namun upaya mereka selalu berakhir sia-sia! Betapa sebatang kayu yang menjadi senjata Sayoga seolah berubah menjadi baja pilihan. Dengan aliran kekuatan Serat Waja, senjata Sayoga mampu memberi tekanan luar biasa pada pengikut Raden Atmandaru.

Petunjuk yang diberikan oleh Nyi Wijil telah meningkatkan kemampuan bermain pedang Sayoga menjadi lebih dahsyat. Ditambah kemampuan meringankan tubuh yang dilatihnya dalam perjalanan menuju Demak hingga kembali ke kampung halamannya, Sayoga sungguh-sungguh menjadi lawan yang sulit ditaklukkan!

Yang membuat lawan-lawannya semakin sulit menekan Sayoga adalah suara yang timbul dari ayunan pedang yang acapkali berubah. Kadang-kadang yang keluar adalah deru seperti angina kecang. Sekali waktu, pedang itu menghasilkan nada tinggi yang menyakitkan telinga. Maka, empat pengeroyok Sayoga pun hanya berusaha agar tidak roboh oleh sentuhan ujung tumpul dari pedang. Namun suitan nyaring telah menolong pengikut Raden Atmandari dari kesulitan yang didatangkan Sayoga.

Tanpa menunggu suitan yang kedua, empat pengeroyok Sayoga bergegas menghamburkan diri, erlindung di balik dekap kegelapan yang diyakini akan dijauhi Sayoga. Perkiraan mereka ternyata benar. Sayoga tidak mengejar lawan-lawannya!

Pada kurun yang sama, Sukro dapat membuktikan bahwa Agung Sedayu adalah seorang guru yang luar biasa! Meskipun Sukro terkepung rapat dan berada di bawah hujan senjata, namun kegesitan dan latihan yang diberikan Agung Sedayu benar-benar membuahkan hasil yang mewah.

Sukro dengan kegagahan seorang pengawal Tanah Perdikan mampu mempertahankan diri dengan gerakan-gerakan yang cukup gesit dan lincah. Belum ada ujung senjata dari enam pengeroyoknya yang mampu menembus perisai Sukro yang berkelahi dengan tangan kosong. Pesan Agung Sedayu agar Sukro selalu bertarung dengan kecerdikan memang dijalankannya dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, Sukro selalu berusaha memendekkan jarak dengan para pengeroyoknya. Sepanjang perkelahian itu, enam orang pengeroyok Sukro benar-benar tidak menyadari siasat anak muda yang menjadi teman karib Glagah Putih tersebut!

Walau pun begitu Sukro tidak dapat memberi tekanan yang mampu menggelisahkan hati pengeroyoknya. Setiap kali ia mempersempit ruang bertarung, setiap kali pula tiba-tiba seorang dari musuhnya akan mengalirkan serangan dari sisi kiri atau kanan.

Yang terjadi kemudian adalah keheranan menyambar hati pengikut Raden Atmandaru. Mereka tidak mengira bahwa Pedukuhan Jagaprayan menyimpan dua kekuatan setegar tebing batu Merapi. Meski pada awalnya mereka hanya diperintahkan untuk membuat kekacauan agar perhatian Agung Sedayu terpecah, namun kedatangan dua anak muda itu telah membuat rencana menjadi ambyar!

Namun mereka tahu betul bahwa aba-aba akan muncul dan membelah udara malam. Dan ketika perintah itu datang, maka melenyapkan jejak menjadi kepastian.

Kematangan Raden Atmandaru dalam menyusun rancangan benar-benar mendapat ujian. Pada malam itu di Jagaprayan, kemampuan pengikutnya tidak dapat direndahkan. Dalam setiap latihan, mereka selalu memandang kelompoknya sebagai pasukan terbaik di Mataram, dan ternyata benar! Kelihaian mereka menyesuaikan diri dapat dijadikan ukuran yang mendekati keadaan sebenarnya.

Ketika lengking suitan memecah angkasa Jagaprayan, sekejap kemudian pasukan Raden Atmandaru meghilang dalam kegelapan!

Keinginan Sukro untuk memburu musuh-musuhnya mendadak harus dibatalkan ketika ia melihat Sayoga menggerakkan tangan ke arah pedukuhan induk. Kemudian Sayoga melanjutkan dengan ucapan, “Kita berdua melihat penunggang kuda datang dari arah pedukuhan induk. Mungkin ia adalah utusan Ki Rangga Agung Sedayu, dan sepertinya benar karena sebagian pengawal menunjukkan arah datangnya serangan.”

“Aku mengikutimu,” sahut Sukro.

Sejenak kemudian, setelah memastikan bahwa penunggang kuda tersebut tidak membawa kekacauan baru, Sayoga dan Sukro bergegas berlari cepat menuju pedukuhan induk.

Related posts

Kiai Plered 54 – Gondang Wates

Ki Banjar Asman

Kiai Plered 52 – Gondang Wates

Ki Banjar Asman

Kiai Plered 9 – Pedukuhan Janti

Ki Banjar Asman