SuaraKawan.com
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 32

api di bukit menoreh, kitab kyai gringsing, merebut mataram, geger alas krapyak

Suasana begitu tegang. Sukra memberanikan diri berkata pada Ki Patih Mandaraka, “Marilah, Ki Patih. Saya tidak dapat menolak perintah Ki Lurah untuk mendampingi Ki Patih.”

Sebelum Ki Patih Mandaraka memberikan tanggapan, Ki Sekar Tawang kembali bersuara, “Ki Juru. Bara semangat yang terbit di Alas Mentaok telah meredup. Sejauh ini belum ada orang yang mampu menyamai Danang Sutawijaya menjaga nyala itu. Mungkin Ki Juru akan menunjukkan jari pada Mas Jolang, tapi ia bukan orang yang tepat. Untuk terakhir kali, aku ingin kalian semua bertanya pada hati masing-masing, benarkah Mas Jolang adalah orang yang tepat menduduki tahta Mataram?”

“Sayang sekali, sangat disayangkan,” lirih Ki Patih berkata.

Pada saat-saat seperti itu dan permainan kata yang dilepaskan oleh Ki Sekar Tawang secara nyata merobek pertahanan Sukra. Anak muda pengawal Tanah Perdikan Menoreh memandang Ki Sekar Tawang dengan sorot mata marah! Mungkin, Sukra tidak lagi dapat menahan diri. Namun sejauh itu agaknya rasa segan pada Ki Patih Mandaraka dan Agung Sedayu masih mampu menjadi pengekang. Yang ada di dalam pikirannya adalah baik jika dapat membungkam Ki Sekar Tawang secepatnya. Perlahan ia melangkah surut, setapak, setapak lalu bergeser ke samping Ki Patih Mandaraka. Ini kedudukan yang berbahaya, sebenarnya. Sukra menempatkan diri lebih dekat pada garis pertahanan lawan.

Peralihan tempat itu tidak luput dari penglihatan Agung Sedayu. Pemimpin prajurit itu mengerutkan kening. Walau belum dapat menduga yang akan dilakukan Sukra, Agung Sedayu tidak dapat membiarkan keadaan berada di bawah kendali Ki Sekar Tawang yang lihai menjatuhkan semangat melalui kata-kata. “Sukra, cepatlah pergi!” Suara Agung Sedayu parau terdengar.

“Pikirkan lagi keinginanmu, Anak Petani!” desis Ki Sekar Tawang yang memperkirakan bahwa Sukra akan menyerangnya.

Resi Siwandaraka 

Agung Sedayu tidak lagi mengekang kehendak untuk tetap berada di bawah dan memancing kemarahan Ki Sekar Tawang. “Terlalu sulit untuk itu jika Sukra mendahului serangan,” katanya dalam hati.

Rasa payah yang ditimbulkan oleh getaran tenaga yang berasal dari Kiai Plered semakin sulit ditahan oleh senapati Mataram itu. Jalan terang terpampang menurut pandangannya, tiba-tiba, ilmu Agung Sedayu menggelegak. Segenap rasa payah dan sakit yang menderanya akibat tuah Kiai Plered pun dihempaskan Agung Sedayu dengan menyerang Ki Sekar Tawang secara luar biasa.

Tidak terdengar suara kain berkibar. Tidak pula jejak kaki atau udara yang mendesis. Agung Sedayu secara mengejutkan telah menghentak kemampuannya pada lapisan tertinggi.

“Prajurit gila!” geram Ki Sekar Tawang tetapi suaranya tidak terdengar karena Ki Patak Ireng telah menderu-deru memapas serangan Agung Sedayu. Kibas lengan Ki Patak Ireng menyambar datar pada pangkal paha Agung Sedayu. Senapati Mataram itu menghindar lalu membalas dengan serangan-serangan yang bergelombang tajam

Agung Sedayu telah membuka jalan pembebasan Ki Patih Mandaraka dari jerat dan kejaran pengikut Raden Atmandaru. Senapati tangguh itu telah memutuskan : mengikat dua lawan sekaligus!

Siasat kilat Agung Sedayu dapat dimengerti oleh Kiai Bagaswara. “Ki Plaosan, mohon menyertai Ki Patih berdua ke Mataram. Saya akan menahan mereka bersama Ki Rangga,” ucap lantang Kiai Bagaswara.

Ki Plaosan tidak keberatan terhadap permintaan itu. Bahkan, ia pun telah memperkirakan tidak akan mampu mengawal Ki Patih hingga Mataram bila menerjunkan diri pada pertempuran. Tidak ada cara yang lebih baik dari yang ditawarkan oleh Kiai Bagaswara. Ki Plaosan berpikir, bukan tidak mungkin  terjadi penghadangan di sepanjang jalan, Sukra bukan pengawal yang tepat untuk menyelesaikan pekerjaan besar ini.

Tidak mudah melepaskan diri dari jaring yang ditebar oleh pengikut Raden Atmandaru.

Ki Krembung Wantah berdiri, bertolak pinggang dengan jari teracu lurus pada Ki Patih Mandaraka. “Ki Juru, sebenarnya engkau dapat menggunakan sedikit akal dan kebijaksanaan dengan tidak memaksakan diri melarikan diri dari kami. Bila itu yang kau tempuh, engkau telah menyelamatkan dua prajurit dari kematian yang sia-sia. Engkau juga akan berperan besar pada kehidupan petani yang berdiri di sampingmu. Marilah, berpikirlah dewasa.”

Kalimat terakhir yang diucapkannya pun membakar hati Sukra. Pengawal Tanah Perdikan itu menatapnya dengan wajah yang tidak biasa. Sukra seolah berubah menjadi serigala buas dan liar. Dalam waktu itu, gejolak Sukra kian sulit dikendalikan olehnya. Gelombang tekad Sukra memancar keluar, untuk meredam itu, Ki Patih bahkan memintanya tetap tenang dengan isyarat tangan.

Sukra adalah anak muda yang tumbuh dengan nasehat-nasehat dari Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih. Ia telah mendapatkan pengajaran tentang pengamatan diri, olah kanuragan dan pemusatan rasa. Surka dapat menilai bahwa orang yang menghadang mereka hanya berusaha memancing dengan ucapan-ucapan penghinaan. “Aku tidak dapat berkelahi tanpa pengamatan yang utuh,” kata Sukra dalam hati. Sejenak ia termangu, memandang ke bagian dalam dirinya, sementara bahaya semakin dekat padanya.

Ki Plaosan segera menimbang keadaan Ki Patih Mandaraka yang dapat dipastikan akan berada di pusat perkelahian apabila Sukra nekat menerjang lawan.

“Jangan bodoh, Sukra! Ia bukan lawanmu!” geram hati Ki Plaosan saat melihat Sukra telah menggeser kaki dan bersiap menyerang Ki Krembung Wantah.

Namun Sukra tidak mendengar suara yang muncul dari hati Ki Plaosan. Ia seolah telah menutup mata hatinya tentang kecemasan yang melanda Ki Plaosan serta Ki Patih Mandaraka, Sukra tidak mengetahui kedalaman jalan pikiran Ki Patih Mandaraka. Sekejap ia memandangi lawannya dengan cermat lalu menerjang Ki Krembung Wantah.

Related posts

Nir Wuk Tanpa Jalu 2

kibanjarasman

Sabuk Inten 17

Ki Banjar Asman

Sabuk Inten 7

Redaksi Surabaya