SuaraKawan.com
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 28

Selagi Sukra kalut dengan perintah Agung Sedayu, selagi Ki Patih Mandaraka menilai keadaan Agung Sedayu secara menyeluruh, seseorang datang dengan kecepatan tinggi. Dari jarak pandangnya, Ki Patih Mandaraka melihat bayangan berkelebat seolah melayang di atas rerumputan. Lalu sejumlah bayangan lain menyusul di belakangnya.

Sejenak sekumpulan bayangan itu berhenti lalu bergumul dalam perkelahian sengit. Demikian mereka melaju dan berhenti untuk berkelahi. Pergumulan yang belum dapat dipahami oleh orang-orang yang telah menjangkau mereka dalam pandangan.

“Kita dibatasi waktu, Ki Patih.” Agung Sedayu merangkai napas yang mulai tersengal.

Ki Patih Mandaraka berdiri di dekatnya, dan segera melintas pertanyaan keras yang menyembul di tengah-tengah jalan pikirannya. “Bukan dengan cara yang licik ketika ia mengalahkan Ki Tunggul Pitu. Ini bukan perang tanding karena lingkaran begitu dekat dan setiap orang dapat memilih sasaran. Agung Sedayu telah memenangkan pertempuran dengan caranya sendiri. Dengan tubuh dalam pengaruh tuah Kiai Plered, apakah aku harus meninggalkannya?”

“Sebaiknya engkau menyerahkan diri lalu kami akan menilai segala yang telah kau perbuat malam ini, Ki Juru. Aku kira itu lebih pantas kau dengarkan,” ucap Ki Sekar Tawang tiba-tiba memotong pembicaraan musuhnya. “Sementara Agung Sedayu akan berada dalam perawatan kami. Ki Juru, aku yakin engkau bukanlah orang bodoh sebagaimana temanku yang mati di tangan Agung Sedayu. Kami telah menghitung dan kami telah bersiap. Kematian orang itu dan Kiai Plered yang berada di tanganmu, bukanlah tanda-tanda kekalahan kami. Sebaliknya, kami bersenang hati karena mendapatkan Agung Sedayu. Sementara nasibmu dan dua pusaka di tanganmu akan kami pertimbangkan. Segera!” Sekilas ia melirik ke atas. Bintang-bintang telah bergeser. Dan siasat Raden Atmandaru memang tersusun rapi walau mereka mempersiapkan pencegatan dengan sangat mendadak.

agung sedayu terperdaya, Api di Bukit Menoreh, cerita silat Indonesia, cerita silat Jawa, cerita silat Jawa Mataram, cerita silat kerajaan Jawa, cerita silat kolosal, cerita silat Mandarin, cerita silat online, cerita silat tanah Jawa, cersil klasik jawa, geger alas krapyak, Jati Anom Obong, Kiai Plered, kitab kiai gringsing, Lanjutan ADBM, Lanjutan Api di Bukit Menoreh, mataram, membidik, merebut mataram, Padepokan Witasem, pencak silat, silat Bondan
Dapatkan bentuk PDF. Klik gambar untuk keterangan lebih lanjut.

Sekelompok orang yang saling berkejaran pun tiba di tengah jalanan Slumpring. Mereka segera mengambil tempat, berdiri di sekitar orang yang mereka kenal.

“Gedangasin tentu tidak memberi kabar baik,” ucap Ki Sekar Tawang tanpa memalingkan wajah pada orang-orang yang baru datang.

“Kiai,” sahut salah seorang dari pendatang, “tidak ada kabar baik selain menangkap Ki Patih Mandaraka atau membunuhnya. Menghabisi pengiringnya bukanlah langkah maju yang patut dihargai.”

“Berapa orang?” tanya Ki Sekar Tawang.

“Nihil. Hanya seorang yang terluka,” jawab orang yang sama.

“Hanya terluka, lalu apa kemajuan yang kita dapatkan?” lagi Ki Sekar Tawang bertanya.

“Kita tidak sedang berbantahan,” kata orang itu menutup percakapan.

Kemudian, melalui sorot mata yang tidak biasa, Ki Sekar Tawang bersuara lantang, “Ki Juru, haruskah kita menempuh jalan yang sangat keras? Dengan kedudukanmu saat ini, semestinya engkau dapat menghindarkan kematian sia-sia. Bayangkan bila yang mati kemudian adalah para pengikutmu.”

“Sebenarnya tidak ada kematian yang sia-sia karena setiap orang bertahan dalam pendiriannya. Namun yang engkau bicarakan adalah Mataram dan kehidupan yang ada di dalamnya. Saat ini memang terasa menyakitkan untukmu, dan sebaiknya engkau mundur sejenak, Ki Sanak. Aku tidak mempunyai permusuhan pribadi denganmu, begitu pula Agung Sedayu. Aku pikir begitu tetapi engkau tampak buruk dengan menghubungkan segalanya dengan peristiwa di masa lalu.” Ki Patih mengucapkan kata demi kata dengan sikap waspada. Ketika Gedangasin diucapkan oleh Ki Plaosan, maka benak Ki Patih segera terisi sebuah nama, Ki Rangga Ramapati. Bagaimana ia dapat berbalik arah? Pikiran Ki Patih bekerja keras mencari kemungkinan-kemungkinan yang masuk akal. Meski demikian, ia tidak gegabah memandang Ki Ramapati sebagai pengkhianat.

“Ki Juru,” Ki Sekar Tawang meneruskan ucapannya, “apakah engkau memang berketetapan hati untuk berada di bawah kaki Raden Mas Jolang selamanya? Lihatlah keadaanmu sekarang. Engkau telah menapak senja.”

Melihat kedatangan orang-orang yang berada di dekat Ki Sekar Tawang, Sukra hanya menggeram dalam hatinya. Ia tengah menimbang kemampuannya apabila pertempuran pecah di antara mereka. “Bagaimana aku dapat bertahan bila semua orang berada di atas kemampuanku? Tidak mungkin aku berlindung di balik ketiak Ki Lurah, sedangkan beliau terluka. Ki Plaosan? Sepertinya dapat dipastikan akan keras bertarung membendung mereka.” Sukra sedikit melonggarkan dada ketika Kiai Bagaswara  berjalan menghampirinya dan Agung Sedayu.

“Bagaimana keadaan Anda, Ki Rangga?” Kiai Bagaswara mengulurkan tangan, Agung Sedayu menyambutnya. Ketika kulit mereka bersentuhan, Kiai Bagaswara terpana! Ia segera mengerti keadaan di bagian dalam tubuh Agung Sedayu. Namun ia tidak mengucapkan sepatah kata pun di dekat Sukra.

Kiai Bagaswara mengalihkan perhatian, katanya, “Penghadangan ini berada di luar sepengetahuan kita, terutama saya. Ki Rangga, apa rencana berikutnya?“

“Tidak ada. Untuk menyelamatkan Ki Patih Mandaraka, kita tidak punya rencana lain. Tidak ada, Kiai,” jawab Agung Sedayu dengan napas semakin memburu.

“Bagaimana dengan kemungkinan yang kita miliki? Maafkan saya, Ki Rangga,” kata Kiai Bagaswara kemudian.

Sebelumnya.

Atas masukan dari Ki Plaosan yang mengenal jalur-jalur yang menghubungkan Sangkal Putung dengan Mataram, Kiai Bagaswara memutuskan untuk menerima pendapat prajurit sandi Mataram itu. Mereka menempuh jalur Gedangasin dengan menempuh jalan yang sedikit memutar. Ketika ia bersama Sukra dan Ki Plaosan bertemu dua pengiring dari Mataram, Kiai Bagaswara tidak mempunyai pikiran buruk. Ditambah keterangan dari Ki Plaosan bahwa dua pengiring itu berasal dari Kepatihan, maka Kiai Bagaswara menolak segala anggapan buruk yang singgah dalam pikirannya.

Namun segalanya berubah ketika dua pengintai yang dikirim oleh Raden Atmandaru tiba-tiba menyerang mereka. Seorang dari dua pengiring Ki Patih Mandaraka mendadak berbalik arah dengan mengikat Ki Demang Brumbung dalam perkelahian.

Perkelahian sengit memecahkan langit Gedangasin!

Dua pertempuran di dua tempat yang berbeda mempunyai tujuan yang sama, Ki Patih Mandaraka!

Related posts

Merebut Mataram 24

Ki Banjar Asman

Merebut Mataram 9

Ki Banjar Asman

Merebut Mataram 16

Redaksi Surabaya