SuaraKawan.com
Suara Rohani

Tazkiatun Nafs menurut Imam Al Ghazali

Mengkaji tentang tasawuf tentu tidak lepas dari seorang hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali. Namun, tidak hanya ilmu pembukaan hati (mukasyafah), tetapi Al-Ghazali juga mengajarkan ilmu pengamalannya (mu’amalah). Hal ini menunjukkan bahwa Al-Ghazali mengintegrasikan antara ilmu syariat dan hakikat.

Al-Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin menegaskan sikapnya terkait dikotomi ilmu tasawuf dan syariat berupa hukum fiqih. Ia menentang keras orang-orang tasawuf yang mengingkari ibadah ritual. Justru menurut penganggit kitab Ihya’ Ulumiddin ini, ibadah ritual perlu dikembangkan dan dipelihara dengan menanamkan arti, makna, dan rahasia amaliah di balik kandungan ritual ibadah tersebut.

Sebagai contoh bersuci atau berwudhu, menurut Al-Ghazali tidak cukup hanya menuangkan air dan membersihkan badan dari kotoran dan najis, tetapi jauh lebih dari itu, yakni meliputi:

Pertama, membersihkan lahir (anggota-anggota badan) dan hadats dan berbagai kotoran.

Kedua, membersihkan hati dari tingkah laku dan akhlak tercela.

Ketiga, menyucikan anggota badan dari perbuatan-perbuatan dosa.

Keempat, membersihkan diri dari pengabdian selain Allah SWT.

Berdasarkan ajaran Al-Ghazali itulah para penganut taswauf di Jawa pada abad ke-19 dan abad ke-19 mengajarkan tiga tingkatan bersuci dan empat tingkatan sembahyang yang bukan hanya sekadar aktivitas lahiriah semata, tetapi juga proses batiniah.

Prinsip ajaran esoteris dan eksoteris yang disampaikan Al-Ghazali di atas juga termaktub dalam Serat Centini. Dalam kitab Centini, tiga tingkatan bersuci dimaksud ialah, pertama, bersuci membersihkan badan atau raga dengan air sebagaimana berwudhu dan mandi. Kedua, bersuci membersihkan mulut secara lahir dan batin sehingga tidak hanya dalam pengertian makan, tetapi juga baik dalam kata dan tutur. Ketiga, bersuci membersihkan hati. Adapun empat tingkatan sembahyang dalam kitab Centini ialah, pertama, sembah raga. Ini sama dengan shalat dalam syariat. Kedua, sembah cipta yang bisa disamakan dengan proses bertarekat. Ketiga, sembah jiwa atau hakikat, dan keempat, sembah rahsa atau yang dikenal sebagai proses menuju makrifat. Ketiga tingkatan bersuci dan keempat tingkatan sembahyang tersebut harus dilaksanakan secara utuh, lengkap, dan tidak boleh hanya salah satu saja. Hal ini sesuai dengan prinsip ajaran syariat dan hakikat dari Imam Al-Ghazali yang harus menyatu satu sama lain.

Terkait Serat Centini, ia adalah karya besar sastra Jawa lama yang banyak mengandung berbagai macam pengetahuan meliputi sejarah, pendidikan, geografi, arsitektur, pengetahuan alam, agama, tasawuf, mistik, ramalan, sulapan, ilmu kekebalan, ilmu sirep, ilmu penjahat, perlambang, adat- istiadat, etika, psikologi, fauna, flora, obat tradisional, seni, seksologi, dan makanan tradisional.

Karena Serat Centhini isinya sangat bermacam-macam tersebut maka sering disebut Ensiklopedi Kebudayaan Jawa, yaitu tentang segala ilmu yang terdapat di permukaan bumi Pulau Jawa, bukan yang terdapat di benua lain. Serat Centhini mulai ditulis pada hari Sabtu Paing tanggal 26 Muharam Tahun Je Mangsa VII 1742 AJ dengan sengkalan Paksi Suci Sabda Aji atau bulan Januari 1814 Masehi, dan selesai ditulis pada tahun 1823. Penulisan serat ini atas perintah putera mahkota Kerajaan Surakarta yaitu Adipati Anom Amangkunagara III yang kemudian menjadi raja Kasunanan Surakarta dan bergelar Sunan Pakubuwana V yang bertahta pada tahun 1820-1823. Selain sebagai pemrakarsa beliau juga sebagai ketua tim penulisan Serat Centhini tersebut. (Fathoni)

Related posts

Memahami Aliran-Aliran Islam untuk Toleransi Intraagama

Redaksi Surabaya

5 Pilar Ilmu Tasawuf yang Harus Dipedomani

Redaksi Surabaya

Kisah Ulama Berhaji Tanpa ke Tanah Suci

Redaksi Surabaya