SuaraKawan.com
Bab 5 Siasat Ken Arok

Siasat Ken Arok – 7

Toh Kuning yang mendengarnya sambil manggut-manggut kemudian menyela, ”Dan kau dorong dia untuk menyergap para prajurit Kediri yang meronda di Bukit Katu?”

Ken Arok melirik Toh Kuning dan membuat pengakuan dalam hatinya bahwa Toh Kuning benar-benar mumpuni dalam membuat dugaan tepat dengan bahan yang terbatas. Lantas ia mengangguk-anggukkan kepala dan berkata, ”Aku mendorongnya setelah aku mempelajari dengan rinci kebiasaan prajurit Kediri saat melewati Bukit Katu. Aku harus melakukan itu sebelum Arumpaka memaksa diri menumbangkan Tunggul Ametung di tengah kota.”

“Kau menempatkan dirimu dalam kumpulan orang paling diburu oleh Mahesa Wunelang,” kata Toh Kuning menanggapi penuturan Ken Arok.

“Ya. Benar. Aku sudah mengetahui kebiasaan Mahesa Wunelang, maka dari itu aku telah meminta Ki Arumpaka untuk berhenti mengganggu prajurit Kediri. Semakin banyak perbuatan yang sama terulang, Mahesa Wunelang akan semakin mudah melacak jejak kelompok Ki Arumpaka,” Ken Arok bertutur dengan wajah sungguh-sungguh.

“Toh Kuning,” kata Ken Arok kemudian,”sebenarnya aku ingin mengajakmu turut serta dalam rencana ini. Aku akan menjadikanmu sebagai puncak dari candi keprajuritan Tumapel.

Toh Kuning tersenyum. Katanya, “Maka dengan demikian, kau telah menyusupkan orang-orang kepercayaanmu dalam jenjang pemimpin prajurit di Tumapel. Karena hanya dengan cara seperti itu, kau tidak akan mengalami gangguan yang berarti apabila kau dapat menggeser kedudukan seorang akuwu.”

“Sebuah pergeseran yang tidak akan memakan banyak korban.” Ken Arok menarik napas panjang.

“Aku dapat mengerti kegelisahanmu. Sawah yang kering, ladang yang hanya ditumbuhi rumput panjang dan sungai yang sepi dari tangkapan telah memberiku gambaran tentang keadaan Tumapel. Meski ada yang mengganjalku namun aku dapat mengerti jika Sri Baginda tidak akan gegabah mengganti kedudukan akuwu yang berdasarkan keturunan. Apabila Kediri memaksa dengan kekerasan, sebenarnya itu adalah kemunduran besar bagi Kediri.” Toh Kuning kemudian memejamkan mata dan merenungkan pembicaraan itu untuk sesaat.

“Dan kau bersedia menerima tawaranku? Yang pasti aku lakukan berikutnya adalah menghabisi kelompok Ki Arumpaka dengan cara yang tidak diduga oleh mereka.” Mata Ken Arok berkilat-kilat.

“Aku mempunyai sebuah perkiraan bahwa Tumapel akan menjadi pusat pusaran yang akan mengacaukan Kediri,” berkata Toh Kuning.

Ken Arok tidak berkata sedikitpun. Ia tidak menolak anggapan itu karena masih memiliki keraguan yang dalam.

“Kau telah mengerti jati diriku sehingga aku tidak akan memberi jawaban. Jadi, apa yang akan kau lakukan dalam waktu dekat?” bertanya Toh Kuning.

“Aku sudah mempunyai kepastian apabila kau bergabung bersamaku. Namun karena aku sangat memahami cara berpikirmu, maka sebaiknya aku menilai kembali rencanaku semula. Aku akan melihat perkembangan,” kata Ken Arok.

“Ya. Itu pasti, apalagi jika aku membawa pasukan khusus untuk menangkapmu.” Toh Kuning beradu pandang dengan Ken Arok.

“Kau pasti mampu lakukan itu, tetapi kau tidak akan dapat menangkap orang tanpa ada bukti yang cukup.” Ken Arok tersenyum.

“Kau tidak mungkin akan merayuku lebih keras apalagi sampai meyakinkanku agar tinggal lebih lama di sini. Namun aku akan melaporkan pada Ki Gubah Baleman apabila aku telah berhasil menangkap kelompok orang yang membantai para prajurit Kediri.” Toh Kuning dengan wajah penuh ketegasan melanjutkan ucapannya, ”Apakah tindakanku ini yang kau anggap sebagai cara yang tidak diduga Ki Arumpaka?”

“Kau meringankan pekerjaanku, teman,” sahut Ken Arok.

“Aku tidak melakukannya untukmu. Aku melakukannya karena aku mempunyai bukti kuat.” Toh Kuning mengeluarkan sehelai kain biru hitam yang terciprati darah yang telah mengering dan pada kain itu ada tanda lingkaran bergerigi bersulam benang putih. Ia berkata lagi, ”Seorang prajurit dapat lolos dari pembunuhan itu setelah berpura-pura mati. Ia sempat merobek kain seorang pengikut Ki Arumpaka. Dan pada hari saat aku tiba di Tumapel adaah hari keberuntunganku karena aku berada dalam kedai yang sama dengan mereka.”

Ken Arok mengerutkan keningnya seperti mengkhawatirkan sesuatu yang buruk akan menimpanya.

“Selebihnya adalah laporan yang berasal dari rumah di malam kau berkumpul dengan kelompok Ki Arumpaka,” kata Toh Kuning, ”namun aku akan membiarkanmu berjalan bebas karena aku tidak mendapat bukti keterlibatanmu. Meski kau mengakui pembantaian itu terjadi karena kau mendorong Ki Arumpaka untuk bertindak gila, aku tidak menangkapmu! Aku tahu kau jujur padaku, Ken Arok. Tetapi aku tidak dapat membawamu ke pengadilan hanya berdasarkan pengakuan seorang saja. Kecuali aku bersikap keras padamu sementara kau tahu aku bukan orang seperti itu.”

Related posts

Siasat Ken Arok – 8

Ki Banjar Asman

Siasat Ken Arok 5

Ki Banjar Asman

Siasat Ken Arok 4

Ki Banjar Asman