SuaraKawan.com
Sastra Kawan

Senja Januari Dua Dua

meramu rindu ternyata lebih rumit dari meracik secangkir kopi untukmu
padahal dulu aku sempat mengeluh karena butuh waktu lama meracik kopi yang pas di lidahmu
“jangan mudah mengeluh, akan ada suatu masa saat kau harus hadapi situasi yang lebih rumit
saat kau harus lalui jalan yang lebih sulit”

aku hanya tersenyum waktu itu, melempar sebuah kerling sambil mengangkat bahu. lalu kau sambut dengan sentakan di pinggang hingga aku jatuh ke dalam pelukmu. sampai di sini kelihatannya manis sekali bukan?

namun, semesta telah bersabda bahwa mana ada manis tanpa pahit turut serta?
mana ada malam tanpa pagi menyertai?
mana ada?
lalu pipiku merona saat kau tanya, “lalu mana ada kamu tanpa aku di sampingmu?”

masih kedengaran manis, hanya manis, pun setelah sampai di sini. meski sebenarnya aku lebih suka menahan pahit hingga seluruh keringat berkumpul di dahi lalu menganak sungai di pipi bersama airmata bahagia. apalah dayaku jika sang pemilik kehidupan telah menuliskan takdirnya?

maka kini aku diam di sini, merenungi semua yang terjadi. semua, tanpa terkecuali.

hembus angin, lambaian pucuk kamboja, lengkung langit memerah saga, celoteh sekawanan kalong di atas dahan pohon randu alas masih juga membuatku bergeming. “pulanglah, sebentar lagi malam tiba.” aku seperti mendengar bisikmu, halus menyentuh telinga. tanpa sadar aku menggeleng.

untuk apa aku pulang?
untuk siapa aku pulang?

“jangan mengeluh, belajarlah berlapang dada.” katamu suatu ketika, saat aku menangis semalaman, menangisi kepergian Bapak.

aku menatapmu tajam. bagaimana aku tidak boleh mengeluh, bagaimana aku harus berlapang dada? kehilangan bapak itu berat, sangat berat. kaupun tahu betapa dekatnya
aku sama bapak. lalu seenaknya saja kau ngomong seperti itu. aku memberengut, membuang muka sambil menahan sesak di dada.

“itu karena kau merasa memiliki. coba kamu pikir baik-baik pikirkan dari sisi bapak, bukan dari sisi dirimu yang suka ngambek.” lanjutmu tanpa perasaan.

apa pula yang harus aku pikirkan? jelas-jelas aku kehilangan bapak, lalu bagaimana aku bisa berpikir?

“kamu merasa kehilangan karena selama ini kamu menganggap bapak adalah milikmu. ingatlah, bahwa Tuhan telah sangat baik dengan meminjamkan bapak sekian lama. maka kalau sekarang Tuhan memintanya kembali, haruskah kamu merasa kehilangan?”

diam-diam aku mulai berpikir. memikirkan perkataanmu yang mulai terasa kebenarannya. ya, ternyata selama ini aku mempunyai pemikiran yang salah.

pelan kulafal istighfar, memohon ampunan pada Sang Empunya Kehidupan.

“jangan lagi mudah mengeluh ya. belajarlah untuk selalu berlapang dada.” tanganmu mengelus rambut panjangku. aku mengangguk meski hatiku merasa belum sanggup.

“jangan mengangguk untuk sesuatu yang tidak kau yakini. berapa kali aku katakan, biasakan kepala, bibir, dan hati berada pada satu garis lurus. agar kelak kau tidak menyesali perbuatanmu sendiri,” katamu lagi seolah dapat membaca pikiranku.

aku menghela napas dalam. kenapa susah sekali berhadapan denganmu?

“jangan dibikin susah, kuncinya hanya terima dan jalani.”

angin berhembus kencang, sekuntum kamboja jatuh di pangkuan. aku tersentak, sekelilingku mulai gelap. semburat jingga di kaki langit telah lenyap. suara azan isya’ lamat-lamat terdengar. aku masih belum ingin beranjak. aku tidak ingin pulang dan hanya menemui senyap.

“nduk, kamu masih di situ?” terdengar suara mbok yem diiringi suara kerikil terinjak. cahaya senter menyorot ke arahku.

“sudah malam, ayo kita pulang. simbok akan menemanimu malam ini.” tangan keriput itu terasa hangat menyentuh pundakku.

aku masih bergeming.

“nduk, ayo!” kali ini mbok Yem menarik lenganku.

“jani masih ingin di sini, mbok.”

“jangan memperturutkan emosi, pikirkan kesehatanmu. akan lebih baik kalau kamu tetap sehat dan melanjutkan hidup dengan bahagia.”

“baik untuk siapa, mbok?”

“bukan untukmu, tapi untuk radite.”

“mengapa radite, mbok?”

“karena dia pasti tidak suka melihatmu seperti ini.”

“baiklah, mbok, baiklah, ayo kita pulang.”

hatiku teriris mendengar namamu disebut, apalagi saat simbok mengatakan kalau kamu sedih. aku melangkah pulang semata memenuhi janjiku padamu.

“berjanjilah melepasku dengan hati lapang. jangan mengenangku dalam kesedihan, aku benci itu.”

aku hanya diam. bukan enggan menjawab, tapi lebih karena aku tak punya jawaban. aku tidak mau berjanji untuk sesuatu yang tidak yakin sanggup aku jalani. sementara dalam hati aku terus memohon kepada Tuhan.

tiba-tiba ucapanmu kembali terngiang. “lalu, mana ada kamu tanpa aku di sampingmu?”

aku mengulang ucapanmu, terus mengulang hingga aku yakin bahwa kau tidak sungguh-sungguh waktu itu. bahwa kau tak pernah sungguh-sungguh dengan ucapanmu. jadi, boleh kan jika aku tidak menepati janjiku padamu?

tanganku masih mengambang di udara. hatiku pun sibuk menimbang-nimbang.
apa yang akan aku tuang ke dalam gelas kosong bernama rindu?

karena seraut wajah penuh senyum milikmu tak pernah sanggup aku enyahkan dari tempurung kepala. pun sejumput kenangan tentang aku dan kamu.

maka biarlah, aku, kamu, kita menjelma sekeping sunyi yang nyaman menghuni hati.

Maospati, 220222

Related posts

Hujan di Bulan Juli

Redaksi Surabaya

Nada-nada Rindu

Redaksi Surabaya

Prosa Pendek : Telaga dan Mentari

Redaksi Surabaya