SuaraKawan.com
Opini - Politik

Fokuskan Kampus pada Tujuan Ini!

Program hilirisasi Nikel

Kalau saya baca program hilirisasi nikel itu sudah benar sesuai dengan UU Minerba. Jokowi laksanakan UU dengan konsisten. Tidak ada satu pun kementrian yang berani bermain. Ya karena sudah undang undang. Artinya hilirisasi itu sudah konsensus politik. Walau UU Minerba itu kali pertama di-create era SBY dan di revisi di era Jokowi, namun sampai sekarang hilirisasi itu hanya sebatas antara (intermidiate) dan didominasi oleh produk kelas dua, yakni nickel pig iron (NPI) dan feronikel (FeNi). Belum sampai ke produk jadi yang nilai tambahnya tentu jauh lebih tinggi.

Pada tahun 2021, konsorsium BUMN, PT Pertamina (Persero), PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT PLN (Persero) dan PT MIND ID. mendirikan pabrik baterai , namanya PT Industri Baterai Indonesia (IBI) dengan masing-masing 25%. Ini juga bukan baterai modul. Hanya sebatas lempengan baterai. Tapi nilai tambahnya lumayan. Itu 5 kali daripada jual nikel mentah. Kalau modul baterai, itu nilai tambahnya bisa mencapai 50 kali.

Saya dengar ada skema supply chain yang ingin kuasai SDA nikei. Misal PT Industri Baterai Indonesia kerjasama dengan Hyundai Motor Company, KIA Corporation, Hyundai Mobis, dan LG Energy Solution bangun pabrik baterai senilai US$ 1,1 miliar. Begitu juga IBI kerjasama dengan Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) asal Tiongkok dengan investasi sebesar US$ 5 miliar (Rp 72 triliun), dan LG Chem Ltd asal Korea Selatan sebesar US$ 13-17 miliar (Rp 187,5-245 triliun).

Investasi tersebut di atas sebenarnya itu sama saja dengan counter trade ( imbal beli SDA). Investasi dibayar dengan produksi. Karena investor yang kerjasama dengan IBI itu adalah juga off taker produk baterai itu sendiri. Tetapi itu hanya sebatas lempengan baterai. Lempengan itu dikapalkan ke China untuk mendukung supply chain industri modul bateral dan EV. Kita hanya kebagian nilai tambah 5 kali saja dari harga nikel. Sementara Korea dan China dapatkan nilai tambah 10 kali dari lempengan baterai itu. Belum lagi China dan Korea dapat laba dari pabrik baterai mereka di Indonesia sebagai JV.

Harapan pada Dunia Pendidikan

Betapa besarnya anggaran pendidikan di APBN. Bahkan 20% dari total APBN. Itu tentu berharap investasi pendidikan bisa memberikan sumbangan bagi kemajuan negeri ini. Tetapi sampai sekarang kita hanya jadi pecundang di bidang hilirisasi SDA. Karena kampus hanya sibuk berpolitik, penuh omong kosong dan output-nya adalah sarjana yang sibuk cari kerjaan dan nyinyir. Mau gimana lagi? Inilah keadaan negeri kita. Mindset terjajah belum tuntas dihapus. Inferior banget nget.

Apalagi lihat Jokowi sampai menemui Elon.  Saya nangis dalam hati. Begitu besar keinginan presiden saya untuk nilai tambah SDA negeri ini. Kalaulah anak negeri ini mampu mandiri di bidang hitech, engga mungkin presiden saya sampai merendahkan diri bertemu dengan Elon….

 

Sumber : Jelas.

Related posts

Rekam Jejak Amerika Ketika Mengobok-obok Indonesia

Redaksi Surabaya

Nasib Golkar Dalam Skandal Pandora Papers

Redaksi Surabaya

Bisnis Agama untuk Kekuasaan

Redaksi Surabaya