SuaraKawan.com
Prosa Liris

Bengek, Wimala Punya Kisah

Baru sembuh dari sakit, tidak serta merta membuatku sehat wal afiat.

Namun keharusan mengantar Panglima bertemu dokter, membuat aku harus merasakan kembali napas tersengal sekian kali.
Aku heran, mengapa tempat praktek dokter harus dihiasi dengan anak tangga berjumlah ratusan bagai tumpukan wafer? Bukankah lebih nyaman jika mengambil tempat di lantai satu saja?

Yah, setidaknya bisa sedikit membantu orang-orang yang napasnya Senin Kamis seperti aku.
Hanya membayangkan saja, hatiku sudah berbunga dan senyum merekah menghias wajah.

Beruntung aku memakai masker, sehingga senyum manisku yang tanpa alasan tidak dilihat orang lain. Andai mereka melihat, bisa jadi aku disuruh pindah ke dokter lain ; dokter jiwa.

Andai tanpa masker, aku tidak sanggup menyembunyikan gigiku yang telah tanggal.

 

 

 

Related posts

Ini Kemauanku

Ki Banjar Asman

Cerita Wimala : Laila Majnun

Redaksi Surabaya

Angin Agustus

Redaksi Surabaya