SuaraKawan.com
Sastra Kawan

Orang-orang Waras

Perempuan itu masih berjalan di tengah rintik hujan. Sejak semalam guyuran air langit itu betah mengirim keberkahan ke bumi. Kaki itu terseok-seok, mungkin telah berkilo-kilo meter jalan ia jejaki.

Bunyi kruyuk-kruyuk mulai terdengar dari perutnya. Sebuah tas besar lusuh yang talinya nyaris putus terselempang di pundak dan tidak ada orang yang tahu isinya. Perempuan itu  berjalan tanpa tahu tujuan dan asalnya, sejauh itu, belum ada makanan yang masuk ke perutnya.

Ketika ia sampai di dekat warung makan, aroma masakan membuat perutnya semakin keroncongan. Perempuan itu menghentikan langkah dan duduk tak jauh dari warung. Kali ini ia berharap ada orang yang melemparinya makanan.

Sekian lama ia menunggu, tak ada orang menghampirinya. Warung terlihat sepi meski sudah buka. Perempuan itu berdiri dan berjalan mendekati warung. Badannya yang lemas membuat jalannya pelan seperti orang mengendap-endap.

Seorang pelayan warung yang melihat gelagat mencurigakan segera menghampiri perempuan itu sembari mengacungkan pisau yang dipegangnya. Ia bermaksud menakut-nakuti orang yang dianggapnya kurang waras itu agar menjauh dan tidak mengotori warung.

Karena ditakut-takuti dengan pisau yang jelas bisa melukai, ia pun meringkuk. Perempuan itu dengan tatapan tajam mengangkat tasnya dengan cepat untuk menghindari ancaman. Melihat reaksi itu si pelayan geram bercampur takut, mulutnya berteriak.

“Ada orang ngamuk, orang gila ngamuk.”

Orang-orang berdatangan, bukan hanya penghuni warung, beberapa orang di sekitar warung ikut berkerumun.

“Tadi saya berniat menyuruhnya pergi, tapi dia menyerang saya,” kata si pelayan.

“Wah, bahaya ini, nggak bisa dibiarkan,” sahut beberapa orang.

Seseorang memulai, tiba-tiba perempuan itu didorong ke tepi jalan membuat tubuhnya terhuyung. Kemudian tubuh itu diseret menjauh.

“Apa yang kalian lakukan?” teriak seseorang yang terlihat bijak.

“Ada orang gila ngamuk ketika disuruh pergi.”

“Mungkin dia akan mencuri di warung.” Seseorang bersuara.

“Ayo kita usir!”

“Tenang, sebentar,” sela seseorang yang bijak tadi.

Namun imbauan itu tak dihiraukan orang-orang. Mereka terus menyeret dan ada yang mulai melayangkan pukulan.

“Berhenti!” Orang bijak itu menghamburkan tubuhnya ke perempuan yang disangka gila itu untuk menghindari amukan orang. “Bukan dia yang ngamuk, tapi kalian.” Orang bijak itu berteriak lantang, membuat semua terdiam. Beberapa orang mulai meninggalkan kerumunan tanpa kejelasan isi pikiran mereka. Entah.

Barangkali pikiran si pelayan sedang kacau, membayangkan pemilik warung yang marah-marah karena sepi pengunjung. Barangkali juga hujan yang belum reda dan harga kebutuhan yang kian melambung kadang menghentak perasaan pemilik warung.

Orang bijak itu masih bersama si perempuan.

“Ibu siapa, dan hendak ke mana?”

Tidak ada jawaban, selain Isak rasa sakit karena kaki yang berdarah, atau sebagian tubuhnya yang terkena pukulan. Bahkan ia menggeleng ketika orang bijak itu mengajaknya mengobati luka  di kakinya. Perempuan itu hanya menunduk dan sibuk membetulkan tali tasnya yang putus.

Setelah satu per satu orang-orang waras mulai meninggalkannya dan orang bijak beranjak, perempuan itu melanjutkan perjalanan. Hilang sudah suara kruyuk-kruyuk di perut, berganti perih di jempol kaki dan kepala yang pusing. Ia hanya tahu kakinya diciptakan untuk berjalan. Dan ia tersenyum merasakan asin tetes hujan yang jatuh di mulutnya ketika berzikir.

 

Murni Tiyana

Mojokerto, 10042022

Related posts

Bengek, Wimala Punya Kisah

Redaksi Surabaya

Puisi : Tarian Liar Keheningan

Redaksi Surabaya

Di Satu Hari Yang (Cerah)

Redaksi Surabaya