SuaraKawan.com
Kolom Ustadz

Valentine Day Dalam Pandangan Islam Dan Budaya Ketimuran Bangsa Indonesia

Valentine Day atau yang sering disebut sebagai hari kasih sayang ini sudah merasuki dan menancap di sanubari seluruh generasi muda di Indonesia. Hari yang diagungkan dengan bentuk pelampiasan kasih sayang dua sejoli yang sedang kasmaran. Budaya ini semakin lama diartikan ke ranah negatif yaitu sex bebas pra nikah. Dengan dalih hari kasih sayang, banyak orang yang tidak bertanggungjawab mengambil kesempatan dalam kesempitan. “Aku ingin kamu tunjukkan kepadaku rasa kasih dan sayangmu,” ucapan semacam ini yang biasa keluar dari pasangannya.

 

Kondisi seperti ini, sebagai seorang muslim, mari bertanya pada diri kita sendiri, apakah kita akan mencontoh begitu saja sesuatu yang jelas bukan bersumber dari ajaran Islam?

Firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 36 menyatakan, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawaban.” Telah jelas melalui ayat tersebut bahwa segala perbuatan yang kita lakukan yaitu semua pancaindera akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan Yang Maha Esa. Kehidupan sesungguhnya datang setelah kematian. Inilah saat ketika perbuatan baik atau buruk manusia, akan dipertanggungjawabkan. Berarti budaya barat ini adalah budaya yang seharusnya tidak kita tiru bahkan dilakukan oleh generasi muda. Karena berdampak negatif, khususnya bagi seorang wanita. Secara psikologis aib ini di mata masyarakat dinilai selamanya sebagai wanita murahan. Sebagai muslim yang tahu tentang firman Allah itu, seharusnya tahu bahwa perbuatan itu melanggar ajaran Islam dan tidak mengikutinya. Sekaligus Islam melarang kepercayaan yang mengikut kepada suatu kepercayaan, dalam Islam disebut Taqlid. Hadits Rasululloh SAW “Barang siapa yang meniru suatu kaum (agama), maka dia termasuk kaum itu.”

Firman Allah SWT dalam Surah AL Imran ayat 85, “Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-sekali tidaklah diterima agama itu daripadanya,dan di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” Dalam Islam dengan jelas melarang Valentine untuk diikuti oleh umatnya, maka kita seyogyanya mengikuti dan melaksanakan perintah itu. Valentine merupakan hasil pemikiran dan rekaan manusia, tepatnya bangsa asing yang belum tentu itu baik, di mata agama di Indonesia. Umat muslim tahu bahwa Allah SWT mempunyai sifat Ar Rahman dan Ar Rohim yakni maha pengasih lagi maha penyayang kepada semua umatnya. Siapa pun umatnya yang memohon dan meminta pertolongan dan ampunan dan selalu mendekatkan diri, maka akan terkabul keinginan dan do`anya.

Dan bentuk kasih sayang Allah kepada umatnya melalui proses bukan hanya sehari, apalagi diselimuti hawa nafsu. Sekaligus bentuk kasih sayang Allah kepada umatnya dengan diciptakan oleh-Nya alam yang begitu indah.

Valentine pun tidak sesuai dengan budaya ketimuran bangsa Indonesia, karena itu perbuatan yang tidak baik secara etika maupun moral. Bangsa Indonesia sejak dulu masyarakatnya dikenal sangat santun, ramah, rukun dan saling menghargai satu sama lain. Negeri kita sangat menonjolkan budaya ketimuran yang terkenal dengan penghormatan dan penghargaan pada etika yang luhur, didasari atas tata karma yang baik. Budaya ketimuran pada intinya bersumber dari agama-agama yang lahir di dunia timur (Soelaeman, 2007:53). Pada umumnya manusia di dunia timur menghayati hidup yang meliputi seluruh eksistensinya dalam segala hal di kehidupannya.

Manusia yang berpikir secara Timur tidak ada keinginan untuk menguasai dunia/materi. Melainkan pemikiran ditekankan pada intuisi – yakni kepribadian manusia tidak terletak pada inteleknya, tetapi pada hatinya. Karena hati bisa menyatukan akal budi dan intiusi serta inteligensi dan perasaan. Intinya kita hidup tidak hanya mengandalkan otak, dengan hati bisa memilah mana yang baik atau buruk suatu perbuatan.

Kebudayaan Timur terbentuk dari nenek moyang bangsa Indonesia, yang cara pembinaan kesadarannya melalui pelatihan fisik dan mental. Pelatihan fisik dicontohkan dengan cara menjaga pola makan dan minum, makanan atau minuman apa saja yang boleh dikonsumsi, karena hal tersebut berpengaruh pada pertumbuhan maupun fisik. Alkohol merupakan minuman yang tidak baik bagi pertumbuhan dan fisik manusia, maka jauhi dan hindari. Sedang pelatihan mental berupa kegiatan yang dilakukan sendiri, seperti : bertapa, berdo`a, beribadah, puasa, dll. Sehingga terbentuk perilaku toleransi/pangerten yang melandaskan pada etika dan moral atau baik dan buruk. Dalam kebudayaan Eropa, segala pemikiran berlandaskan pada otak, penghargaan yang tinggi pada individu serta tidak melibatkan hati khususnya otak kanan dalam mengambil keputusan. Semakin individu menunjukkan kemampuan dan kelebihannya, maka penghormatan akan diterima melalui materi/duniawi.

Maka kita sebagai generasi muda Indonesia, sejak saat ini marilah kita kembali pada kebudayaan Timur bangsa kita. Yang sudah lama melegenda dan masyhur di dunia, dengan kearifan lokal seperti gotong royong, sikap ramah, rukun, santun dan penuh hormat.

 

Oleh

SRI SUNARNI,S.Pd.M.Pd (Guru PPKn MTs N 6 Pasuruan)

 

Related posts

Madrasah Al-Hikam Jatirejo Diwek Jombang Bersama Jaringan Gusdurian Membuat Biopori di GKJW Kertorejo

Redaksi Surabaya

Joyfull Learning di Madrasah Diniyah

Redaksi Surabaya

Kawah Sikidang dan Jembatan Sirath

Redaksi Surabaya