
Surabaya-SUARAKAWAN.COM: PERBASI (Persatuan Basket Seluruh Indonesia) Jawa Timur mengecam dugaan kekerasan Pelatih Basket SMAK St Louis 1 Surabaya terhadap siswa. Bahkan, PERBASI mengancam akan mencabut lisensi kepelatihan.
Pada awak media, Ketua Umum PERBASI (Persatuan Basket Seluruh Indonesia) Jawa Timur, Grace Evi Ekawati, mengaku jika pihaknya sudah menerima laporan kasus dugaan kekerasan terhadap siswa oleh pelatih berinisial IV. Kasus kekerasan tersebut dilaporkan oleh Divisi PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Lembakum Indonesia.
Bahkan, Evi mengecam atas aksi dugaan kekerasan yang dilakukan pelatih Basket tersebut. Ia mengatakan, PERBASI tidak pernah mengajarkan kekerasan dalam memberikan pelatihan, apalagi terhadap siswa-siswa di sekolah.
“Kami PERBASI Jawa Timur mengecam keras tindakan dugaan kekerasan itu jika benar-benar terjadi. Dan memang kami mendapat laporan kasus dugaan kekerasan itu,” ujar Evi.
Tidak hanya itu, lanjut Evi, pihaknya juga tidak akan tinggal diam. PERBASI akan memberikan sanksi tegas atas kasus tersebut.
Namun, kata Evi, PERBASI Jatim hingga kini masih menunggu bukti dari hasil investigasi yang dilakukan oleh Divisi PPA Lembakum Indonesia. “Artinya kita (PERBASI Jatim) tidak akan tinggal diam. Kita akan memberikan sanksi. Dan kita masih menunggu bukti dan hasil investigasi dari lembaga yang melaporkan kasus ini,” terangnya.
Karena, tambah Evi, dari bukti-bukti dan hasil invesitigasi nantinya akan dilakukan meeting untuk memberikan sanksi terhadap pelatih Basket yang diduga melakukan kekerasan tersebut.
“Setelah mendapat bukti-bukti, kita akan lakukan meeting untuk menentukan sikap dan sanksi. Dan sanksi itu bisa skorsing 2 sampai 3 tahun hingga pencabutan lisensi. Tergantung tingkat keparahan yang dilakukan. Dan pencabutan lisensi itu sudah sanksi final,” tambahnya.
Sementara, Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMAK St Louis 1, Hery, ketika dikonfirmasi awak media by phone, Selasa (9/12/2025), tidak berada di tempat. Menurut salah seorang staf bernama Dewi, Wakasek masih ada kegiatan. Bahkan, ia mengaku tidak tahu kapan Wakasek tersebut bisa dihubungi awak media.
Seperti diketahui, seorang Pelatih Basket SMAK St Louis 1 Surabaya diduga melakukan kekerasan terhadap siswa. Dugaan kekerasan itu tidak hanya verbal, melainkan kerap juga dengan pemukulan.
Dugaan kekerasan itu terungkap setelah sejumlah siswa membuat laporan pengaduan ke Lembakum Indonesia. Dalam laporannya, para siswa ini mengaku jika mereka kerap mengalami kekerasan yang diduga dilakukan oleh pelatih Basket berinisial IV. Dugaan kekerasan itu tidak hanya sekali, tetapi kerapkali dilakukan ketika siswa didiknya mengalami kesalahan dalam latihan Basket.
Brilian Ardana Riswari, S.H., M.Kn., Ketua Divisi Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Lembakum Indonesia membenarkan kejadian tersebut. Pada sejumlah awak media, Brilian menyatakan, bahwa korban dugaan kekerasan tidak hanya dialami satu siswa. Melainkan, banyak siswa yang mengikuti pelatihan Basket kerap mendapatkan perlakuan kekerasan yang sama.
“Para siswa yang menjadi korban ini melakukan laporan pengaduan ke kami. Dan korbanya lebih dari satu orang,” ujar Brilian pada awak media, Senin (8/12/2025).
Padahal, menurut Brilian, tindakan kekerasan apapun sangat dilarang di lingkungan sekolah. Apalagi dilakukan oleh seorang guru maupun pelatih olahraga.
Karena, lanjut Brilian, berbagai bentuk kekerasan di sekolah akan berakibat sangat fatal. Tidak hanya fisik, tetapi lebih berdampak pada psikis maupun mentalitas siswa.
“Dugaan kekerasan ini tidak hanya fisik, tetapi juga verbal. Dan dampaknya sangat luar biasa pada perkembangan psikis atau mentalitas siswa. Apalagi siswa-siswa ini masih di bawah umur,” jelasnya.
Dikatakan Brilian, selain mengantongi sejumlah bukti rekaman, pihaknya juga meminta keterangan dari sejumlah siswa yang mengikuti pelatihan Basket.
“Mereka (siswa) dibentak-bentak dengan kalimat kasar sambil kepalanya dipukul. Itu khan tidak boleh. Apalagi ini berada di Lembaga Pendidikan, dan yang diajar adalah siswa-siswa yang masih dibawah umur,” ungkapnya.
Brilian mengungkapkan, dari sejumlah informasi yang diterima Divisi PPA Lembakum menyebutkan bahwa Pelatih Basket berinisial IV itu merupakan pelatih Basket yang ditunjuk oleh PERBASI (Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia) untuk SMAK St. Louis 1 Surabaya. Dan, pelatih IV dikenal di kalangan siswa sangat temperamental. Tidak hanya kalimat-kalimat kasar yang kerap dilontarkan. Tetapi biasanya dibarengi oleh pemukulan.
“Kami juga meminta informasi dari sekolah lain di Jawa Timur yang juga mendapatkan pelatihan Basket, apakah benar sistem pelatihan Basket dengan kekerasan seperti itu? Tapi yang kami dapati bahwa kekerasan itu tidak dibenarkan. Seorang pelatih melakukan pelatihan harus sesuai program dan sistem yang baik, bukan kekerasan,” terangnya.
Bahkan, tambah Brilian, Divisi PPA Lembakum sudah mendatangi SMAK St. Louis 1 Surabaya terkait kasus tersebut. Namun jawaban pihak sekolah dinilai kurang memuaskan. Menurutnya, pihak sekolah terkesan ‘melindungi’ oknum pelatih Basket tersebut.
“Kami sudah mendatangi pihak sekolah. Tapi pihak sekolah mengatakan bahwa selama ini tidak ada laporan ke sekolah. Bahkan, pihak sekolah meminta bukti atas kasus kekerasan ini. Seharusnya kedatangan kami ditindaklanjuti, bukan dibantah,” tegasnya.
Atas kasus kekerasan siswa di lingkungan sekolah ini, Brilian mengaku, sudah melakukan laporan ke PERBASI Jatim. Tak hanya itu, dengan bukti-bukti yang ada pihaknya akan segera membuat laporan kepolisian.
“Sekali lagi, kami mengantongi bukti-bukti kekerasan yang terjadi. Selain sudah mendatangi sekolah, kami juga melaporkan ke PERBASI Jatim. Kami meminta agar pelatih tersebut segera diganti. Dan kami akan membuat laporan kepolisian atas kasus ini,” pungkasnya. (red)


