
Oleh: Dr. Wahyu Abdul Jafar, M.HI, Dosen Fakultas Syariah UIN Jurai Siwo Lampung
Indonesia bukan negeri yang dibangun dari satu warna. Dari Sabang sampai Merauke, Masyarakat hidup dengan latar belakang agama, suku, budaya, bahasa, dan tradisi yang beragam. Perbedaan itu bukan sesuatu yang baru. Ia telah menjadi bagian dari perjalanan bangsa jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai sebuah negara. Namun, keberagaman selalu memiliki dua kemungkinan. Ia dapat menjadi kekuatan yang membuat bangsa semakin kaya, tetapi juga dapat berubah menjadi sumber konflik ketika perbedaan tidak dikelola dengan baik.
Karena itu, persoalan kita sesungguhnya bukan bagaimana menghilangkan perbedaan, melainkan bagaimana belajar hidup bersama di tengah perbedaan. Di sinilah moderasi beragama menemukan relevansinya. Moderasi beragama bukan berarti membuat seseorang menjadi kurang taat terhadap agamanya. Moderasi juga bukan upaya mencampuradukkan ajaran agama. Moderasi beragama adalah cara pandang dan sikap dalam menjalankan kehidupan beragama dengan mengedepankan keseimbangan, keadilan, penghormatan terhadap sesama, serta kesediaan hidup berdampingan secara damai. Dengan kata lain, seseorang dapat menjalankan agamanya dengan teguh sekaligus menghormati orang lain yang memiliki keyakinan berbeda.
Beragama tanpa merasa paling berhak
Salah satu tantangan kehidupan beragama saat ini adalah munculnya kecenderungan untuk mengukur orang lain berdasarkan ukuran keyakinan kita sendiri. Perbedaan pandangan keagamaan dengan mudah berubah menjadi perdebatan. Perbedaan praktik keagamaan terkadang berkembang menjadi saling menyalahkan. Lebih memprihatinkan ketika perbedaan tersebut dibawa ke ruang publik dan media sosial. Sebuah potongan video dapat menyulut kemarahan. Sebuah unggahan dapat memancing perdebatan panjang. Pernyataan seseorang yang sebenarnya berada dalam konteks tertentu dapat dipotong, disebarkan, lalu dipahami secara berbeda oleh ribuan orang. Di ruang digital, orang sering merasa lebih berani mengatakan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah mereka ucapkan ketika berhadapan langsung dengan orang lain. Karena itu, moderasi beragama juga harus hadir dalam cara kita menggunakan media sosial. Menjadi moderat bukan berarti tidak boleh mengkritik. Kritik tetap diperlukan. Perbedaan pendapat juga merupakan bagian dari kehidupan demokratis. Tetapi kritik tidak harus disampaikan dengan penghinaan, dan perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan permusuhan. Kita perlu membangun kebiasaan sederhana: berbeda tanpa membenci, tegas tanpa merendahkan, dan meyakini kebenaran agama sendiri tanpa harus menghilangkan martabat orang lain.
Toleransi bukan berarti kehilangan keyakinan
Masih ada anggapan bahwa toleransi berarti mencampuradukkan keyakinan. Anggapan ini perlu diluruskan. Toleransi bukan berarti seseorang harus mengorbankan keyakinannya. Toleransi berarti memberikan ruang kepada orang lain untuk menjalankan keyakinannya dan hidup sebagai warga negara yang memiliki hak yang sama. Seorang Muslim tidak kehilangan identitas keislamannya hanya karena menghormati tetangganya yang berbeda agama. Begitu pula seseorang tidak menjadi kurang teguh dalam keyakinannya hanya karena mau bekerja sama dengan orang lain yang berbeda latar belakang. Justru di situlah kedewasaan beragama diuji. Kita dapat berbeda dalam urusan keyakinan, tetapi tetap bertemu dalam urusan kemanusiaan. Kita dapat berbeda dalam tata cara ibadah, tetapi tetap bekerja bersama menjaga lingkungan. Kita dapat berbeda dalam pandangan keagamaan, tetapi tetap saling membantu ketika tetangga mengalami musibah. Inilah wajah toleransi yang sesungguhnya: bukan menghapus perbedaan, melainkan menemukan ruang bersama di tengah perbedaan.
Moderasi dimulai dari keluarga
Membangun masyarakat yang toleran tidak cukup dilakukan melalui seminar, slogan, atau kampanye. Moderasi beragama harus tumbuh dari kehidupan sehari-hari. Keluarga menjadi tempat yang sangat penting. Anak-anak perlu dibiasakan memahami bahwa manusia memang berbeda. Mereka perlu diajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk membenci. Mereka juga perlu diberi contoh bahwa menghormati orang lain merupakan bagian dari akhlak. Keteladanan orang tua jauh lebih kuat daripada sekadar nasihat. Ketika anak melihat orang tuanya menghargai tetangga yang berbeda agama, tidak menghina kelompok lain, tidak menyebarkan berita yang belum jelas, dan menyelesaikan perbedaan dengan dialog, sebenarnya orang tua sedang memberikan pendidikan moderasi yang sangat berharga. Sebaliknya, jika anak tumbuh dalam lingkungan yang gemar mencaci kelompok lain, menganggap kelompok berbeda sebagai ancaman, dan selalu melihat perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan, sikap tersebut berpotensi terbawa hingga dewasa. Karena itu, moderasi beragama pada akhirnya bukan hanya agenda negara. Ia merupakan tanggung jawab keluarga dan masyarakat.
Sekolah dan kampus jangan menjadi ruang eksklusif
Pendidikan juga memiliki peran yang sangat penting. Sekolah dan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengajarkan pengetahuan keagamaan. Lembaga pendidikan harus menjadi ruang perjumpaan yang sehat bagi berbagai perbedaan. Anak muda perlu diajarkan bagaimana berdialog dengan orang yang berbeda pandangan. Mereka perlu belajar membedakan antara kritik terhadap gagasan dan penghinaan terhadap pribadi. Di tengah derasnya informasi digital, kemampuan tersebut semakin penting. Generasi muda hari ini hidup dalam dunia yang memungkinkan mereka bertemu dengan berbagai pandangan hanya melalui telepon genggam. Mereka dapat menemukan pemikiran yang sangat moderat, tetapi juga dapat menemukan narasi kebencian dan intoleransi dalam hitungan detik. Karena itu, pendidikan moderasi beragama juga harus disertai dengan literasi digital. Anak muda perlu memiliki kemampuan untuk bertanya: Siapa yang membuat informasi ini? Apa kepentingannya? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Apakah informasi tersebut sengaja dibuat untuk memprovokasi? Kemampuan menyaring informasi merupakan bagian penting dari menjaga kerukunan di era digital.
Menjadi masyarakat yang beradab
Tujuan akhir moderasi beragama bukan sekadar menciptakan masyarakat yang tidak bertengkar. Lebih jauh dari itu, moderasi diperlukan untuk membangun masyarakat yang beradab. Masyarakat beradab adalah masyarakat yang mampu mengendalikan dirinya ketika berbeda pendapat. Ia tidak mudah menghukum orang lain hanya karena perbedaan. Ia mampu menggunakan bahasa yang santun ketika berdiskusi. Ia menghormati hukum dan hak orang lain. Dalam masyarakat seperti itu, agama tidak hanya hadir dalam simbol dan ritual, tetapi juga tercermin dalam perilaku sosial. Keberagamaan seseorang semestinya membuatnya semakin jujur, semakin adil, semakin menghargai manusia, dan semakin peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Sebab, keberagamaan yang tidak melahirkan akhlak sosial akan kehilangan salah satu tujuan pentingnya. Kita membutuhkan masyarakat yang religius sekaligus rasional, taat sekaligus terbuka, teguh dalam keyakinan tetapi tidak mudah memusuhi perbedaan.
Moderasi untuk ketahanan bangsa
Pada akhirnya, moderasi beragama memiliki hubungan yang erat dengan ketahanan bangsa. Bangsa yang masyarakatnya mudah terprovokasi oleh perbedaan akan lebih mudah terpecah. Sebaliknya, bangsa yang memiliki kemampuan mengelola perbedaan akan lebih kuat menghadapi berbagai tekanan. Ancaman terhadap persatuan bangsa tidak selalu datang dalam bentuk konflik besar. Kadang ia dimulai dari percakapan kecil yang penuh kebencian, unggahan yang sengaja memecah belah, atau kebiasaan memberi label buruk kepada kelompok lain. Karena itu, menjaga persatuan dapat dimulai dari hal yang sederhana: menjaga ucapan, memeriksa informasi sebelum membagikannya, menghormati perbedaan, dan tidak mudah terprovokasi. Indonesia tidak membutuhkan masyarakat yang semuanya berpikir sama. Yang kita butuhkan adalah masyarakat yang mampu hidup bersama meskipun tidak selalu berpikir sama. Di tengah keberagaman Indonesia, moderasi beragama bukan pilihan yang membuat kita kehilangan identitas. Sebaliknya, moderasi adalah jalan untuk menjaga agar keberagaman tetap menjadi kekuatan. Kita boleh berbeda keyakinan, berbeda tradisi, berbeda pilihan, bahkan berbeda cara memahami banyak hal. Tetapi ada satu hal yang seharusnya tidak boleh berbeda: komitmen untuk menjaga martabat manusia dan keutuhan bangsa. Sebab, masyarakat yang beradab bukan masyarakat tanpa perbedaan. Masyarakat yang beradab adalah masyarakat yang tahu bagaimana memperlakukan perbedaan dengan bijaksana. Dan dari sanalah toleransi tumbuh, kerukunan terjaga, serta ketahanan bangsa semakin kokoh.




