
Surabaya-SUARAKAWAN.COM: Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan modern, muncul pertanyaan yang menarik untuk direnungkan, benarkah konsep kesadaran yang kini banyak dibahas dalam perspektif quantum telah lama hidup dalam kearifan tradisi Nusantara?
Pertanyaan ini menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kegiatan penganugerahan Lencana Emas Supranatural dan Diskusi Budaya yang diselenggarakan oleh Yayasan Pasopati Cakra Nusantara di Hotel Sahid Surabaya, Jumat (14/8/2026). Kegiatan yang mengangkat semangat pelestarian budaya dan spiritualitas Nusantara ini dibuka oleh Ki Bagus Mpu Batu, Ketua Yayasan Pasopati Cakra Nusantara.
Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya merawat warisan leluhur sebagai sumber nilai dan kebijaksanaan yang dapat menjadi pegangan masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman. Ia menilai, warisan leluhur Nusantara tidak hanya berupa artefak budaya atau tradisi seremonial, tetapi juga mencakup ajaran hidup, etika, laku spiritual, serta cara pandang terhadap hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.
Dalam sesi Diskusi Budaya, Dr. Jarmani, S.Pd., M.Pd., Dosen UWKS (Universitas Wijaya Kusuma Surabaya) sekaligus Dewan Kebudayaan Surabaya, mengajak masyarakat untuk melihat kembali kekayaan intelektual dan spiritual yang tersimpan dalam berbagai tradisi Nusantara. “Banyak ajaran leluhur yang mengajarkan kesadaran diri, pengendalian batin, harmoni dengan alam, serta keseimbangan hidup. Nilai-nilai tersebut masih sangat relevan untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat modern saat ini,” ujarnya.

Dr. Jarmani mengatakan, bahwa merawat warisan leluhur tidak cukup hanya dengan melestarikan tradisi secara seremonial, tetapi juga dengan menghidupkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya agar tetap relevan bagi generasi muda. Karena itu, ia mengajak para tokoh spiritual, budayawan, dan pegiat kearifan lokal untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana pewarisan ilmu dan nilai-nilai Nusantara.
“Jika dahulu proses pewarisan ilmu dilakukan melalui padepokan, sanggar, dan tradisi nyantrik, maka saat ini ruang digital dapat menjadi wahana baru untuk menurunkan pengetahuan leluhur kepada generasi muda. TikTok, YouTube, Instagram, dan berbagai platform lainnya dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan yang mencerahkan dan membangun kesadaran,” jelasnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Pribadiono, M.S., Direktur Eksekutif Quantum HRM Internasional, memaparkan keterkaitan antara spiritualitas dan kesadaran quantum. Ia menjelaskan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan modern semakin membuka ruang dialog mengenai kesadaran manusia, energi, niat, serta pengaruhnya terhadap kehidupan.
Dikatakan Prof. Pribadiono, berbagai konsep yang kini dibahas dalam perspektif kesadaran modern memiliki titik temu dengan nilai-nilai yang telah lama berkembang dalam tradisi spiritual masyarakat Nusantara. Oleh karena itu, budaya, spiritualitas, dan ilmu pengetahuan seharusnya dipandang sebagai unsur yang saling melengkapi dalam membangun manusia yang utuh.
Diskusi berlangsung dinamis dan penuh antusiasme. Para peserta diajak untuk memahami bahwa kemajuan teknologi tidak harus menjauhkan manusia dari akar budayanya. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi jembatan untuk memperluas penyebaran nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.
Selain diskusi budaya, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penganugerahan Lencana Emas Supranatural kepada sejumlah tokoh yang dinilai memiliki dedikasi dalam menjaga dan mengembangkan nilai-nilai budaya serta spiritualitas Nusantara.
Melalui kegiatan ini, Yayasan Pasopati Cakra Nusantara berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk merawat warisan leluhur Nusantara. Tidak hanya sebagai bagian dari identitas budaya, tetapi juga sebagai sumber inspirasi dalam membangun kesadaran, karakter, dan peradaban bangsa di masa depan.

Di tengah derasnya modernisasi, warisan leluhur Nusantara bukanlah peninggalan masa lalu yang usang, melainkan sumber cahaya yang terus menerangi perjalanan manusia menuju kesadaran yang lebih utuh. (red)





