Warga Yalengga dan Libarek Papua Bentrokan, 3 Tewas, 12 Luka

Papua (Suarakawan.com) – Bentrokan antar warga kembali pecah di bumi Papua. Bentrokan melibatkan warga dari Distrik Yalengga dengan masyarakat Libarek. Bentrokan pecah di Jalan Trans Papua, Wamena-Kurulu Kampung Mulima, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Berdasar informasi pihak kepolisian, bentrokan itu mengakibatkan 3 orang tewas dan 12 orang luka-luka, serta 2 unit rumah terbakar, 1 honai terbakar, 1 unit truk serta 5 unit motor dirusak.

Adapun korban meninggal dunia antara lain Kepala Kampung Mulima Yusuf Wilil (45) mengalami luka panah di rusuk kanan. Lalu Larekma Wandikbo (55), warga Kampung Waga-waga mengalami luka tusuk di punggung belakang, dan pria berusia 50 tahun yang identitasnya belum diketahui.

Sementara korban luka-luka akibat benda tumpul berasal dari Distrik Libarek sebanyak delapan orang, yakni Stef Wilil (37), Simson Alua (35), Yulianus Wetipo (28), Yohanes Alua (35), Atelos Jikwa (26), Etius Jikwa (27), Yulianus Wetipo (32) dan Ambuke Wandikbo (46).

Sedangkan korban luka-luka dari warga Distrik Yalengga berjumlah 4 orang, yakni Tinus Mumpo (58), Mina Wandikbo (45), Olince Togodli (40) dan Huber Alua (50).

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Mustofa Kamal mengungkapkan, peristiwa bentrok antar-warga ini dipicu penganiayaan yang dialami seorang wanita dari Distrik Yalengga bernama Duge Wanimbo pada tanggal 29 September 2018 lalu.
“Jadi bentrok ini bermula dari kasus penganiayaan yang dilakukan seorang pria dari Distrik Libarek. Kemudian hal ini menjadi konflik antar-warga,” ungkap Kamal, Rabu (3/10/2018).

Kamal menjelaskan, puncak konflik antar-warga ini terjadi kemarin ketika warga dari Distrik Yalengga berjumlah 150 orang mendatangi warga di Kampung Mulima Distrik Yalengga, lalu mereka membakar satu honai dan menganiaya kepala kampung setempat hingga tewas.

Saat bentrok terjadi, lanjut Kamal, aparat dari Polsek Kurulu telah berupaya mengendalikan massa dari kedua belah pihak. Namun kedua belah pihak yang bertikai tidak bisa dikendalikan, sehingga bantuan kendali operasi (BKO) pun dilakukan dari Polres Jayawijaya.

“Saat itu kita langsung mengendalikan massa, lalu anggota reskrim memberikan arahan kepada masyarakat bahwa kasus penganiayaan yang menjadi pemicu kasus ini telah ditangani, sehingga tak perlu ada konflik terjadi. Kini masyarakat pun telah kembali ke rumah masing-masing, namun kami terus mengantisipasi agar tak ada bentrok susulan,” ujarnya.

Kamal menambahkan, kepolisian menyayangkan bentrok antar-warga ini terjadi, apalagi tiga orang dikabarkan meninggal dunia dan 12 orang luka-luka, serta adanya kerugian material.(kcm/ziz)