Wakil Wali Kota Surabaya: Kaum Muda Jangan Apatis Politik

Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana

SURABAYA (suarakawan.com) – Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana mengajak kaum muda untuk tidak alergi politik. Menurutnya, selama ini politik menjadi pelarian mereka yang gagal masuk pegawai negeri sipil (PNS), dokter, bisnis dan lainnya sehingga masuk partai politik (Parpol) sebagai pelarian dan berujung rusaknya tatanan politik.

Whisnu Sakti Buana menyatakan hal itu saat menjadi pemateri pada acara Youth Town Hall yang digelar PT XL Axiata, di Gedung C Fakultas Ilmu Sosial Politik (Fisip) Kampus B Universitas Airlangga (Unair), Senin (14/5).

“Mahasiswa, pelajar, kaum muda jangan apatis bicara politik. Dari politik bisa raih kekuasaan. Tak ada jalan lain untuk meraih kekuasaan selain lewat politik. Di bumi tercinta ini yang masuk politik banyak yang gagal dibidang lain, sebagai usahawan, sebagai dokter,” kata Whisnu Sakti.

Pria yang menerjuni politik praktis sejak berstatus mahasiswa ini mengingatkan bahwa jika semakin sedikit orang baik dan berkompeten terjun ke politik sejak awal, maka semakin sedikit pula pemikir baik bangsa ini.

Kepada mahasiswa, Wisnu mengingatkan para tokoh-tokoh muda pra kemerdekaan yang menjadi politisi. Soekarno, Moh Yamin, Bung Tomo dan lainnya yang ketika itu muda, masuk golongan pemuda. Melalui jalan politik, mereka tertempa menjadi pemimpin handal, menjadi negarawan, dan kemudian memimpin perjuangan serta menyatukan bangsa. Mereka memimpin perjuangan dan memerdekakan Republik Indonesia.

“Karena itu anak muda jangan apatis politik. Jangan anggap politik itu kotor, politik itu ilmu, politik itu suci. Yang kotor itu orangnya, yang jahat manusianya. Apabila kaum muda ingin mengubah sistem, maka harus masuk ke dalam. Apabila ingin mengubah dari luar diperlukan ekstra power,” imbuh Whisnu.

Sementara itu, Ketua Pusat Informasi dan Humas sekaligus pakar politik Unair Suko Widodo mengatakan minimnya ketertarikan kaum muda pada politik bukan saja terjadi di Indonesia. “Di Malaysia contohnya, yang tua kembali terpilih. Mahathir Muhammad masih turun tangan,” kata Suko. Karena itu, Suko melihat perlunya anak muda untuk menjadikan dunia politik praktis sebagai salah satu pilihan dalam berjuang.

Selain itu dalam acara ini hadir juga sebagai pembicara, yaitu Agus Imam Sonhaji, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kota Surabaya, Firzan Syahroni, Redaktur Politik Jawa Pos Koran dan sosok pemuda yang mau bangkit untuk dunia politik dengan mendirikan Indonesia Berbicara yaitu Kevin Tan.

Acara diskusi publik ini merupakan rangkaian sosialisasi XL Future Leaders (XLFL) Global Thinking yang kini memasuki tahun ke-7. XL Axiata kembali membuka kesempatan bagi para mahasiswa untuk mengikuti program XLFL yang dibuka mulai 1 April hingga 31 Juli 2018.

Caretaker Vice Presiden XL Axiata East Region, Mochamad Imam Mualim mengatakan, “Tahun ini akan menjadi tahun ketujuh bagi Program XLFL Global Thinking. Kembali kami membuka kesempatan bagi para mahasiswa Indonesia untuk mendapatkan berbagai manfaat melalui program yang sangat bagus ini. Kami percaya, apa yang kami berikan melalui program ini akan sangat mendukung para siswa untuk mempersiapkan diri mereka masuk dalam dunia global dan digital. Saat ini sudah ada 6 angkatan yang terbentuk dengan 4 angkatan di antaranya telah menyelesaikan program yang kami berikan. Total, program ini telah berhasil diselesaikan oleh 550 peserta sejak dimulainya program ini.”

Imam Mualim menambahkan, tahun ini sosialisasi berbeda dari XLFL yang sebelumnya, di tahun ini XL Axiata menyelenggarakan sosialisasi berupa diskusi publik yang membahas tentang isu yang terkait di tiap daerah yaitu Bandung, Makassar, Medan, Surabaya, Jakarta, dan Yogyakarta.

Diskusi public yang di Surabaya ini mengambil tema “Youth In Politics” yang diadakan di Gedung C Fakultas Ilmu Sosial Politik (Fisip) Kampus B Universitas Airlangga (Unair), Pertimbangan memilih tema diskusi public ini, karena ingin mengajarkan dan melatih para siswa untuk lebih peka terhadap kondisi dan permasalahan yang ada di daerah mereka masing-masing.(ris/rur)