Trump-Kim Jong-un Batal Bertemu, Begini Reaksi Sekjen PBB

NEW YORK (suarakawan.com) – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres menyatakan “sangat prihatin” setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan pertemuan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un bulan depan.

“Saya sangat prihatin atas pembatalan rencana pertemuan di Singapura antara Presiden Amerika Serikat dan pemimpin Republik Demokratis Rakyat Korea,” kata Guterres di Jenewa, sebagaimana dikutip AFP pada Jumat (25/5).

“Saya mendorong pihak terkait untuk melanjutkan dialog mencari jalan menuju denuklirisasi damai dan terverifikasi di Semenanjung Korea.”

Komentar itu dilontarkan tak lama setelah Trump memberi tahu Kim bahwa dirinya membatalkan pertemuan, menyalahkan “kemarahan” dan “permusuhan” yang ditunjukkan rezim Korea Utara.
Lihat juga: Kim-Trump Batal Jumpa, Korsel Sebut Korut Tetap Denuklirisasi
Trump dan Kim sedianya akan menggelar pertemuan tingkat tinggi pada 12 Juni untuk melucuti senjata nuklir negara terisolasi itu. Namun, dialog belakangan dipertanyakan setelah kedua pihak silih ancam membatalkan.

Surat dari Trump terungkap sehari setelah Korea Utara menghina Presiden AS Mike Pence dengan sebutan “dungu dan bodoh.”

“Sayangya, berdasarkan kemarahan dan permusuhan yang ditunjukkan lewat pernyataan Anda yang terakhir, saya rasa tidak pantas, untuk saat ini, untuk menggelar pertemuan yang telah lama direncanakan ini,” kata Trump dalam surat kepada Kim, dirilis Gedung Putih.

Keputusan diambil ketika Korea Utara menyatakan telah menghancurkan situs uji coba nuklirnya “secara utuh, menggunakan acara simbolis yang ditunjukkan sebagai niat baik jelang pertemuan di Singapura.
Lihat juga: Pertemuan Batal, Gedung Putih Diskon Harga Koin Kim-Trump
Dalam pidatonya di Geneva University, Kamis, Guterres menekankan “eliminasi total senjata nuklir masih jadi prioritas kami,” dan memperingatkan agar semua pihak menghindari perlombaan senjata baru.

Ditanya wartawan jika perkembangan terakhir antara Korea Utara dan Amerika Serikat mengganggu agendanya, Guterres menampik.

“Sebaliknya,” kata dia. “Saya rasa apa yang terjadi di sini menunjukkan pentingnya agenda pelucutan senjata.”

Dia menekankan keyakinannya bahwa “negara nuklir, termasuk Amerika Serikat, punya peran penting dalam merealisasikan proses pelucutan yang kredibel.”

“Tentu saja saya sangat khawatir atas situasi ini,” kata dia.

“Tapi saya meminta kedua pihak untuk menunjukkan tekad hingga kita semua bisa … (mencapai) tujuan kita bersama: denuklirisasi damai terverifikasi di Semenanjung Korea.”

Dalam pidatonya, Guterres menyebut sekitar 15 ribu senjata nuklir masih ditimbun di seluruh dunia, dan “ratusan siap diluncurkan dalam waktu hitungan menit.”

“Satu kesalahan mekanis, elektronik, atau manusia bisa mengakibatkan bencana yang mampu menghapus satu kota utuh dari peta.” (ant/rur)