Teror Paket Bom Resahkan Amerika Serikat, Politikus Demokrat dan Media Massa Jadi Sasaran

Washington (Suarakawan) – Amerika Serikat saat ini sedang diserahkan dengan aksi teror paket bom. Paket berisi bom ini menyasar para politisi Partai Demokrat serta media massa. Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) kini sedang menyelidiki paket bom itu.

Seperti diwartakan AFP, target bom pertama ditemukan pada Senin lalu di kotak surat miliarder sekaligus pelaku bisnis keuangan dan pendukung Partai Demokrat, George Soros. Salah satu orang terkaya dunia itu mendukung Hillary Clinton pada pemilu presiden AS 2016. Dia juga dituding telah mensponsori berbagai aksi protes.

Pada Selasa malam dan Rabu pagi, perangkat ledak dikirim kepada mantan kandidat calon presiden AS dari Partai Demokrat Hillary Clinton. Mantan Presiden AS Barack Obama yang tinggal di Washington DC juga mendapat paket serupa. Jaksa agung era Obama, Eric Holder, dan Direktur CIA era Obama, John Brennan, termasuk di antara yang memperoleh kiriman paket bom.

Perlu diketahui, Brennan kerap diundang CNN di New York sebagai narasumber. Paket mencurigakan juga ditemukan di kantor jaringan berita AS, CNN, di Time Warner Center.

Anggota DPR dari Partai Demokrat California asal Maxine Waters mengatakan, FBI juga sedang menyelidiki paket mencurigakan yang dikirim kepadanya. Namun, FBI belum mengkonfirmasi hal tersebut. Setidaknya ada enam kiriman paket mencurigakan yang dikirim ke New York, Washington, dan Florida.

FBI mengonfirmasi, paket yang dikirimkan ke berbagai alamat itu serupa dan berisi perangkat berpotensi merusak. Semuanya dibungkus dengan bubble wrap dan dimasukkan ke dalam amplop manila dengan label alamat yang dicetak. Pada amplop itu terdapat alamat pengirim yang identik dengan anggota Kongres Partai Demokrat dari Florida, Debbie Wasserman Schultz, yang juga mantan ketua Komite Nasional Demokrat.

Rilis foto memperlihatkan bom kecil berbentuk pipa air, diisi dengan bahan peledak dan pecahan peluru, serta tertutup rapat di bagian ujungnya. Dalam kasus Clinton dan Obama, Secret Service AS telah mengambil paket mencurigakan selama prosedur penyaringan surat rutin. Fasilitas semacam itu terpisah dari rumah.

“Sejauh ini perangkat tersebut berbentuk bom pipa,” kata agen FBI, Bryan Paarmann.

Sejauh ini belum ada pelaku yang diidentifikasi. FBI telah mengirim paket itu ke laboratorium di Quantico, Virginia, untuk diperiksa lebih jauh.

“Ini mungkin ada paket tambahan yang dikirim ke lokasi lainnya,” demikian pernyataan FBI.

Menanggapi teror paket bom ini, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyerukan kepada media untuk menghentikan permusuhan tanpa akhir dan tuduhan-tuduhan palsu. Trump bersumpah akan menangkap pelaku.

“Mereka yang terlibat dalam arena politik harus berhenti memperlakukan lawan-lawan politik sebagai cacat moral. Tidak ada yang harus sembarangan membandingkan lawan politik dengan penjahat bersejarah,” kata Trump.

AFP mewartakan, sebelumnya oposisi Demokrat di Kongres menuding Trump membenarkan perlakuan kekerasan dan memecah belah rakyat AS.

“Kita seharusnya tidak memobilisasi orang di ruang publik atau menghancurkan fasilitas publik. Ada satu cara untuk menyelesaikan perbedaan kita. Ini yang disebut dengan damai di kotak suara,” ucapnya.

Seperti diketahui, pemilu paruh waktu AS sedang berlangsung pada bulan ini untuk memilih anggota Kongres, parlemen negara bagian, dan beberapa gubernur.

“Sebagai bagian dari upaya nasional yang lebih besar untuk menjembatani perpecahan kita dan menyatukan orang-orang, media juga memiliki tanggung jawab untuk mengatur nada sopan dan menghentikan permusuhan tanpa akhir,” ujar Trump.(kcm/ziz)

Tag: