Tenaga Kesehatan Berperan Penting Deteksi Dini dan Pencegahan Prediabetes

101 views

Surabaya (suarakawan.com) –  Tenaga kesehatan memegang peranan penting dalam menjaga kondisi prediabetes agar tidak berkembang menuju Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2).

Hal itu disampaikan Dr. dr. Brahmana Askandar, SpOG(K), Ketua IDI Cabang Kota Surabaya dalam seminar dan workshop Pentingnya Deteksi Dini dan Pencegahan Prediabetes, Minggu (30/6/2019) di Aula IDI, Gedung IDI Surabaya.

Prediabetes dan DMT2 adalah penyakit yang membahayakan dan erat kaitannya dengan angka morbiditas (angka kesakitan), risiko progresivitas penyakit, biaya, dan mortalitas (angka kematian) akibat komplikasi, seperti penyakit kardiovaskular dini, gagal ginjal, dan stroke. Namun penyakit ini dapat dicegah.

“Melalui program ini, kami berharap kemampuan para dokter umum semakin terasah, sehingga dapat memberikan deteksi dini dan edukasi pencegahan prediabetes kepada masyarakat,” ujar dr Brahamana.

Acara yang diikuti 100 dokter umum puskesmas dan poliklinik wilayah Surabaya ini digelar Nutrifood bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI, Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Surabaya, dan Pengurus Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) Cabang Kota Surabaya.

International Diabetes Federation 2015 memperkirakan, pada tahun 2040 sebanyak 642 juta penduduk dunia akan mengalami diabetes dengan jumlah penderita prediabetes dua hingga tiga kali lipatnya.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan peningkatan prevalensi diabetes di tingkat nasional dari 6,9% pada 2013, menjadi 8,5% pada 2018. Ada pun angka kejadian diabetes di Jawa Timur juga meningkat, yaitu 2,1% pada 2013, menjadi 2,6% pada 2018.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya drg. Febria Rachmanita, MM, mengatakan Pemerintah Kota Surabaya memberikan perhatian khusus pada kondisi prediabetes dan diabetes yang kini tidak hanya diderita oleh kelompok usia tua, namun mulai banyak ditemukan di kelompok usia muda serta produktif.

“Kami mengajak seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun swasta, untuk bersama-sama melakukan gerakan pencegahan prediabetes melalui deteksi dini atau skrining faktor risiko Penyakit Tidak Menular di Posbindu sesuai standar yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan RI,” ujar Kadis Kesehatan Surabaya Drg Febria.

Pengurus PERSADIA Cabang Kota Surabaya dr. Teguh Raharjo, Sp.PD, menjelaskan, pertanda prediabetes secara laboratoris adalah kadar glukosa darah puasa 100-125 mg/dl dan atau kadar glukosa darah 2 jam post prandial 140-199 mg/dl.

Umumnya kelompok berisiko prediabetes adalah orang dengan obesitas/kegemukan, sering abortus, melahirkan bayi dengan berat badan 4 kg atau lebih, porsi makan besar tetapi kurang gerak, serta keluarga memiliki riwayat diabetes.

Dalam jangka waktu 3-5 tahun, 25% prediabetes dapat berkembang menjadi DMT2, 50% tetap dalam kondisi prediabetes, dan 25% kembali pada kondisi glukosa darah normal.

“Upaya yang dapat dilakukan agar prediabetes tidak berkembang menjadi DMT2 adalah dengan beristirahat cukup; mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang dan membatasi asupan gula, garam, dan lemak; serta aktivitas fisik 150 menit dalam seminggu,” ujar dr Teguh.

Sementara itu Susana, Head of Marketing Nutrifood mengatakan, program ini bertujuan mengedukasi dan mengadvokasi berbagai pihak agar proaktif dalam melakukan deteksi dini dan pencegahan prediabetes maupun diabetes. “Nutrifood berharap program ini dapat membantu meningkatkan kualitas kesehatan dan hidup masyarakat Indonesia,” harap Susan. (gus)

dinkes surabaya dmt2 preadiabetes

Posting Terkait