Suka Duka Triyono, 27 Tahun Jadi Pengamat Gunung Merapi

Tidak ada komentar 1001 views

YOGYAKARTA (suarakawan.com) – Menjadi pengamat Gunung Merapi adalah panggilan jiwa bagi Triyono (66). Meski ia sadar betul akan bahaya yang mengancam jiwanya.

Betapa tidak, ia harus tinggal berhari-hari di Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Badaban, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang letaknya hanya sekitar 4 kilometer dari puncak gunung.

Gunung Merapi masuk dalam kategori gunung api paling aktif di dunia.

Sejarah mencatat, gunung yang memisahkan Provinsi Jawa Tengah dan DIY itu telah beberapa kali mengalami erupsi.

Dekade terakhir erupsi pada 2006 dan 2010, yang mengakibatkan ribuan orang mengungsi dan sejumlah korban jiwa.

Setelah lama “beristirahat” gunung ini kembali menunjukkan peningkatan aktivitas. Sejak 11 Mei 2018, terjadi beberapa kali letusan freatik yang berdampak hujan abu dan pasir di wilayah Kabupaten Sleman dan Magelang.

Triyono menceritakan, letusan yang terjadi pukul 07.32 WIB itu memang tidak teramati dari Pos Babadan.

Begitu juga dengan dampak hujan abu, getaran maupun suara gemuruh seperti terdengar di pos pengamatan lainnya.

Tapi hal itu tidak lantas membuat Triyono bersantai. Letusan itu menjadi awal pria itu harus terus mengamati setiap detik pergerakan-pergerakan yang muncul dari alat monitor yang terpasang di ruangannya.

Alat-alat seperti seismograf, layar kamera pengawas (CCTV), pengukur kecepatan angin, dan lainnya.

“Harus dipantau 24 jam, setiap hari harus membuat laporan tentang kondisi Gunung Merapi. Kalau tidak tidur setiap malam itu sudah biasa,” ujarnya.

Belum lagi Triyono harus melayani masyarakat yang silih berganti datang ke posnya untuk menanyakan kondisi Gunung Merapi.

Dengan sabar, ramah, dan kadang disisipi guyonan, dia memberi penjelasan kepada masyarakat. Tujuannya agar masyarakat mengetahui yang sebenarnya tentang gunung ini.

Triyono sudah melakoni pekerjaan itu sejak 1991 silam.

Ia belajar tentang kegunungapian setelah mendapat pendidikan dan pelatihan dari kantornya Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta.

Dia mulai bertugas di PGM Selo Boyolali 7 tahun lalu. Kemudian ia pindah ke PGM Jrakah selama 5 tahun, PGM Babadan, PGM Ngepos, PGM Kaliuarang, dan kembali lagi ke PGM Babadan.

Triyono juga pernah bertugas di kantor induk di BPPTKG Yogyakarta.

Selama puluhan tahun bertugas, dirinya merasakan pengalaman paling dahsyat ketika erupsi tahun 2010.

Ketika itu, ia masih bertugas di PGM Kaliurang Yogyakarta. Ia menjadi saksi bagaimana gunung api bergejolak dari skala kecil sampai meletus besar.

“Paling berkesan tahun 2010, proses (erupsi) paling lama sampai berbulan-bulan, dari skala kecil ke besar,” katanya.

“Rasa takut itu pasti ada sebagai manusia normal, tapi kembali ke tanggung jawab. Saya tidak boleh meninggalkan pos sampai ada instruksi langsung dari kantor induk,” kisahnya.

Bapak asal Dusun Ngrandu, Desa Sumberarum, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman itu berujar, menjadi pengamat Gunung Merapi memiliki konsekuensi.

Dirinya harus meninggalkan keluarga dalam jangka waktu tertentu. Bahkan jika gunung ini sedang mengalami peningkatan aktivitas maka dirinya tidak mungkin pulang.

“Memang sudah konsekuensi harus sanggup. Kalau kondisi darurat, saya tidak mungkin pulang,” ucapnya.

“Kadang saya sampai lupa rasanya kangen dengan keluarga. Beruntung keluarga saya memahami pekerjaan saya,” ungkap suami dari Sudarmiyati (64) itu.

Triyono menyebut, pekerjaannya itu adalah pekerjaan paling antik, meskipun berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Pasalnya di Indonesia, tidak banyak yang berprofesi seperti dirinya. Terlebih dengan konsekuensi yang harus dilakoni sepanjang karirnya.

“Pengamat gunung itu PNS paling antik. Di Indonesia hanya sedikit, bisa dihitung dengan jari, ngga kayak guru, PNS Pemda,” katanya.

“Tapi saya menikmatinya, bisa mengenal alam, pokoknya ada kepuasan tersendiri. Dibanding bekerja di kantor saya lebih pilih di pos,” tutupnya terkekeh.(kc/rur)