Produksi Ikan di Jawa Timur Capai 1,6 Juta Ton

Tidak ada komentar 93 views

SURABAYA (suarakawan.com) – Gubernur Jawa Timur Soekarwo mencatat produksi produksi perikanan di wilayahnya pada 2017 mencapai 1,6 juta ton yang terdiri dari perikanan budi daya 1.189.494 ton dan produksi perikanan tangkap 427.459 ton.

“Perkembangan produktivitas sektor ini luar biasa, sebab pada 2012 produktivitasnya masih di angka 800 ribu ton,” ujarnya.

Peningkatan produktivitas sektor perikanan di Jatim yang terus meningkat, kata dia, mampu memberikan kontribusi luar biasa bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) setempat.

Ia merinci, pada kontribusi sektor perikanan dan kelautan terhadap PDRB Jatim, yakni sebesar Rp50,99 triliun atau 2,53 persen dari total PDRB Jatim yang sebesar Rp2.019,2 triliun pada 2017.

Sedangkan, capaian ekspor hasil perikanan tahun 2017 sebesar 198.866,761 ton dengan nilai sebesar 1,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp16 triliun.

Sementara itu, agar produktivitas di sektor ini terus meningkat, Pemprov Jatim menerapkan konsep asli Jatim, yaitu pengembangan hulu hingga hilir perikanan dengan memberikan nilai tambah komoditi perikanan masyarakat melalui industrialisasi di petani.

Untuk itu, kata dia, Pemprov Jatim melakukan peningkatan mulai sumber daya manusia (SDM), akses permodalan, teknik pengolahan, hingga strategi penjualan produk perikanan.

Khusus SDM, Gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo itu, meminta praktik sehari melaut atau “one day fishing” yang dilakukan nelayan dapat ditinggalkan dan diharapkan nelayan bisa 2-3 hari menangkap ikan.

“Jika 2-3 hari, tentu hasil tangkapan lebih banyak. Jadi, perahunya ditingkatkan kapasitasnya agar muat ikan lebih banyak. Dulu muatan 5 gross ton (GT), tapi sekarang bisa 10-20 GT,” katanya.

Setelah berlabuh, katanya, nelayan diharapkan tidak langsung menjual ikan hasil tangkapannya, tapi diolah terlebih dahulu menjadi produk industri primer atau sekunder, semisal diolah menjadi abon, krispi, nugget, bakso ikan dan sebagainya sehingga memiliki nilai tambah sekaligus diversifikasi produk perikanan.

“Kami juga memberi pelatihan maupun keterampilan pada nelayan agar mampu mengolah hasil tangkapannya, lalu untuk modalnya diberikan akses permodalan kepada nelayan dengan suku bunga ringan, yaitu enam persen atau jauh lebih ringan dari produk industri jasa keuangan di perbankan pada umumnya,” katanya. (ant/rur)