Polda Jatim Berhasil Damaikan Perseteruan Perguruan Pencak Silat PSHT dan Pagar Nusa

32 views

SURABAYA (Suarakawan.com) Perseteruan perguruan pencak silat antara Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan Pagar Nusa di Jawa Timur akhirnya berujung damai. Hal ini setelah Polda Jatim mempertemukan kedua belah pihak di Ruang Bromo Mapolda, Selasa (29/10).

Puluhan tokoh PSHT dan Pagar Nusa Wilayah Jatim ini bersepakat untuk bersama-sama saling menjaga agar Jatim tetap kondusif, aman dan damai. Hadir dalam silaturahim ini Wakapolda Jatim Brigjen Pol Drs Djamaludin, Dirintelkam Polda Jatim Kombes Pol Drs Teddy Setiady, M.H, Wadirintelkam Polda Jatim AKBP Iwan Surya Ananta S.I.K. Sedangkan dari Perguruan Silat yakni Ketum PSHT Pusat Madiun Drs R Moerdjoko dan Ketum IPSNU Pagar Nusa Jatim H Abdul Muchid.

Brigjen Pol Djamaludin dalam sambutannya mengucapkan terima kasih lantaran kedua perguruan pencak silat yang berseteru mau memenuhi undangan silaturahimnya. Melihat adanya kesalahpahaman antara perguruan pencak silat PSH Terate dengan Pagar Nusa kemarin, pihaknya sebagai Wakapolda meminta agar permasalahan ini segera diselesaikan. “Mari kita bertukar pikiran agar masalah ini tidak semakin membesar dan menimbulkan korban lagi,” ujar Brigjen Pol Djamaludin.

Senada, Dirintelkam Polda Jatim Kombes Pol Teddy Setiady mengaku prihatin dengan kejadian kemarin yang seharusnya tidak terjadi. “Kita ketahui bersama mulai dari perbatasan Jawa Tengah masih sering terjadi kesalahpahaman antar perguruan pencak silat. Saya berharap kejadian yang menimbulkan korban jiwa tersebut bisa dihindari,” jelasnya.

Pergerakan massa, kata Teddy, menjadi permasalahan yang sulit dihadapi. Setiap ada kegiatan pencak silat pasti ada pergerakan massa yang banyak. “Langkah pertama untuk menghentikan kesalahpahamam tersebut yaitu dengan pengawasan internal, kalau dilimpahkan kepada pengamaman dari Polri maupun dari pengamanan internal perguruan pencak sendiri itu tidak akan berhasil, harus dengan pendekatan secara intensif,” jelas Teddy.

“Kejadian itu berawal dari kesalapahaman dari warga pencak silat saat mereka mengerahkan pergerakan massa,” tambahnya.

Sementara, Ketum PSHT Pusat Madiun (Parluh 2017) Moerdjoko pun mengucapkan terima kasih kepada Polri yang telah menbantu menyediakan audiensi agar bisa cepat selesai. Di PSHT, kata Moerdjoko, apabila ada masalah sedikitpun pihaknya akan mencari solusi penyelesaiannya, sehingga tidak menimbulkan konflik yang lebih besar lagi. “Kami memohon kepada Polri agar masalah ini segera mendapat kejelasan, karena ada pihak lain yang ingin membenturkan kami dengan perguruan lain,” harap Moerdjoko.

Atas nama Perguruan Terate Pusat Madiun kemarin, lanjutnya, telah menerima laporan dari Dirintelkam bahwasanya kejadian tersebut sudah ditangani dan dikondisikan dari pihak kepolisian. “Kami berharap dari pihak Pagar Nusa memaklumi keadaan kami yang sekarang ini, kami sedang mengalami dualisme kepengurusan sehingga warga PSHT terbagi menjadi 2,” beber Moerdjoko.

“Kami sering diadu dengan cara-cara yang tidak sportif, tidak gentleman dengan perguruan lain sehingga saya berharap ini bisa dicari solusinya,” tambahnya.

Oleh sebab itu, pihaknya meminta kepada anggota di daerah tidak mudah terhasut oleh oknum yang ingin memecah belah. “Mari kita ciptakan kondisi kamtibmas dari wilayah kita masing-masing agar tidak terjadi kericuhan dan gangguan ketertiban,” ajak Moerdjoko.

Pada kesempatan sama, Ketum IPSNU Pagar Nusa Jatim, Abdul Muchid juga menyayangkan atas kejadian tersebut. Seharusnya, kata dia, bersama-sama menjaga keamanan wilayah Surabaya, khususnya di Jatim. “Ketika saya tanyakan warga Pagar Nusa Surabaya, mereka tidak tahu siapa yang merampas bendera PSHT, saya yakini bahwa ada oknum. Kalau terus-terusan begini, kita akan diadu domba agar terpecah belah,” dalihnya.

Pihaknya menyakini, kalau Pagar Nusa sudah diberihi arahan kiai. “Saya yakin bahwa Pagar Nusa tidak pernah melanggar arahan kiai,” pungkas Abdul Muchid. (aca)

Posting Terkait