Pengakuan Luna Maya, Depresi Gara-gara Kasus Video Porno

JAKARTA (suarakawan.com) – Luna Maya pernah menikmati popularitas sebagai aktris, model, dan presenter. Namanya mendadak redup ketika tersangkut kasus video porno beberapa tahun lalu.

Luna Maya mengaku sempat depresi. “Saya mengalami yang namanya post-power syndrome. Saya berjuang melawan mental illness itu cukup lama, sekitar dua tahun,” kata Luna Maya kepada tabloidbintang, pekan lalu.

Luna Maya menggambarkan, melawan post-power syndrome bagaikan berperang dengan sesuatu yang tidak terlihat. Makin terasa berat karena ia bagai tergelincir dari puncak popularitas ke dasar jurang.

Luna Maya dulu bintang produk sabun mandi terkenal. Pada 2009, ia disebut sebagai bintang televisi dengan bayaran termahal dan aktris layar lebar termahal ketiga. Tahun yang sama, ia masuk daftar 10 Bintang Berkilau dan menjadi Bintang of the Year versi Bintang.

“Saat Anda berada di posisi puncak kemudian terpuruk, lalu semua orang meninggalkan Anda, seperti apa rasanya? Itulah post-power syndrome dan itu rasanya suliiit sekali. Apakah saya saat itu berpikir habis sudah karier? Ya,” katanya.

Luna mengingat, setelah skandal videonya meledak dan menjadi isu nasional, tawaran syuting sepi. Untuk menafkahi diri, bintang sinetron Anggun dan Tendangan Si Madun menjadi reseller tas.

“Saya yang dulu sering membeli tas kemudian menjadi reseller tas. Ada sahabat yang terbang ke Paris, pulang ke Indonesia membawa banyak tas untuk dijual. Saya membantunya berjualan dengan keuntungan 500 ribu rupiah per tas. Lumayan,” tuturnya.

Perlahan, Luna Maya mulai bangkit dari keterpurukan. Akhir 2010, dia kembali berakting di salah satu judul FTV. FTV itu mendapat rating tinggi lalu ditayangkan berkali-kali.

Saat itulah, produser melihat kebintangan Luna belum pudar. “Saya lupa judulnya tapi ingat lawan mainnya Oka Antara. Setelah itu, barulah saya main sinetron,” cerita Luna Maya.