Penentu Kemenangan Pilpres, Dua Bacapres Berebut Suara Di Jatim

SURABAYA (Suarakawan.com) – Provinsi Jatim sebagai provinsi terbesar kedua setelah Jabar dengan penduduk sekitar 39 juta, nampaknya bakal menjadi faktor penentu pada kontestasi Pilpres tahun 2019. Terbukti, dua Bacapres secara bersamaan datang ke Jatim seperti tak ingin kecolongan suara di Jatim.

Berdasarkan jadwal yang beredar, Bacapres Prabowo selama dua hari (6-7/9) akan ziarah dan silaturrahim beberapa pondok pesantren ternama di Jatim. Diantaranya ke Ponpes Tebuireng untuk berziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid, ke Ponpes Tambakberas Jombang ziarah ke makam KH Wahab Hasbullah, dan Ponpes Syaikhona Kholil Bangkalan ziarah ke makam Syaikhona Cholil.

Di hari kedua, Prabowo bersama rombongan akan meresmikan Posko Surabaya, dan dilanjut ke Ponpes Sukorejo Situbondo untuk ziarah ke makam KHR As’ad Syamsul Arifin.

Sementara, Bacapres Petahana Joko Widodo hari ini Kamis (6/9) juga berkunjung ke Jatim dengan agenda ke Universitas PGRI Adibuana (Unipa) Surabaya, kemudian silaturrahim ke Ponpes Amanatul Ummah di Mojokerto serta menyerahkan 5000 sertifikat bagi warga Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto dan Gresik di Surabaya.

Menurut pengamat politik dari Surabaya Survey Center (SSC) Mochtar W Oetomo, Jatim adalah barometer politik nasional bukan hanya karena jumlah pemilihnya yang terbesar kedua setelah Jabar. Namun lebih dari itu tipologi politik Jatim yang relatif seimbang antara segmen nasionalis dan religius seringkali suaranya mencerminkan suara nasional sehingga wajar jika diperebutkan.

“Pada Pilpres tahun 2014, pasangan Jokowi-JK di Jatim mendapat suara 53 persen lebih. Sedangkan pasangan Prabowo-Hatta mendapat suara sekitar 46 persen lebih. Dan perolehan suara di Jatim terebut hampir mirip dengan perolehan suara kedua pasangan Capres-Cawapres secara nasional,” ujar Mochtar saat dikonfirmasi Kamis (6/9/2018).

Pertimbangan lainnya, kata Mochtar, Jatim adalah kandang NU. Sebagaimana diketahui bersama varian kekuatan NU (PKB, PPP dan PBNU) di detik-detik akhir menjadi aktor penentu keputusan Jokowi memilih KH Ma’ruf Amin sebagai Bacawapres dan menggagalkan Mahfud MD.

“Bukan semata karena jumlah pemilih Nahdliyin yang cukup besar dan menentukan, lebih dari itu kontalasi politik sejak 2014 selalu riuh dengan politik simbol agama mau tidak mau menjadikan NU dan Jatim menjadi entitas politik penting yang harus diperebutkan,” ungkap dosen UTM ini.

Selain itu, posisi geopolitik Jatim yang strategis, banyak pihak berasumsi jika Jabar dimenangkan Prabowo, Jateng dimenangkan Jokowi, maka Jatim akan menjadi penentu siapa yang akan menjadi penentu kemenangan bagi keduannya.

“Bukan semata karena jumlah pemilih, lebih dari itu karena posisi geopolitik Jatim sebagai pusat dinamika ekonomi politik Indonesia Timur dipandang akan memberi pengaruh pada suara kudua Bacapres di Indonesia Timur,” tegas Mochtar.

Kesuksesan ekonomi Jatim dengan berbagai angka statistik dan berbagai bentuk penghargaan terbukti bahwa Jatim adalah provinsi dengan tingkat keberhasilan dan pertumbuhan ekonomi terbaik di Indonesia. “Jatim menjadi role model bagi banyak provinsi lain. Maka menguasai Jatim akan memberi vibrasi besar secara politik,” tambah pria berkacamata ini. (aca)