Pemilu 2019, Suara Warga NU Terbagi ke PKB dan Demokrat

SURABAYA (Suarakawan.com) – Peta dukungan masyarakat Jawa Timur yang mayoritas berlatar Nahdliyin (sebutan jamaah NU) diprediksi berdampak pada suara partai politik di pemilu legislatif 17 April besok. Partai politik yang bakal mendapatkan dampak terbesar dari suara NU ini adalah PKB dan Demokrat.

Hal tersebut diungkapkan Sufyanto, peneliti dari The Republic Institute. Menurutnya berdasarkan survey yang dilakukan kurun waktu 3 bulan sebelum coblosan ini ada perubahan signifikant dalam suara NU terhadap partai politik peserta pemilu legislatif tahun ini. “Ada pergeseran suara warga Nahdliyin tidak dominan pada satu parpol saja, tapi tersebar di beberapa partai politik,” kata Sufyanto, Senin (15/4).

Jika pada pemilu sebelumnya mayoritas suara NU ada di PKB, namun belakangan justru mulai cair ke partai lain. Seperti Partai Demokrat, PPP, Nasdem, Gerindra dan Golkar. Namun jika ditotal, sekarang ini mayoritas suara NU banyak ke PKB dan Demokrat. “Survey kami terakhir justru pemilih yang mengidentifikasi warga NU secara kultural pergeseran terbesar ke Demokrat dibanding ke Parpol lain,” ujar Sufyanto.

Indikasinya, kata Sufyanto, adalg banyaknya Kiai maupun Gus dari pesantren masuk ke Demokrat untuk menjadi Caleg. Contoh misalnya Thoriq bin Ziyad atau Gus Thoriq di dapil Malang Raya untuk DPRD Provinsi Jatim. Kemudian ada nama Gus Edo (Mujtahidur Ridho) keluarga dari Ponpes Tambak Beras Jombang. Ada lagi Syarif Hidayatullah (Gus Sentot) dan Gus Heri dari Ponpes Darul Ulum Jombang.
Kemudian di daerah tapal kuda, ada nama KH Muzayyan dari Ponpes Badridduja, Kraksaan, Probolinggo yang maju untuk kursi DPR RI. Kemudian di Madura ada nama Ra Hasani Zubair yang juga ketua PC GP Ansor Bangkalan maju untuk kursi DPR RI dari Partai Demokrat.

Selain itu, kata mantan Ketua Komisioner Bawaslu Jatim ini, peran Ketua DPD Partai Demokrat Jatim Soekarwo mampu memikat suara NU dan kalangan Pondok Pesantren. “Hubungan baiknya Pak De Karwo yang selama ini punya kedekatan khusus dengan kalangan Nahdliyin selama 10 tahun menjadi Gubernur Jawa Timur juga berdampak pada suara Partai Demokrat,” sebut Sufyanto.

Ditambahkannya, posisi Demokrat sebagai pengusung utama pemenangan Khofifah-Emil sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih. Cukup signifikant menambah suara kalangan Muslimat NU ke Demokrat. “Karena itu, data survey kami menunjukan posisi Demokrat banyak didukung dari pemilih berlatar NU,” sebutnya. (aca)

Related Post