Pembahasan Perda BUS Bank Jatim Membuat Pengesehan RAPBD 2019 Molor

SURABAYA (Suarakawan.com) – Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur menyatakan dalam waktu dekat pemprov dan DPRD Jatim akan mulai membahas Peraturan Daerah (Perda) penyertaan modal tentang Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Bank Umum Syariah (BUS) Bank Jatim pada 2019 mendatang. Dimana anggaran penyertaan modal BUS ini dialokasikan di APBD 2019 yaitu sebesar Rp200 miliar.

Anggota Komisi C DPRD Jatim, Irwan Setiawan ditemui di Surabaya, Jumat (2/11) mengatakan setelah tiga kali tertunda, akhirnya Pemprov Jatim dan Komisi C DPRD Jatim menyepakati untuk meluncurkan BUS pada 2019, namun dengan catatan belum bisa operasional sepenuhnya yaitu buku dua.

“Untuk saat ini kami masih bisa setor di APBD Jatim 2019 yaitu Rp 200 miliar. Insya allah baru 2020 baru kita selesaikan semua sebesar Rp1 triliun. Dengan cetatan Rp 502 miliar dari Bank Jatim dan Rp 500 miliar,”tegas Irwan Politisi asal Fraksi PKS ini.

Dijelaskan, sesuai arahan Mendagri meski modal setor belum mencapai Rp1 triliun, namun sudah memiliki Perda BUS. Dan rencanananya akan dibahas 5 Nopember 2018 ini. sehingga pengesahan APBD mundur menjadi 28 November.”Memang biasanya 10 November akhirnya tertunda 28 November,” kata Irwan,

Sementara sesuai arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pemenuhan dana disetor sebesar Rp1 triliun bisa diangsur tiga kali. Karena itu pihaknya optimis BUS bisa beroperasional 2020. Dan keinginan dewan agar BUS beroperasi sebagai buku 2 dan bentuk BUMD segera terealisasi, mengingat pangsa pasarnya masih besar. Terpenting diharapkan keuntungannya bisa mendongkrak Bank Jatim sampai 50 persen Rp15 miliar misalnya.

Selain itu, pihaknya juga meminta Bank Jatim meningkatkan kinerjanya. Pasalnya, BUMD penghasil terbesar APBD Jatim ini terancam akan riskan sekali terkena kredit macet. “Kami kawatir karena NPL (Non Performing Loan) Tunggakan Bank Jatim mencapai 4,25,”jelasnya.

Politisi asal PKS ini jumlah NPL tersebut diakui ada penurunan yang sebelumnya 4,6.” Namun angka 4,25 tersebut masih riskan sekali. Kami berharap manajemen menekan NPL tersebut,”lanjutnya.

Irwan lalu mencontohkan NPL yang terjadi di Bank Jatim cabang Jombang dan Sidoarjo yang NPL nya diatas 6.”NPL ideal dari Perbankan itu mencapai 5. Namun, Bank Jatim mencapai 4,25. Kami kawatir akan muncul kredit macet. Ke depan kami berharap pihak Bank Jatim mencapai 2,”jelasnya.

Pria kelahiran Banten ini menambahkan meski NPL tinggi, diakui laba Bank Jatim mengalami pertumbuhan 4 persen per September 2018 mencapai 1,06 T.” Namun kami berharap pihak Bank Jatim meningkatkan kinerjanya terkait tingginya NPL tersebut,”tutupnya. (aca/rur)