Nota Protes Pemerintah RI kepada Pemerintah Saudi Arabia

Oleh : Achmad Zaenal A

Menanggapi surat protes Pemerintahan Jokowi via Kemenlu kepada Pemerintah Saudi yang menyatakan:

1. Menyesalkan dan protes pernyataan Dubes Saudi
2. Substansi pernyataan dubes Saudi tidak tepat, berarti Rezim Jokowi tanpa klarifikasi kepada Dubes Saudi dan langsung menganggap salah Dubes Saudi di lain pihak membenarkan pernyataan Said Agil Siroj Ketua Umum PBNU dan mengakui seolah tidak ada kesesatan dalam Ormas yang membakar bendera tauhid di Garut, dimana hal tersebut merupakan tindakan tidak profesional karena hal-hal sebagai berikut:

1). Dubes Saudi tidak menodai hubungan diplomatik dengan Indonesia seperti yang dikatakan Said Agil Siroj di menit 3.48, melainkan Dubes Saudi melihat/menyaksikan sebagai testimoni pribadi sebagai muslim kaffah acara Reuni 212 di Monas yang jutaan ummat Islam kibarkan bendera tauhid sebagai perwujudan slogan/sumpah ummat Islam Indonesia bahwa 1 bendera tauhid dibakar maka akan dikibarkan jutaan bendera tauhid dan PBNU tidak berhak mengatasnamakan semua tindakannya seolah sebagai politik Indonesia karena PBNU adalah organisasi massa bukan sebagai negara melainkan di bawah negara yang sama kedudukannya dengan HTI yang bisa dibubarkan oleh negara juga jika memenuhi unsur pembubaran perppu ormas sehingga pembakaran bendera tauhid di Garut adalah bukan politik pembakaran oleh negara Indonesia tapi oknum pelaku dari GP ANSOR/BANSER, Ormas di bawah naungan PBNU dengan penanggung jawab Ketua GP ANSOR YAQUT dan akibat dari perintah Pelaksananya Abu Janda/Arya Permadi yang katakan bahwa ArRoyah (Bendera hitam tauhid) sebagai bendera asing padahal itu adalah bendera Rosulullah atau bendera ummat Islam bukan bendera HTI karena tidak ada tulisan HTI, di mana sampai sekarang Yaqut maupun Abu Janda tidak pernah minta maaf bahkan masih terus menyerang bendera tauhid sebagai bendera terroris seperti yang dituduhkankannya terhadap/dengan kasus dijebaknya Habib Rizieq seolah memasang bendera teroris di tempat tinggalnya Makkah.

2). Dubes Saudi tidak menyebarkan fitnah melainkan secara pribadi muslim yang mengacu kepada Quran/hadist shohih, menuliskan pemahamannya bahwa yang lakukan pembakaran bendera tauhid adalah ormas sesat (tanpa sebut NU), penyebabnya menurut hukum Islam kaffah adalah Said Agil Siroj Ketua Umum PBNU yang kreasikan Islam Nusantara yang sesat menurut fatwa MUI sebagai islam liberal/munafiq apalagi Said Agil sering promosikan dan belain Syiah yang sesat bukan islam kaffah, menyamakan Quran dengan Kristen (liberal/pluralisme yang sesat juga), dimana untuk melaksanakan Islam Nusantara tersebut GP ANSOR/BANSER mengadakan kirab satu negeri yang menggùnakan bendera merah putih sebagai bendera Islam Nusantara dan memusuhi bendera hitam tauhid ArRoyah sebagai bendera asing yang harus disingkirkan/dibuang (bisa dibakar dengan sorak sorai penghinaan atau dirobek dsb.), padahal seharusnya yang benar adalah bisa berdampingan merah putih sebagai bendera NKRI (simbul cinta/bela negara) dan bendera tauhid (simbul cinta/bela agama) sebagai bendera ummat islam kaffah.(*)

Tag: