Moeldoko: Jenderal Tak Paham Islam, Lebih Baik Diam Jika Tidak Bisa Berkata Benar

Oleh: Nasrudin Joha
Aktivis Islam

Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko ikut baper dan usil menyikapi digelarnya Ijtima Ulama II yang digelar Minggu 16 September 2018 di Jakarta. Bahkan, seperti seorang da’i, moeldoko mau repot memberi arahan kepada umat Islam untuk bersikap di Pilpres 2019.

Jenderal (mantan) satu ini mengujar agar agama jangan dicampuradukkan dengan politik. Masyarakat, berpotensi bingung dalam Pilpres. Moeldoko juga berdeklamasi, tentang banyaknya ulama yang ditinggalkan jamaah karena terlibat politik.

Mari berdiskusi jenderal,

Pertama, agama Islam berbeda dengan agama yang lain. Agama Islam adalah UU kehidupan, semua urusan diatur dalam Islam, termasuk politik. Bukan memisahkan, bahkan Islam mewajibkan berpolitik yang terikat dengan dalil syara’.

Tidak ada satupun argumen yang dapat dibenarkan dalam Islam, sebagai sandaran memisahkan agama dari kehidupan. Pemisahan agama dari kehidupan, adalah value dan tradisi barat. Karenanya, Islam tidak mengenal Sekulerisme. Bahkan, Islam memerintahkan umatnya memeluk secara kaffah.

Kedua, tidak akan ada sedikitpun kebingungan ditengah umat -jika menjadikan standar syariat- untuk dijadikan panduan untuk memilih pemimpin. Pemimpin tukang boong, tukang ngibul, tukang ingkar janji, tukang numpuk utang riba, tukang bubarin ormas Islam, tukang kriminalisasi ulama, yang lemah, yang antek asing, sudah pasti haram untuk dipilih kembali.

Jadi, dengan munculnya panduan dari para ulama melalui forum ijtima’, umat Islam menjadi tegas tidak akan memilih pemimpin yang pro dan diusung oleh partai penista agama. Saya kira, sampai disini bukan umat Islam yang bingung, mungkin jenderal sendiri yang bingung untuk mengatur strategi kampanye. Karena itu, minum air putih dan push up lagi agar dapat inspirasi jenderal.

Ketiga, pernyataan moeldoko tidak konsisten. Jokowi sendiri mulai merubah mahzab politik, dengan kembali merangkul Islam, setelah sebelumnya mewanti-wanti agama harus dipisahkan dari politik. Tetapi, mendekati pencapresan jokowi merangkul MA dan merevisi pernyataannya, dan MA sendiri juga menghimbau umat Islam untuk memilih jokowi.

Karena itu, sudahlah jenderal. Tidak usah bermanuver politik, Anda piawai memainkan senapan mesin, tetapi Anda tak paham sedikitpun dalam manuver politik. Jika kurang latihan, urat saraf Anda akan terjepit, politik itu tak sesederhana mengokang senjata dan memuntahkan ribuan peluru.

Keempat, pernyataan jenderal ini sesungguhnya mengkonfirmasi kegalauan tingkat dewa yang sedang dialami rezim. Sudah merubah haluan agar terlihat ramah dan berwajah manis dihadapan umat Islam, ternyata ijtima’ ulama merekomendasikan lain.

Tim ses para Buzeer itu hanya memiliki foloweer di sosial media, bahkan banyak diantarnya akun abal-abal. Berbeda, dengan para ulama, Habaib dan para ustadz yang hadir dalam forum ijtima’ ulama. Mereka, memiliki massa real.

Memang benar, sebagian ulama ada yang mampu ditundukkan dan merapat ke rezim. Tapi ini blunder, karena umat telah paham bagaimana menentukan pilihan politik. Bukannya membawa masa untuk rezim, ulama yang tunduk pada rezim ini justru yang akan ditinggalkan umat.

Demikian jenderal, saya kira ini cukup Clear untuk dipahami. Percayalah, berdiri membela dan mengusung Jokowi itu berat sekali. Jika tidak kuat, Anda bisa ikut tergulung.(*)

Tag: