Mahasiswa Unair Ciptakan “Handsanitizer” dari Kulit Udang

SURABAYA (suarakawan.com) – Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) mengolah kitosan kulit udang menjadi antiseptik pembersih tangan atau “handsanitizer” bebas alkohol.

Galuh Primadani bersama keempat rekannya yakni Yenni Desilia Indahsari, Nabilah Lutfi, Ajeng Della Sari, dan Kholidah Febrian di Surabaya, Jumat mengatakan inovasi yang diberi nama “Chi-Touch” itu lolos dari seleksi dan memperoleh dana pengembangan dalam program PKM 2018 Kemenristekdikti.

“Keberadaan sabun dan air terkadang tidak sesuai dengan yang diinginkan. Air yang tersedia tidak bersih, sabun yang digunakan bersama-sama, dan tempat cuci tangan yang kurang bersih dapat memantik kekhawatiran atas kebersihan dan kesehatan pengguna,” kata dia.

Sedangkan “handsanitizer” yang beredar di pasaran, menurutnya, masih banyak yang menggunakan alkohol dirasa kurang aman terhadap kesehatan. Sebab, alkohol merupakan pelarut organik yang dapat melarutkan lapisan lemak dan sebum pada kulit yang berfungsi sebagai pelindung terhadap infeksi mikroorganisme.

“Selain itu, alkohol mudah terbakar dan pada pemakaian berulang menyebabkan kekeringan dan iritasi pada kulit,” katanya.

Dia menjelaskan, pemanfaatan kitosan sebagai antibakteri karena sesuai literatur. Kemampuan muatan positif kitosan dapat berinteraksi dengan permukaan sel bakteri yang bermuatan negatif, sehingga dapat mengganggu pertumbuhan koloni bakteri dan ampuh membunuh bakteri Escherichia Coli, Listeria Innocua dan Staphylococcus Aureus.

“Kepada calon pengguna tidak perlu khawatir dengan aroma yang timbul dari kulit udang. Karena bahan baku kitosan sudah melalui beberapa reaksi hidrolisis dan proses diasetilasi, sehingga aroma khas kulit udang tidak timbul lagi,” katanya.

Produk Chi-Touch karya Galuh hadir dengan beberapa varian aroma yang segar. Di antaranya aroma jeruk, vanila, strawberry, dan anggur yang sudah dijual ke berbagai daerah di Pulau Jawa, seperti Surabaya, Gresik, Pasuruan, Sidoarjo, Madiun, Kediri, Yogyakarta, dan Jakarta.

“Saat ini produk sedang dalam tahap pengurusan registrasi di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) agar menjadi produk yang dapat dijual bebas di masyarakat. Pada pengembangan selanjutnya, kami akan memperluas pemasaran untuk bisa menjangkau pasar ke seluruh wilayah Indonesia,” kata Galuh.(ant/rur)