Jatim Dikepung Wabah DBD, Sejumlah Daerah sudah KLB

Tidak ada komentar 47 views

Surabaya (Suarakawan.com) – Wilayah Provinsi Jawa Timur (Jatim) saat ini dikebuh wabah Demam Berdarah Dengue (DBD). Bahkan, sejumlah daerah sudah menyatakan status Kejadian Luar Biasa (KLB). Pemerintah diharapkan segera tanggap dan melakukan upaya penanggulangan.

Di wilayah Ibu Kota Jatim, Surabaya, misalnya, sudah tercatat 3 warga yang terserang DBD.

“Tiga orang itu, masing-masing tercatat sebagai warga Kecamatan Sawahan Surabaya, tapi ndak meninggal, maksudnya sakit,” kata Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini.

Risma berharap, tiga orang yang terserang DBD itu tak akan bertambah. Untuk mencegah itu, Risma bakal terus mendorong masyarakat untuk bergerak bersama pemerintah memberantas sarang nyamuk.

“Sekarang ada tiga yang sakit. Namun kita kan ndak tahu apakah akan berhenti atau tidak. Karena itu, kita terus dorong untuk ini (gebyar PSN),” jelas Risma.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri mengungkapkan jumlah korban meninggal dunia akibat DBD selama Januari 2019 mencapai 12 orang dan mayoritas berusia di bawah 15 tahun.

“Korban meninggal dunia ada 12 orang. Kalau jumlah penderita mulai Januari mencapai 271 orang, ranking satu se-Jatim,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Adi Laksono.

Ia mengatakan, jumlah kasus yang terdata ini cukup banyak dan terjadi pada usia produktif, namun mayoritas anak-anak, serta berasal dari berbagai daerah di wilayah.

Ia mencatat, dari 12 orang yang meninggal dunia, mereka menderita DSS (dengue shock syndrome), sehingga nyawanya tidak dapat diselamatkan karena kondisinya sudah parah saat dibawa ke rumah sakit atau puskesmas.

Adi meminta agar setiap orang tua waspada jika ada anggota keluarga yang mengeluhkan sakit panas, dan harus segera dibawa ke rumah sakit untuk memastikan sakitnya berbahaya atau tidak, agar tim medis bisa langsung melakukan perawatan atas pasien.

Ia menyebut banyak faktor yang memengaruhi tingginya jumlah penderita DBD di Kediri, salah satunya karena kewaspadaan masyarakat yang masih belum optimal.

Selain itu, budaya melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) masih kurang, menyebabkan jentik nyamuk bisa leluasa berkembang.

“Ini kami evaluasi. Intinya ini siklus tiga tahunan, dan karena secara budaya psikologis, kasus tinggi masyarakat bergerak, waspada, begitu tahun berikutnya turun, pasti lupa PSN. Padahal, satu pekan sekali penting untuk mengecek ada jentik atau tidak, sehingga tahun kedua meningkat. Ini di Desember 2018 juga sudah mulai ada kenaikan, rumah sakit juga penuh,” kata dia.

Ia menegaskan, PSN harus intensif dilakukan, sehingga diharapkan bisa menekan penyebaran nyamuk Aedes Aegypti.

“Nyamuk ini berkembang biak di air bersih, sehingga pembersihan berbagai media yang bisa menampung air bersih harus dilakukan, misalnya di kamar mandi, kolam air, hingga tempat minum burung,” katanya.

Adi juga meminta agar kebersihan di lingkungan sekolah dan kantor juga diperhatikan, serta harus dipastikan terbebas dari nyamuk dengan intensif melakukan PSN.

Ia berharap, kegiatan tersebut dapat menekan seminimal mungkin penyebaran nyamuk demam berdarah, sehingga dapat menekan warga yang terkena penyakit demam berdarah.

Di sisi lain, Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni menetapkan bumi reog tengah mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) DB. Itu dikarenakan pasien DB yang meninggal 3 orang.

“Penyebaran DB dalam taraf mengkhawatirkan karena jumlahnya terus naik, maka rapat memutuskan agar ditetapkan kejadian luar biasa biar bisa melakukan tindakan,” kata Ipong, Selasa (29/1/2019).

Menurutnya, jika sudah ditetapkan KLB, maka saat alat fogging tidak mencukupi bisa membeli baru dengan menggunakan dana oncall atau tidak terduga. Saat ini pihak pemkab hanya memiliki 5 alat fogging, rencananya bakal ditambah hingga 12 alat fogging.

Tidak hanya alat, pihaknya pun sudah mengimbau puskesmas dan RSUD Ponorogo untuk menerima pasien DB tanpa menarik biaya apapun alias gratis.

“Kalau puskesmas tidak mencukupi obatnya, bisa didukung oleh Dinas Kesehatan untuk mencukupi itu,” tukasnya.

Selain itu, Ipong pun mengimbau seluruh camat menggalakkan kembali kerja bakti agar kejadian DB ini tidak semakin meluas. Warga harus dilibatkan secara aktif untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

“DB itu kan penyebabnya dari sarang nyamuk yang berkembang biak di air yang menggenang, sampah itu yang harus dibasmi,” imbuh dia.

Sementara Kepala Dinkes Ponorogo Rahayu Kusdarini menambahkan saat ini data yang diterima ada 172 suspect DB dan 3 orang meninggal. Saat ini pun banyak desa yang antre demi bisa mendapatkan fogging di desanya.

“Ada 3 orang meninggal karena DB. Setelah ditetapkan KLB, nanti kan kita bisa pengadaan alat fogging supaya tidak terjadi antrean lagi,” papar dia.

Irin pun mengingatkan camat dan kepala puskesmas selain fogging juga harus ada kegiatan aktif dari anggota Pemberantas Sarang Nyamuk (PSN).

“Kita harap dengan aktifnya fogging dan PSN bisa menurunkan jumlah penderita kalau bisa bebas DB,” tegas dia.

Namun data yang rilis Dinkes berbeda dengan jumlah pasien DB di seluruh RS se-Kabupaten Ponorogo. Jumlah pasien DB hingga kini mencapai 457 pasien dengan rincian RSUD dr Harjono sebanyak 179 pasien, RSU Aisyiyah 216 pasien, RSU Muhammadiyah 20 pasien pada tanggal 2 Januari dan RSU Darmayu ada 42 pasien dalam rentang waktu satu minggu.

Sementara jumlah pasien yang meninggal karena DB mencapai 7 orang. Dengan rincian Desa Wringinanom, Kecamatan Sambit sebanyak 1 orang dewasa, Desa Nglewang, Kecamatan Sambit sebanyak 1 orang dewasa, Desa/Kecamatan Bungkal sebanyak 1 orang dewasa, Desa Manuk, Kecamatan Siman sebanyak 1 orang dewasa, Desa Singkil, Kecamatan Balong sebanyak 1 orang dewasa dan 1 anak. Terbaru pegawai Dishub Ponorogo Toto Hermawanto (27).(kcm/ara/dtc/ziz)

Tag: