Invasi Cina

Tidak ada komentar 248 views
Invasi Cina,5 / 5 ( 1voting )

Oleh: Sri-Bintang Pamungkas

Ketika TNI bingung, karena banyak pemimpin dan seniornya yg keblinger oleh harta, promosi kepangkatan, jabatan dan rezim kekuasaan, pada saat yang sama Cina melakukan invasi. Cina adalah Cina. Sekalipun WNI, mereka pun Warga Cina Daratan. Biarpun sebagian dari mereka sudah setia kepada Indonesia, mau tidak mau Tuan Xi, Deng, Chou ataupun Mao menganggap mereka orangnya yang dari Daratan. Jokowi pun dianggapnya begitu…

Jadi, invasi Cina itu datang dari banyak arah… dalam dan luar Indonesia. Bahkan invasi Cina sudah dimulai sebelum ada Majapahit, langsung dari Daratan Cina. Berkali-kali mereka mencoba masuk Nusantara selalu dipukul mundur. Balatentara Tartar, gabungan Cina dengan Mongol, di jaman Kubilai Khan, sebanyak 30,000 pun dihancurkan oleh Raden Widjaja, di DAS Brantas dan sekitar Gresik, tempat mereka berlabuh. Dua Jenderal mereka terbunuh, dan satu lari… dan mati juga.

Semboyan “Balekno Wong Tartar” menggema, sehingga berdirilah kota Blitar. Anak-turun merekalah Cina-cina Keturunan yang sekarang menjadi Etnis Cina Indonesia. Maka tak heran kalau sebagian dari mereka berperilaku ganas, berjiwa perompak, tukang tipu dan suka menjajah…

Semangat Cina-cina Tartar untuk menguasai Pribumi Indonesia Asli tidak pernah mereda. Di jaman penjajahan Belanda, mereka bekerjasama dengan Belanda…  Juga dengan Jepang… Bermaksud mencegah Indonesia merdeka.

Soekarno-Hatta sudah berbaik-baik mengijinkan mereka menjadi WNI, tetapi mereka membalas dengan mendukung PKI dengan Peristiwa 65. Mereka masukkan senjata-senjata dari Daratan Cina untuk.membantu pemberontakan PKI.

Di jaman Soeharto Cina-cina bejiwa Tartar ini bermanis-manis dengan Rezim dan para Jenderal Militer dan Polisi. Dengan cara ini mereka mengadu-domba Rezim dengan Umat Islam Indonesia Asli… dan menguasai ekonomi, industri dan keuangan… serta tanah-tanah rakyat. Muncullah raksasa-raksasa Taipan yang menghisap darah Rakyat. Bangsa dan Negara… tanpa disadari atau disadari Rezim Soeharto.

Mereka pula yang mengajarkan korupsi, suap-menyuap dan segala macam tipu-tipuan dalam bisnis dan lain-lain. Para Pemimpin kita terlena, Negara dan perekonomian ada dalam keadaan kacau-balau. Sebagian besar Rakyat miskin, dan segelintir dari mereka yang kaya-raya dan menguasai tanah dan kekayaan sumberdaya alam.

Para pemimpin, Pejabat Tinggi Negara, TNI dan Polri, para Penjaga Kedaulatan dan Keamanan RI, pun sudah berada di tangan mereka… Termasuk para Jenderal dan yunior-yunior mereka. Berbagai aturan Ketatanegaraan dalam Konstitusi pun diubahnya sesuai dengan pikiran liberal, kapitalis dan individualis, demi keuntungan dan lancarnya langkah mereka menguasai NKRI.

Naiklah Jokowi menjadi Presiden RI. Dibukalah pintu masuk seluas-luasnya bagi para Cina Daratan untuk secepatnya menguasai Republik. Targetnya adalah 10 juta Cina Asing masuk ke NKRI sampai 2020. Sebagian dari mereka tentu sudah dimasukkan segera untuk memenangi Pilpres 2019… TNI dan Polri terlena, sebagian bingung, sebagian mendukung rezim dengan duit, pangkat dan jabatannya, sebagian lagi _plonga-plongo_…  Wakil Rakyat disuapinya agar pura-pura buta… Juga para Hakim dan Penguasa Hukum. Tapi masih ada sebagian lagi, juga rakyat Pribumi biasa, yang sadar, bahwa invasi Cina ini harus dihadapi dan dilawan…

Persiapan untuk invasi besar-besaran ini sungguh luar biasa. Kekacauan sosial diciptakan di mana-mana. Paham Komunis dan Anti Islam pun diinjeksikan ke dalam pikiran rakyat. PKI sudah tidak berbahaya lagi, katanya. Juga konflik di antara sesama Pribumi mulai dihembus-hembuskan. Suatu gerakan intelijen dan kontra intelijen mengawali sebuah penyerbuan sudah dilakukan.

Rakyat Pribumi dimiskinkan, sementara Utang Luar Negeri menggunung, khususnya dari Cina, dengan dalih demi pembangunan. Rezim pro-Cina ini dibantu sepenuhnya oleh Cina-cina Tartar yang sudah berubah wujud menjadi Etnis Cina Indonesia Mafia … untuk membedakan para Cina Indonesia yang nasionalis dan loyalis kepada NKRI. Gerakan merusak perekonomian rakyat pun sudah mulai bekerja untuk menimbulkan kepanikan di tengah-tengah masyarakat.

Jokowi dibantu pula oleh para pembantunya yang Cina sentris, dan para Menterinya yang berjiwa khianat, dengan menghancurkan perekonomian rakyat dan Nasional. Perusahaan-perusahaan Cina Asing sudah banyak berdiri begitu saja… dengan para pekerja asli Cina Daratan dan dengan upah berkali lipat. Matauang Yuan dari Cina pun sudah disiapkan dan dipakai menggantikan Rupiah. Cara-cara Yahudi Israel untuk menguasai Palestina benar-benar dicontoh dan dipakai.

Sementara itu arus masuknya Cina-cina Daratan semakin deras, baik resmi maupun tak resmi. Bahkan untuk menjadikan mereka WNI pun sudah disiapkan dengan aplikasi on-line lengkap dengan E-KTP-nya… langsung dari Beijing.

Para Mafia Asing ini sudah menyebar di berbagai wilayah Indonesia dan menguasai lahan-lahan di sana, dengan menyamar sebagai turis dan investor. Dari Kepulauan Riau, Sumatera Utara, Sumatera Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku Selatan, Papua Barat, Papua Selatan, Papua Timur, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali dan Nusatenggara Timur. Itulah Pusat-pusat Konsentrasi Cina-cina yang disiapkan untuk invasi besar-besaran. Senjata pun sudah diselundupkan masuk, termasuk senjata-senjata berat.

Tinggal satu komando, maka mereka sudah bisa bergerak di seluruh wilayah Indonesia di mulai dari Pusat-pusat Konsentrasi Cina-cina itu. Seorang Panglima, Jenderal TNI, bahkan menyatakan manakala komando ini diserukan, maka TNI dalam waktu tiga hari akan dilumat…

Tapi target pertama dalam invasi Cina ini adalah Jokowi menang Pilpres, terutama melalui manipulasi suara Cina-cina WNI Baru. Dengan kemenangan dua periode itu, penguasaan terhadap NKRI bisa berjalan mulus dan paripurna.

Oleh sebab itu, Rezim harus dijatuhkan segera sebelum Pilpres berlangsung, dengan cara apa pun. Barulah sesudah itu, segala bentuk penjajahan bisa dihentikan dan penjajah diusir… sekalipun hanya dengan Tentara Rakyat… dengan atau tanpa Jenderal-jenderal plonga-plongo…(*)