Internal Bergejolak, Kader Potensial PAN Jatim Dipindah Dapil Jelang Pileg 2019

SURABAYA (suarakawan.com) – Perpecahan ditubuh PAN Jatim makin mengemuka saja. Ini bisa dilihat dari kebijakan ketua DPW PAN Jatim yang terkesan ingin membuang kader kader yang tidak sejalan dengannya.

Beberapa kader potensial jadi dan incumbent ( kader yang masih duduk sebagai anggota dewan ) “dipaksa” untuk pindah dapil dan berjuang dari nol. padahal mereka sudah menanamkan investasi di dapilnya saat ini. Ironisnya dapil yang sudah “digarap” sang incumbent diserahkan pada kader yang belum pernah menyapa masyarakat di dapil tersebut.

Contohnya M Lutfi dan Aqib. Padahal mereka kader potensial dan memiliki jaringan luas. Tapi anehnya secara tiba-tiba oleh Ketua DPD PAN Jatim, Masfuk mereka dipindah di dapil Pasuruan yang sebelumnya selama bertahun tahun sudah berinvestasi suara di Surabaya dan Sidoarjo.

Begitu pula dengan Khusnul Aqib yang notabene Ketua DPC PAN Lamongan tiba-tiba mengundurkan diri dari pencalonan akibat dipindah dapil.

Kontan prilaku Masfuk ini menjadi rasan rasan internal partai, dan dinilai sebagai upaya “bersih bersih ” orang yang beda gerbong dengannya.

“Padahal di partai-partai lain mereka dipertahankan di tempatnya tersebut. Mestinya jika kader itu diangkat sebagai ketua disebuah wilayah pastinya ada sejumlah pertimbangan. Diantaranya perolehan suara dia diwilayah tersebut untuk perolehan suara partai,” tegas salah satu kader PAN yang menolak namanya ditulis.

Saat ini kata Kader tersebut, internal PAN lagi memanas. Dimana kubu Zulkifli Hasan ini lagi ‘bersih-bersih’ orangnya Hatta Radjasa. Tak heran mantan Bupati Bojonegoro, Suyoto itupun berpindah ke Nasdem.

Padahal disatu sisi Yoto memiliki basis masa yang besar sehingga PAN mendapatkan 5 kursi di DPRD Jatim. Tidak sampai itu saja, seharusnya Ketua PAN Jatim dipimpin pleh Kuswiyanto, tapi dengan arogansinya dan menggunakan para centeng akhirnya hasil Musda hampir satu tahun tersebut diklaim Masfuk cs sebagai pengurus PAN Jatim 2017-2022.

Kebijakan Masfuk dengan melakukan langkah “bersih bersih” ini dinilai Pengamat politik Airlangga Pribadi akan sangat merugikan partai. Ini karena yang bersangkutan yang sebelumnya caleg potensial yang bisa mendulang suara dalam pileg 2019 nanti, dengan sistem manajemen seperti ini justru akan merugikan karena akan mengurangi perolehan suara di wilayah tersebut.

Airlangga menegaskan jika saat ini kelemahan organisasi di partai politik adanya pertikaian diantara elit politik selalu berimbas hingga kebawah. Dimana para kader yang selama ini sangat dekat dengan para kader dan voter di suatu wilayah, gara-gara pertikaian tersebut terpaksa membangun kembali di dapil barunya. Dan ini sangat merugikan kader dan tentu terlebih partai itu sendiri.

“Karena untuk membangun sebuah jaringan tidaklah semudah membalik tangan. Perlu waktu bertahun-tahun. Karena itu menjelang pileg, parpol harus berpikir ulang untuk memindahkan kadernya yang potensial ke dapil dimana di tempat baru. Kalau ini dibiarkan tentunya akan merugikan parpol itu sendiri,” ungkap alumnus Unair ini.

Ditambahkannya, belum tentu penggantinya akan mendapatkan dukungan dari rakyat atau voters. Mengingat saat ini masyarakat tidak percaya dengan sejumlah janji, tanpa ada contoh secara riil di masyarakat. (aca/rur)