Dubes Perancis Sampaikan Duka Cita Atas Tragedi Bom di Surabaya dan Sidoarjo

SURABAYA (suarakawan.com) – Perancis menyampaikan duka yang mendalam, serta rasa solidaritas yang tinggi kepada seluruh elemen masyarakat di Jawa Timur atas aksi terorisme dan tragedi bom yang terjadi di Kota Surabaya dan Sidoarjo pada tanggal 13-14 Mei lalu.

Hal itu disampaikan Duta Besar Perancis untuk Indonesia, Jean Charles Berthonnet, saat menemui Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Akhmad Sukardi, di Ruang Kerja, Jl Pahlawan 110 Surabaya, Senin (28/5).

Dubes Jean mengatakan, tragedi tersebut merupakan kejadian yang kelam, yang lebih memprihatinkan, tragedi itu juga melibatkan keluarga dan anak-anak. Menurutnya, tragedi-tragedi seperti itu tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tapi juga terjadi di negaranya, tepatnya di Kota Paris.

“Ancaman terorisme adalah ancaman global terhadap negara-negara yang demokratis” katanya.

Atas kesamaan nasib dan untuk mencegah aksi terorisme terulang kembali, Dubes Jean menegaskan, pihaknya siap meningkatkan kerjasama di bidang anti terorisme. “Pada bulan September mendatang, kepolisian kami akan berkunjung kesini, untuk bertemu Kepolisian Indonesia” katanya.

Dalam pertemuan tersebut, lanjutnya, akan dibahas langkah-langkah mengantisipasi terorisme dan juga melakukan praktek-praktek deradikalisasi. “Ini menunjukkan bahwa kita tidak gentar melawan teroris, dan mari bersama-sama memberantas terorisme” katanya.

Dalam kesempatan ini, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Akhmad Sukardi, mengatakan, pihaknya memberi apresiasi terhadap ucapan duka, empati, dan rasa solidaritas dari masyarakat Perancis. Sekdaprov Sukardi juga menyambut baik tawaran Dubes Jean untuk kerjasama antiterorisme antara Kepolisian Indonesia dan Kepolisian Perancis.

“Terima kasih atas perhatian seluruh masyarakat Perancis, ternyata di Perancis juga terjadi aksi terorisme yang sama, terorisme adalah masalah global” katanya.

Menurutnya, kerjasama tersebut sejalan dengan sikap pemerintah, melalui Gubernur Jatim, Soekarwo, untuk memberantas terorisme, khususnya pasca terjadi aksi terorisme di Surabaya dan Sidoarjo pada tanggal 13-14 Mei lalu. Berbagai langkah telah dilakukan pemerintah untuk mencegah aksi serupa terjadi di provinsi ini.

Langkah-langkah tersebut, di antaranya pemerintah bersama Forkopimda Jatim melakukan deteksi dini dengan penguatan kerjasama tiga pilar di Jatim, yaitu kepala desa/kelurahan, babinkamtibmas, babinsa, yang didukung oleh seluruh komponen masyarakat, seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, rektor, dan BEM.

Sementara untuk korban aksi terorisme, pemerintah telah melakukan pendampingan korban melalui para psikolog. Selain itu, pemerintah juga telah bekerjasama dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk mencegah terulangnya keterlibatan anak dalam aksi terorisme.

“Jadi, jangan khawatir, Jatim relatif aman, jika ada pejabat atau investor Peranis akan dipastikan aman. Aksi terorisme kemarin itu baru sekali terjadi dalam sejarah di Jatim” pungkasnya.(prov/rur)