Dituding Tidak Inklusif, Berikut Jawaban Capres Prabowo Subianto

SURABAYA (Suarakawan.com) – Calon Presiden Prabowo Subianto menjawab sindiran sejumlah pihak yang menyebut dirinya tidak inklusif dalam kampanye terbuka. Dalam pidato kebangsaan Indonesia menang, Prabowo menegaskan bahwa dirinya mau bangun Indonesia dengan Pancasila. “Ada yang menuduh saya dan tim adalah tidak inklusif. Kita mau bangun pemerintahan selain pancasila, kita bangun khilafah,” ujar Prabowo di Gedung Dyandra Surabaya, Jumat (12/4).

Calon presiden nomor urut 02 tersebut mengaku tuduhan itu tidak tepat. Banyak tokoh agama lain yang memberikan dukungan kepadanya. Tidak hanya tokoh Agama Islam. Bahkan beberapa hari terakhir lalu, Prabowo menyebut telah menerima 300 pendeta Agama Prptestan. “Tim saya juga banyak yang Katolik, Budha, Hindu,” ungkapnya.

Prabowo menegaskan di Pilpres 2019 ini dirinya bersama Sandiaga Uno didukung koalisi Adil Makmur didukung oleh PAN, PKS, Partai Demokrat, Partai Gerindra, dan Partai Berkarya.

Selain itu, termasuk juga dukungan dari ijtima’ ulama. “Kita juga dapat dukungan dari kiai besar. Kita juga dapat dukungan dari habaib,” kata Prabowo.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengeluarkan pandangannya perihal kampanye akbar paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu 7 April 2019. “Menurut saya apa yang akan dilakukan dalam kampanye akbar di GBK tersebut tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif,” ujar SBY dalam surat yang ditujukan kepada tiga petinggi Partai Demokrat tersebut.

SBY melayangkan surat itu kepada pengurus teras partai seperrti Ketua Dewan Kehormatan, Amir Syamsudin, Wakil Ketua Umum, Syarief Hassan, dan Sekjen Hinca Panjaitan. Ia menegaskan partainya dalam setiap perjuangan tetap berpatokan pada kepentingan bangsa dan rasionalitas. Karenanya SBY sangat tidak setuju dengan konsep kampanye yang hanya mengakomodir golongan tertentu.

SBY berharap kampanye bisa mencerminkan ke-Indonesiaan. Bukan justru menonjolkan spuremasi golongan tertentu. Sebab, Indonesia dibangun atas beragam suku, bangsa, serta agama. Karenanya, dia menolak jika kampanye menonjolkan eksklusivitas golongan tertentu. (aca)