Disbudpar Jatim Kembangkan Wisata di Luar Malang

Tidak ada komentar 280 views

Pulau Merah

Surabaya (suarakawan.com) – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur mulai menjajaki wilayah Tapal Kuda seperti Jember, Bondowoso, Situbondo hingga Banyuwangi untuk dijadikan tempat wisata alternatif di luar Malang.

Kepala Disbudpar Jatim, Sinarto mengungkapkan upaya menjadikan wilayah Tapal Kuda sebagai destinasi wisata ini selaras dengan ide Gubernur Jatim, Soekarwo dan Gubernur Terpilih Khofifah . “Ini keinginan Pakde Karwo dan Bu Khofifah agar ada wisata baru di luar Malang,” tutur Sinarto.

Sinarto mengungkapkan, bahwa selama ini minat wisatawan mancanegara ke Tapal Kuda cukup tinggi karena karekteristik turis senang berkunjung ke wisata-wisata alam. Maka, Disbudpar akan mengembangkan tempat wisata yang ada di Tapal Kuda agar dapat dieksplorasi.

Hanya saja pengembangan wisatanya masih terkendala akses yang belum merata, sehingga wisatawan akan lebih tertarik jika pembangunan jalan tol tuntas. “Di sana wisata alamnya luar biasa, tapi kurang dieksplorasi. maka kita akan kembangkan,” katanya.

Selain keindahan alamnya, wilayah tersebut juga kaya budaya agraris, kuliner berbasis agraris dan memiliki sejarah yang bisa dieksplorasi.”Turis sekarang tidak sekadar senang melihat tempat wisata, tapi mereka juga senang yang bisa mencerdaskan,” tuturnya.

Masyarakat Jatim sudah memiliki kesadaran tinggi dalam mengelola potensi wisata di wilayahnya. Hingga akhir 2018 kemarin, ada 290 desa wisata yang mengelola aneka wisata hingga menarik kunjungan turis cukup signifikan. Di Jatim ada 265 objek wisata alam, 320 objek wisata budaya dan 199 objek wisata buatan yang tersebar di 38 kabupaten dan kota di Jatim.

Dana desa juga menjadikan warga antusiasme mengembangkan desa wisata. Maka Disbudpar akan melakukan pendampingan dan pelatihan secara aktif agar desa wisata menjadi beragam serta tidak saling sikut. Dengan begitu, Sinarto yakin pariwisata di Jatim akan mampu bersaing dengan wilayah lain. “Jangan sampai ikut-ikutan. Lagi tren apel, semuanya bikin desa wisata apel. Itu tidak efektif,” pungkasnya. (kjc/gus)