Diduga Sakit Jantung, KH R. Fuad Amin Imron Tutup Usia

56 views

SURABAYA (Suarakawan.com) – Mantan Bupati Bangkalan Madura, KH R. Fuad Amin Imron tutup usia pada Senin (16/9/2019) sekitar pukul 16.00 WIB di Graha Amerta, Rumah Sakit Umum dr. Soetomo, Surabaya saat menjalani perawatan atas penyakit komplikasi yang diderita.

“Iya benar, baru saja saya menerima telepon dari Pak Toni Naingolan (Kalapas Kelas 1 Surabaya di Porong), dia mendapat informasi dari petugas di RSU dr. Soetomo mengabarkan bahwa Pak Fuad Amin meninggal dunia,” ujar Kadiv Permasyarakatan Kemenkumham Jatim, Pargiyono saat dikonfirmasi Senin (16/9).

Kendati demikian Pargiyo belum mengetahui secara pasti Kiai Fuad Amin menderita penyakit apa. Informasi yang diterima, Faud Amin menderita penyakit jantung dan komplikasi. “Sebelumnya Fuad Amin sudah beberapa hari dirawat di RSUD Sidoarjo, kemudian dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo karena penyakitnya sudah mengkhawatirkan. Begitu informasinya,” beber Pargiyono.

Sementara itu, Humas RSU Dr. Soetomo Surabaya, Pesta Parulian membenarkan jika KH R Fuad Amin Imron meninggal dunia saat menjalani perawatan di Graha Amerta RSU Dr. Soetomo. Berdasarkan data, tokoh masyarakat Madura itu masuk RSU Dr. Soetomo sejak Sabtu (14/9/2019) lalu.

“Benar sudah meninggal dunia tadi sekitar jam 16.00 WIB. Tapi saya belum tahu pasti penyakit apa yang dideritanya, kata pihak rumah sakit gagal jantung,” jelas Pesta Parulian.

Sekedar mengingatkan mantan ketua DPRD Bangkalan itu terskena operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK pada Desember 2014 silam. Ia terbukti menerima suap terkait jual-beli gas alam, untuk pembangkit listrik di Gresik dan Gilir Timur Madura.

Penangkapan oknum yang diduga orang suruhan Fuad Amin dilakukan KPK sekitar pukul 11.30 WIB di area parkir gedung A yang terletak di Jalan Bangka Raya Jakarta Selatan. Saat diamankan, petugas KPK menemukan uang senilai Rp700 juta di dalam mobil.

Dalam pengembangan kasus, KPK akhirnya menetapkan Fuad sebagai tersangka penerima suap berdasarkan pasal 12 huruf a, pasal 12 huruf b, pasal 5 ayat (2) atau pasal 11 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) KUHP.

Pasal tersebut mengatur mengenai pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk melakukan atau tidak melakukan terkait jabatannya.

Atas dasar itulah Fuad divonis hukuman 6 tahun. Namun beliau mengajukan banding dan hukuman ditambah menjadi 13 tahun penjara. Dia dipenjara di Lapas Sukamiskin, Jawa Barat, sebelum akhirnya dipindahkan ke Lapas Kelas 1 Surabaya di Porong Sidoarjo akhir tahun lalu. (aca)

Posting Terkait