SuaraKawan.com
Terkini

Cemorokandang: Istana Warisan Ratu Kencono Wungu

Perumahan demi perubahan baru terus bermunculan di Kota Malang. Developer seolah berlomba-lomba menawarkan kawasan hunian terbaik dengan keunggulan lokasi, desain bangunan hingga harga bersaing.

Mulai dari area pusat kota hingga kawasan perbatasan, rasanya tak ada yang tak luput jadi jujugan pembangunan. Salah satunya wilayah Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang, di sisi timur yang berbatasan langsung dengan wilayah Pakis dan Tumpang, Kabupaten Malang.

Beberapa perumahan elit ada di sana, sebut saja Bukit Indah Permai, de’Cassablanca, Griya Sari Permata, Oma View dan tentunya Perumahan Villa Buring.

Siapa sangka, Cemorokandang punya kisah panjang yang tak lekang zaman. Dulunya, wilayah ini dikenal dengan nama Kebalon. Bahkan desa di kaki Gunung Buring ini sudah dikenal sebagai desa kuno.

Sempat disebut pula dalam kitab Pararaton dengan nama ‘Kabalan’.
Sebuah desa yang masyarakatnya mayoritas adalah petani dan pengrajin emas, selain didiami oleh orang sakti dan para pertapa.

Sempat disinggung pula dalam Pararaton bahwa emas kerajinan orang Kabalan adalah ‘pangawaking dharmmakancanasiddhi’ alias yang paling sempurna dan elok. Mpu Palot diceritakan pernah memerintahkan Ken Arok untuk belajar ke Kabalan, meski kemudian Raja pertama Singhasari itu malah bikin onar di sana.

Area taman Beringin Sentono di Villa Buring yang diperkirakan dulu area Istana Kabalan
Area taman Beringin Sentono di Villa Buring yang diperkirakan dulu area Istana Kabalan

Lokasi Kabalon terbilang stategis, karena berada pada daerah aliran sungai (DAS) Amprong yang subur untuk pertanian dan sekaligus dekat dengan Tugaran atau Tegaron yang menjadi pusat kota. Tugaran diperkirakan sekarang berada di Lesanpuro. Salah satu dari tiga desa purba yang menjadi jalur lintas utama kerajaan dan pusat kota lereng Gunung Kawi, selain Sekarpuro dan Ngadipuro (sekarang Madyopuro).
Karena kondisi itulah, lantas menjadi faktor internal untuk memilih Kabalon sebagai pusat pemerintahan (kadathuan) dari kerajaan vasal (nagari) Majapahit era pemerintahan Hayam Wuruk. Ada dua vasal Majapahit di kawasan timur Gunung Kawi (baca “Malangraya”), yaitu: (1) Nagari Kabalan, dan (2) Nagari Tumapel.

Pada medio abad XIV itu, Kabalon yang semula hanya merupakan desa pertanian dan sekaligus desa perajin berkembang signifikan menjadi pusat nagari, dengan sebutan “Nagari Kabalan”.

Puncuk pimpinan di nagari ini, yang berpangkat “bhattara”, karenanya dinamai dengan “Bhattara i Kabalan” atau disebut lebih singkat dengan  ‘Bhre Kabalan’.

Menurut Nagarakretagama (pupuh 7.4) untuk kali pertama Bhre Kabalan dijabat oleh Dyah Kusumawarddhani yang notabene adalah putri Hayam Wuruk dari Indudewi atau Padukasori.

Ada yang meyakini bahwa Kusumawarddhani juga dikenal dalam legenda sebagai Ratu Kencono Wungu alias istri Damar Wulan. Damar Wulan diyakini merupakan Wikramawardhana, sepupu sekaligus suami Kusumawarddhani yangmana mereka dinikahkan secara politik. Lalu kemudian keduanya memimpin Majapahit bersamaan sebagai dwitunggal raja kelima negeri peninggalan Raden Wijaya tersebut.

Sedangkan sosok Menak Jinggo yang identik dengan kisah Kencono Wungu merujuk pada sosok saudara tiri sang ratu, yakni Wirabhumi alias Bhre Blambangan. Sesama anak Hayam Wuruk, tapi lahir dari istri selir.
Penempatan Putri Mahkota (Kusumawarddhani) sebagai Bhattara di Kabalan terjadi tidak lama setelah tahun 1359 Masehi, atau pada awal tahun 1360-an.

Pada paro pertama abad XV, menurut keterangan dalam prasasti Waringinpitu (1447 M), Kabalan adalah satu diantara 12 nagari yang berada dibawah kekuasaan (vasal) Majapahit selain Tumapel, Dhaha, Jagaraga, Kahuripan, Tanjungpura, Pajang, Kembangjenar, Wengker, Kaling (Kalinggapura), Singhapura dan Matahun.

Area taman Beringin Sentono di Villa Buring yang diperkirakan dulu area Istana Kabalan
Area taman Beringin Sentono di Villa Buring yang diperkirakan dulu area Istana Kabalan

Jejak budaya masa lalu di Desa Cemorokandang berupa toponimi Beringin ‘Sentono’ yang oleh warga setempat digunakan untuk menamai bentang lahan berbangun bundar dengan permukaan tanah lebih tinggi dari muka tanah sekitarnya (sitinggil = sitlli inggil).

Secara etimoligis, kata “sentono” berasal dari “astana (istana)”, sehingga diyakini di situlah letak istana Nagari Kabalan. Apalagi jika menilik tempatnya di tanah tinggi atau sitinggil.

Bundaran beringin Sentono sendiri ada di persimpangan Jalan Bandara Kemayoran dan Kemayoran atas, masuk kawasan perumahan Villa Buring.

Kendati temuan arkeologis yang didapat di Kebalon dan sekitarnya belum seberapa banyak — lantaran belum pernah dilakukan ekskavasi arkeologis dan survei permukaan secara seksama, namun jejak arkeoligis dan toponimi “Kebalon” ataupun “Sentono” cukup memberi bukti bahwa tempat ini konon pernah dijadikan ajang kegiatan sosial-budaya masa lampau, yang sangat boleh jadi terkait dengan Thani Kabalon ataupun Nagari Kabalan.

Bhre Kabalan atau Ratu Kusumawarddhani dalam Nagara Kertagama seringkali disebut sebagai sosok yang jelita, cerdas, tangkas dan juga mahir berkesenian. Dia menjadikan wilayah negerinya sebagai pusat seni dan kebudayaan.

Hingga saat ini, seni tradisional masih mengakar di wilayah Cemorokandang. Mulai seni gamelan hingga bantengan dan jaran kepang. Adapun paguyuban seni bantengan dan kuda lumping di Buring Sentono masih eksis sampai dengan saat ini. (red)

Related posts

Polri Resmi Hentikan Penyidikan Kasus 6 Laskar FPI

Wong Nggalek

Jadi Ketum PB ISSI, Jenderal Sigit Janji Tingkatkan Prestasi Atlet Sepeda untuk Harumkan Indonesia

Wong Nggalek

Kapolda Jatim Cek Vaksinasi Pelajar SMAN 1 Gresik

Wong Nggalek