Bulog Bangun 2 Gudang Baru Senilai Rp 4,9 Miliar

Tidak ada komentar 515 views

Jakarta (Suarakawan.com) – Perum Bulog terus menambah kapasitas gudang miliknya, salah satunya dengan melakukan peremajaan. Kegiatan tersebut memakan biaya hingga Rp 4,9 miliar.

Gudang tersebut berada di komplek pergudangan Bumirejo, Pati, Jawa Tengah dengan kapasitas awal 3.500 ton. Kini setelah diremajakan kapasitas bertambah menjadi 5.500 ton. Peremajaan yang dilakukan dengan menambah bangunan gudang baru berkapasitas 2.000 ton di lahan yang sama seluas 1.500 ha.

Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso (Buwas) menjelaskan, dalam area gudang tersebut terdapat unit pengolahan, kantor gudang, laboratorium pemeriksaan kualitas, rumah dinas, mushola, toilet umum, hingga pos jaga.

“Gudang baru ini menghabiskan anggaran sebesar Rp 4,9 miliar dengan waktu pengerjaan selama 6 bulan,” kata Buwas, Selasa (5/3/2019).

Selain itu, Bulog juga membangun gudang baru di komplek Pergudangan Klahang, Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Gudang tersebut memiliki kapasitas mencapai 3.500 ton. Adapun, gudang dengan lebar 30 m, panjang 54 m, serta tinggi 7 m itu diprioritaskan untuk menampung kedelai.

Lebih lanjut Buwas mengungkapkan, peremajaan serta penambahan gudang tersebut dibangun sesuai dengan kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menjaga ketahanan pangan.

“Kedua gudang baru ini juga telah mempertimbangkan aspek strategis dan ekonomis. Lokasi komplek gudang yang dekat dengan lahan persawahan petani serta akses jalan, membuatnya makin mudah dijangkau oleh masyarakat,” katanya.

Dengan begitu, diharapkan Bulog mampu menyerap secara maksimal komoditas baik beras hingga kedelai ketika musim panen tiba.

“Saat musim panen berlangsung, gudang baru ini sudah dapat dimanfaatkan untuk menampung serapan pengadaan beras maupun kedelai secara maksimal,” tutup dia.

Sementara itu, Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog, Tri Wahyudi Saleh menambahkan, saat ini pihaknya masih menyewa beberapa gudang di daerah, khususnya sentra produksi. Sebab, Bulog sendiri belum memiliki gudang di daerah tersebut.

“Masih sewa terutama di daerah sentra produksi. Jadi memang di situ gudang kita jauh dan akhirnya untuk simpan kita mesti sewa,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan biaya yang dikeluarkan untuk menyewa gudang pun tergolong mahal. Alhasil, itu menjadi beban tambahan bagi keuangan Bulog.

Tri menjelaskan, gudang yang disewa rata-rata berukuran 1.000 hingga 1.500 meter persegi. Sedangkan biaya sewa mencapai Rp 50 ribu per meter persegi. Artinya, biaya yang perlu dirogoh oleh Bulog bisa mencapai Rp 75 juta untuk tiga sampai enam bulan.

“Untuk mengurangi beban risiko, kan lebih mahal sewa jadi bangun gudang,” tegasnya.(dtc/ziz)

Tag: